Quotes Instagram Astetik Trend 2022

RUANG LINGKUP DAN CABANG-CABANG KAJIAN FILSAFAT

 Oleh: Ida Sofiana Putri


RUANG LINGKUP DAN CABANG-CABANG KAJIAN FILSAFAT


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan. Filsafat yang berasal dari kata majemuk “Filos dan Sophia”. Kata yang pertama berarti cinta atau sahabat, yang kedua berarti pengetahuan bijaksana. Philosophia berarti cintaakan penegtahuan yang benar atau kegandrungan akan pengetahuan yang benar. Menurut Langeveld sebagaimana dikutip oleh M.Solly Lubis bahwa “Filsafat terjadi jika orang mempertanyakan dan mengkaji sesuatu masalah atau mendalami hakikat sesuatu secara sistematis, radikal dan universal. Sistematik berarti secara teratur dan tersusun sehingga merupakan pengertian yang sistematis dan bahwa pendalaman mengenai hakikat sesuatu itu disertai pembuktian yang dapat diterima akal dan tersusun berjalinan dan dapat dipertanggungjawabkan”.  [1]

Ilmu adalah “rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis menegnai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, memperoleh pemahaman, memperoleh penjelasan ataupun melakukan penerapan”. Ilmu pengetahuan berasal dari “kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos), maupun alam kecil (micro cosmos)”. Manusia dibekali rasa ingin tahu,dan ini dapatterlihat sejak manusia masih kanak-kanak. Apa saja yang dilihat, dirasa dan didengar, manusia selalu memulai pertanyaan dengan apa dan mengapa. Ini terus berlanjut hingga ia beranjak dewasa. [2]



 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan ?

2.      Bagaimana Ruang Lingkup kajian filsafat Meta Fisika, Ontologi, Epistemologi dan Ontologi Cabang-Cabang Filsafat Khusus.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN


A.    Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan

Filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan (mater scientiarium) yang melahirkan banyak ilmu pengetahuan yang membahas sesuai dengan apa yang telah dikaji dan diteliti didalamnya. Dalam hal metode dan obyek studinya, filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan menyelidiki masalah dari satu bidang khusus saja, dengan selalu menggunakan metode observasi dan eksperimen dari fakta-fakta yang dapat diamati. Semntara filsafat berfikir sampai di belakang fakta-fakta yang nampak.

Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal, atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuan. Memang lambat laun beberapa ilmu-ilmu pengetahuan itu akan melepaskan diri dari filsafat akan tetapi tidaklah berarti ilmu itu sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari filsafat. Filafat akan memberikan alternatif mana yang paling baik untuk dijadikan pegangan manusia.

Bisa disimpulkan bahwailmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara lain:

1.      Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai objek dan problem.

2.      Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan itu.

3.      Disamping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.

4.      Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan.

5.      Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu pengetahuan.[3]


B.     Ruang Lingkup kajian filsafat Meta Fisika, Ontologi, Epistemologi dan Ontologi Cabang-Cabang Filsafat Khusus.

Ruang lingkup kajian filsafat ilmu meliputi beberapa komponen, yaitu:

1.      Ontologi tentang Kenyataan Materi dan Rohani

Didalam membahas ontologi seseorang akan berhadapan dengan suatu permasalahan menerangkan hakikat dari segala  yang ada ini. Dua jenis kenyataan yang harus dihadapi oleh seseorang, “yaitu pertama”, kenyataan yang berupa materi (kebendaan) yang disebut fisika. Dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan) yang disebut metafisika”.

Untuk menjembatani dua jenis kenyataan tersebut, maka ontologi mempersoalkan “bagaimana hakikat dan hubungan antara dua macam kenyataan tersebut, apakah dua macam kenyataan berlainan hakikatnya satu sama lain ataukah merupakan satu hakikat yang merupakan dua kenyataan”.

Dari pembahasan-pembahasan tersebut kemudian muncul empat jenis pendapat di dalam filsafat metafisika, yakni:

a.       Aliran dualism (serba dua), “Berpendapat bahwa alam terdiri atas dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani yang masing-masing bebas dan berdiri sendiri dan pada umumnya seseorang tidaklah sulit untuk memahami aliran ini, karena kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh pancaindra, sedangkan kenyataan batin tidak dapat segera ditangkap oleh pancaindra padahal kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup”.

b.      Aliran materialisme, berpendapat “bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya agar disebut dengan jiwa atau roh bukanlah suatu kenyataan yang berdiri sendiri dan jiwa atau roh menurut gerak kebendaan dengan salah satu cara tertentu”.

c.       Aliran materialism, aliran ini berkembang pesat pada abad XIX pada zaman Aufklarung (pencerahan), karena orang tertarik pada prioritas rasionalitas (kebijaksanaan akal) dan pentingnya pengelaman (empirisme), sehingga paham ini “berpegang pada kenyataan-kenyataan yang mudah dimengerti dan teori-teorinya berdasarkan pengetahuan yang sudah umum”.

d.      Aliran idealisme (spiritualisme), yang disebut juga dengan “aliran spiritualisme idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan yang beraneka warna ini semua berasal dari roh atau sejenis dengan hal tersebut, yaitu sesuatu yang tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai ruang dan menurut pandangan aliran ini roh lebih berharga dan lebih tinggi nilainya dari pada materi di dalam kehidupan manusia, roh dianggap sebagai hakikat yang sebenarnya sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja”.

e.       Aliran ognostisisme yaitu “aliran yang menyangkal dan mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika, baik hakikat materi maupun hakikat rohani”.

2.      Epistemologi tentang mencari ilmu pengetahuan

Masalah epistemology berkaitan erat dengan “pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan dan penekanannya pada bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan, bila kita mengetahui tentang batas-batas pengetahuan, maka kita tidak akan mencoba mengetahui hal-hal yang ada pada akhirnya tidak dapat diketahui.

Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu pengetahuan sebab paling sedikit ada enam komponen yang harus dipenuhi agar sebuah pengetahuan dapat disebut “ilmu pengetahuan”, dan enam komponen ilmu pengetahuan tersebut meliputi:

a.       Masalah (problem)

b.      Sikap (attitude)

c.       Metode (method)

d.      Kegiatan/aktivitas (activity)

e.       Kesimpulan (conclusion)

f.       Akibat (effects)

 

3.      Aksiologi tentang hakikat nilai

Pada awalnya para filsuf hanya bersifat kontemplatif terhadap alam, akan tetapi sudut pandang semacam itu tidak memberi keuntungan demi kemajuan kepentingan manusia barang sedikitpun. Untuk mengetahui alam secara sungguh-sungguh haruslah memberikan kepada manusia kemampuan untuk campur tangan secara efektif di dalam alam dan menggulati proses-prosesnya demi keuntungan manusia sehingga berarti bahwa mengetahui alam berarti mengontrolnya.

Aksiologi ialah “ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai-nilai. Pertanyaan mengenai hakikat nilai dapat dijawab dengan tiga macam cara.

a.      Nilai sepenuhnya berhakikat subjektif (subjektivitas)

b.     Nilai-nilai merupakan kenyataan dari segi ontology, namun tidak terdapat dalam ruang waktu (objektivitas logis)

c. Nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan (objektivisme metafisik).[4]

 


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

-          Filsafat merupakan induk ilmu pengetahuan. Filsafat yang berasal dari kata majemuk “Filos dan Sophia”.

-      Ilmu adalah “rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah, sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis menegnai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, memperoleh pemahaman, memperoleh penjelasan ataupun melakukan penerapan”.

-          Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan

ilmu pengetahuan itu menerima dasarnya dari filsafat, antara lain:

1.      Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai objek dan problem.

2.  Filsafatjuga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan keadaan dari ilmu pengetahuan itu.

3.      Disamping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.

4.      Dasar yang diberikan oleh filsafat yaitu mengenai sifat-sifat ilmu dari semua ilmu pengetahuan.

5.      Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada setiap ilmu pengetahuan

-          Ruang lingkup kajian filsafat ilmu meliputi beberapa komponen, yaitu:

1.      Ontologi tentang Kenyataan Materi dan Rohani

2.      Epistemologi tentang mencari ilmu pengetahuan

3.      Aksiologi tentang hakikat nilai

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alfianca. Filsafat. Blogspot (online), https://www.google.com, Desember 29, 2014.Diakses pada tanggal 20 september 2020.

Jauhari, Imam. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA


[1] Iman Jauhari, “Filsafat Ilmu” (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA: 2020), hal 31

[2] Ibid.,hal 32

[3] Alvianica, “Filsafat”, Blogspot (online), https://www.google.com, Desember 29, 2014.

[4] Iman Jauhari, “Filsafat Ilmu” (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA: 2020), hal 41-46

 

Comments