- Get link
- X
- Other Apps
Oleh: Ida Sofiana Putri
RUANG LINGKUP DAN CABANG-CABANG KAJIAN FILSAFAT
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan. Filsafat
yang berasal dari kata majemuk “Filos dan
Sophia”. Kata yang pertama berarti
cinta atau sahabat, yang kedua berarti pengetahuan bijaksana. Philosophia
berarti cintaakan penegtahuan yang benar atau kegandrungan akan pengetahuan
yang benar. Menurut Langeveld sebagaimana dikutip oleh M.Solly Lubis bahwa “Filsafat
terjadi jika orang mempertanyakan dan mengkaji sesuatu masalah atau mendalami
hakikat sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sistematik berarti
secara teratur dan tersusun sehingga merupakan pengertian yang sistematis dan
bahwa pendalaman mengenai hakikat sesuatu itu disertai pembuktian yang dapat
diterima akal dan tersusun berjalinan dan dapat dipertanggungjawabkan”. [1]
Ilmu adalah “rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis menegnai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, memperoleh pemahaman, memperoleh penjelasan ataupun melakukan penerapan”. Ilmu pengetahuan berasal dari “kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos), maupun alam kecil (micro cosmos)”. Manusia dibekali rasa ingin tahu,dan ini dapatterlihat sejak manusia masih kanak-kanak. Apa saja yang dilihat, dirasa dan didengar, manusia selalu memulai pertanyaan dengan apa dan mengapa. Ini terus berlanjut hingga ia beranjak dewasa. [2]
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Kedudukan
Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan ?
2. Bagaimana Ruang Lingkup kajian filsafat Meta Fisika, Ontologi, Epistemologi dan Ontologi Cabang-Cabang Filsafat Khusus.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kedudukan Filsafat dalam Ilmu
Pengetahuan
Filsafat
adalah induk dari ilmu pengetahuan (mater scientiarium) yang melahirkan banyak
ilmu pengetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah
dikaji dan diteliti didalamnya. Dalam hal metode dan obyek studinya, filsafat
berbeda dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan menyelidiki masalah dari satu
bidang khusus saja, dengan selalu menggunakan metode observasi dan eksperimen
dari fakta-fakta yang dapat diamati. Semntara filsafat berfikir sampai di
belakang fakta-fakta yang nampak.
Dalam
ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok.
Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia
dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. Memang lambat
laun beberapa ilmu-ilmu pengetahuan itu akan melepaskan diri dari filsafat akan
tetapi tidaklah berarti ilmu itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari
filsafat. Filafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk
dijadikan pegangan manusia.
Bisa
disimpulkan bahwailmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara
lain:
1. Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai
objek dan problem.
2. Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang
umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan
keadaan dari ilmu pengetahuan itu.
3. Disamping itu filsafat juga memberikan
dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.
4. Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu
mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan.
5. Filsafat juga memberikan metode atau
cara kepada setiap ilmu pengetahuan.[3]
B. Ruang Lingkup kajian filsafat Meta
Fisika, Ontologi, Epistemologi dan Ontologi Cabang-Cabang Filsafat Khusus.
Ruang
lingkup kajian filsafat ilmu meliputi beberapa komponen, yaitu:
1. Ontologi tentang Kenyataan Materi dan
Rohani
Didalam membahas ontologi seseorang akan berhadapan
dengan suatu permasalahan menerangkan hakikat dari segala yang ada ini. Dua jenis kenyataan yang harus
dihadapi oleh seseorang, “yaitu pertama”,
kenyataan yang berupa materi (kebendaan) yang disebut fisika. Dan kedua, kenyataan yang berupa rohani
(kejiwaan) yang disebut metafisika”.
Untuk menjembatani dua jenis kenyataan tersebut,
maka ontologi mempersoalkan “bagaimana hakikat dan hubungan antara dua macam
kenyataan tersebut, apakah dua macam kenyataan berlainan hakikatnya satu sama
lain ataukah merupakan satu hakikat yang merupakan dua kenyataan”.
Dari pembahasan-pembahasan tersebut kemudian muncul
empat jenis pendapat di dalam filsafat metafisika, yakni:
a. Aliran dualism (serba dua), “Berpendapat
bahwa alam terdiri atas dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat
materi dan hakikat rohani yang masing-masing bebas dan berdiri sendiri dan pada
umumnya seseorang tidaklah sulit untuk memahami aliran ini, karena kenyataan
lahir dapat segera ditangkap oleh pancaindra, sedangkan kenyataan batin tidak
dapat segera ditangkap oleh pancaindra padahal kenyataan batin dapat segera
diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup”.
b. Aliran materialisme, berpendapat “bahwa
yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya agar disebut
dengan jiwa atau roh bukanlah suatu kenyataan yang berdiri sendiri dan jiwa
atau roh menurut gerak kebendaan dengan salah satu cara tertentu”.
c. Aliran materialism, aliran ini
berkembang pesat pada abad XIX pada zaman Aufklarung
(pencerahan), karena orang tertarik pada prioritas rasionalitas
(kebijaksanaan akal) dan pentingnya pengelaman (empirisme), sehingga paham ini
“berpegang pada kenyataan-kenyataan yang mudah dimengerti dan teori-teorinya
berdasarkan pengetahuan yang sudah umum”.
d. Aliran idealisme (spiritualisme), yang
disebut juga dengan “aliran spiritualisme idealisme yang berpendapat bahwa
hakikat kenyataan yang beraneka warna ini semua berasal dari roh atau sejenis
dengan hal tersebut, yaitu sesuatu yang tidak mempunyai bentuk dan tidak
mempunyai ruang dan menurut pandangan aliran ini roh lebih berharga dan lebih
tinggi nilainya dari pada materi di dalam kehidupan manusia, roh dianggap
sebagai hakikat yang sebenarnya sehingga materi hanyalah badannya, bayangan
atau penjelmaan saja”.
e. Aliran ognostisisme yaitu “aliran yang
menyangkal dan mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti
yang dikehendaki oleh ilmu metafisika, baik hakikat materi maupun hakikat
rohani”.
2. Epistemologi tentang mencari ilmu
pengetahuan
Masalah epistemology berkaitan erat dengan
“pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan dan penekanannya pada bagaimana dan
dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan, bila kita mengetahui
tentang batas-batas pengetahuan, maka kita tidak akan mencoba mengetahui
hal-hal yang ada pada akhirnya tidak dapat diketahui.
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu
pengetahuan sebab paling sedikit ada enam komponen yang harus dipenuhi agar
sebuah pengetahuan dapat disebut “ilmu pengetahuan”, dan enam komponen ilmu
pengetahuan tersebut meliputi:
a. Masalah (problem)
b. Sikap (attitude)
c. Metode (method)
d. Kegiatan/aktivitas (activity)
e. Kesimpulan (conclusion)
f. Akibat (effects)
3. Aksiologi tentang hakikat nilai
Pada awalnya para filsuf hanya bersifat kontemplatif
terhadap alam, akan tetapi sudut pandang semacam itu tidak memberi keuntungan
demi kemajuan kepentingan manusia barang sedikitpun. Untuk mengetahui alam
secara sungguh-sungguh haruslah memberikan kepada manusia kemampuan untuk
campur tangan secara efektif di dalam alam dan menggulati proses-prosesnya demi
keuntungan manusia sehingga berarti bahwa mengetahui alam berarti
mengontrolnya.
Aksiologi ialah “ilmu pengetahuan yang menyelidiki
hakikat nilai-nilai. Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan
tiga macam cara.
a. Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif
(subjektivitas)
b. Nilai-nilai merupakan kenyataan dari
segi ontology, namun tidak terdapat dalam ruang waktu (objektivitas logis)
c. Nilai-nilai merupakan unsur-unsur
objektif yang menyusun kenyataan (objektivisme metafisik).[4]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan. Filsafat yang berasal dari kata majemuk “Filos dan Sophia”.
- Ilmu adalah “rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis menegnai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, memperoleh pemahaman, memperoleh penjelasan ataupun melakukan penerapan”.
-
Kedudukan
Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan
ilmu
pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara lain:
1. Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai
objek dan problem.
2. Filsafatjuga memberikan dasar-dasar yang
umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan
keadaan dari ilmu pengetahuan itu.
3. Disamping itu filsafat juga memberikan
dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.
4. Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu
mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan.
5. Filsafat juga memberikan metode atau
cara kepada setiap ilmu pengetahuan
-
Ruang
lingkup kajian filsafat ilmu meliputi beberapa komponen, yaitu:
1. Ontologi tentang Kenyataan Materi dan
Rohani
2. Epistemologi tentang mencari ilmu
pengetahuan
3. Aksiologi tentang hakikat nilai
DAFTAR PUSTAKA
Alfianca. Filsafat. Blogspot (online), https://www.google.com, Desember 29, 2014.Diakses pada tanggal
20 september 2020.
Jauhari, Imam. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA
[1] Iman Jauhari, “Filsafat Ilmu” (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA: 2020), hal 31
[2] Ibid.,hal 32
[3] Alvianica, “Filsafat”, Blogspot (online), https://www.google.com, Desember 29, 2014.
[4] Iman Jauhari, “Filsafat Ilmu” (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA: 2020), hal 41-46
Comments
Post a Comment