- Get link
- X
- Other Apps
SEJARAH PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Oleh : Muflihah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai seorang guru yang selayaknya
mampu memahami perkembangan peserta didiknya, karena kita memahami hal
tersebut, guru mampu memberikan materi kepada peserta didiknya sesuai serta
dapat melihat proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik akan mudah
melihat sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan dengan perkembangan
anak didik. Selain itu,
sebagai
guru baik haruslah dapat mengarahkan sumber daya yang dimiliki oleh siswanya,
agar siswa tersebut mampu mengoptimalkannya di masa yang akan datang serta
siswa menapatkan rencana perencanaan kelanjutan dari jenjang pendidikan apa
yang akan ia tempuh selanjutnya untuk mencapai hasil optimalisasi potensinya.
Maka, semua guru dituntut menguasai
ilmu membimbing dan ilmu konseling, walaupun guru tersebut guru BP. Karena
Bimbingan dan Konseling diperlukan oleh guru untuk mengarahkan siswanya. Oleh
karena itu, saya selaku mahasiswa keguruan harus belajar tentang ilmu
ini.Sebelum belajar Bimbingan dan Konseling lebih jauh lagi, sebaiknya kita
terlebih dahulu tahu terlebih dahulu akan histori perkembangan Bimbingan dan
Konseling ini, khususnya perkembangan di Indonesia, baik itu tugas saya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah
1.
Sejarah
Munculnya Bimbingan Dan Konseling
2.
Bimbingan Dan
Konseling Di Indonesia
C. Tujuan
Adapun tujuan yang akan dibahas, antara lain yaitu:
1.
Untuk
Mengetahui Sejarah Munculnya Bimbingan Dan Konseling
2.
Untuk Menegtahui Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Konseling
1.
Sejarah dan latar belakang
Bimbingan dan Konseling Di Amerika
Serikat
Di Amerika awal sejarah Bimbingan
dimulai pada permulaan abad ke-20 dengan didirikannya suatu “Vocational Bureau” tahun 1908 oleh Frank Parsons, yang untuk selanjutnya
dikenal dengan nama “The Father of
Guidance” yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan
agar mereka dapat mengenal atau memahami berbagai kekuatan dan kelemahan yang
ada pada dirinya dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara inteligen dalam
memilih pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Awal perkembangan gerakan Bimbingan telah
dilengkapi dengan didirikannya organisasi profesi National Vocational Guidance Association (NVGA) tahun 1913.
2.
Kemunculan Bimbingan dan Konseling
Sekolah
Pekerjaan Jesse Davis, Eli Weaver,
Frank Parsons, dan sejumlah pelopor lain menciptakan momentum untuk pengembangan
suatu profesi Bimbingan dan Konseling
sekolah. Sepanjang tahun 1920, 1930, dan sampai tahun 1940, banyak peristiwa
yang terjadi yang memberi daya dorong, kejelasan, dan arah terhadap munculnya profesi
Bimbingan dan Konseling sekolah. Secara kebetulan, pengembangan profesi
konseling sekolah ini, berakar dengan
ditemukannya gerakan bimbingan vokasional, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang focus profesi yang sempit
hanya pada pengembangan vokasional.
·
Sebelum Perang Dunia II
Setelah
gerakan bimbingan vokasional di Perang Dunia I merupakan peristiwa utama yang
memberikan dampak pada perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Sepanjang
perang dunia pertama, militer AS mulai mengadakan pelatihan dalam prosedur
kelompok untuk menyaring dan menggolongkan orang yang wajib militer. Testing
Intelegensi, yang dikembangkan permulaan dekade, adalah katalisator untuk
gerakan ini. Tahun 1930 ditemukan teori Bimbingan dan Konseling yang pertama
yang disebut Teori Sifat dan Faktor (Trait
and Factor Theory), yang dikembangkan oleh E. G. Williamson di Universitas
Minnesota.
·
Perang Dunia II dan Pengaruh
Pemerintah
Ketika Amerika Serikat sedang memasuki Perang Dunia II, pemerintah meminta bantuan dari konselor dan psikolog untuk membantu menyaring, memilih, dan pelatihan spesialis militer dan industri. Contoh lain dari pengaruh pemerintah dalam profesi konseling adalah Undang-Undang George-Barden Act tahun 1946. Perundang-undangan ini memberikan dana untuk pengembangan dan mendukung aktivitas bimbingan dan konseling di sekolah.
B. Bimbingan dan Konseling Di Indonesia
Perkembanganbimbingan dan konseling sebelum kemerdekaan
Masa ini
merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa dididik untuk mengabdi
kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan.
Bangsa Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa Indonesia melalui
pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh KH Dewantara
yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang
bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan
bimbingan.
1. Dekade 40-an
Dalam
bidang pendidikan, pada dekade 40-an lebih banyak skala dengan perjuangan
merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba
darurat mkala pada saat itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah
besar anatara lain melalui pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila
dan UUD 45. Hal ini pula yang menjadi fokus utama dalam bimbingan pada saat
itu.
2. Dekade 50-an
Bidang
pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah
kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa
dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan
benar-benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat
berprestasi.
3. Dekade 60-an
Sejarah
lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia pada dekade ini diawali dari
dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada
pengaturan sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan
salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat
FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20-24 Agustus 1960.
Perkembangan
berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang menentukan jurusan dan
Penyuluhan. Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada dekade ini: Sebuah
Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar pendidikan nasional
b.
Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru
1964
c.Lahirnya
Kurikulum 1968
d.
Lahirnya bimbingan bimbingan dan konseling di IKIP tahun 1963
Keadaan di
atas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling
disekolah.
4. Dekade 70-an
Dalam
dekade perkembangan ini bimbingan dan konseling dapat terlihat dari rentetan
point berikut:
Dalam
dekade dekade ini, bimbingan di upayakan aktualisasi melalui penataan legalitas
sistem, dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan yang diarahkan pada masalah
utama pendidikan yaitu: Sebuah)Pemerataan kesempatan belajar,
b. Mutu,
c. Relevansi, dan
d. Efisiensi.
Pada
dekade ini, bimbingan dilakukan secara konseptual, maupun secara operasional.
Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan
dimana bimbingan dan konseling.
5.
Dekade 80-an
Pada
dekade ini, bimbingan ini diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama
diusahakan untuk menuju perwujudan bimbingan yang profesional. Dalam dekade
80-an pembangunan telah memasuki Repelita III, IV, dan V yang masuk ke dalam
menuju lepas landas.
Beberapa
upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
a. Sebuah Penyempurnaan kurikulum
b. Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
c.Profesionalisasi
tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat dan jenis
d. Penataan
perguruan tinggi
e. Pelaksnaan
wajib belajar
f. Pembukaan
universitas teruka
6.
Dekade 90-an
Sampai
tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas,
parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat
dengan BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang
bermasalah, kalau orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak
orang tua terpikir bahwa anaknya di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah.
Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan tentang Bimbingan dan Konseling di
sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu dijabarkan lebih lanjut melalui SK
Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya. Di SK Mendikbud ini istilah Bimbingan dan Penyuluhan diganti
menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan dilaksanakan oleh Guru
Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah
mulai jelas.
7.
Ahirnya Undang - Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan profesionalisasi layanan, keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas formal, pemantapan organisasi, pengmbangan konsep-konsep bimbingan yang berorientasi Indonesia, dsb.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan dan Konseling telah
terbentuk sebelum era kemerdekaan, dari bimbingan siswa dipupuk untuk mereal
cita-cita bangsa, yaitu kemerdekaan. Setelah kemerdekaan Bimbingan dan
Konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama.
Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada
Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan
sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962.
Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan Kurikulum
1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan
bimbingan karir didalamnya. Perkembangan BK lebih mantap pada tahun 2001.
B.
Saran
Makalah
yang membahas bimbingan dan koseling ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi
dalam pengajaran maupun dalam pembelajaran, sehingga dapat membantu
berlangsungnya belajar mengajar. Walaupun pembahasan yang kami buat belum
memenuhi kriteria akan tetapi sedikitnya bisa bermanfaat.
DAFTAR
PUSTAKA
Tiva Sejarah Bimbingan Konseling. Diakses di: http://tivachemchem.blogspot.com/2010/10/sejarah-bimbingan-konseling.html2010.
Bandura, A. (Ed.). Efikasi Diri dalam Mengubah Masyarakat. Cambridge, Inggris: Cambridge University Press. 1995- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment