- Get link
- X
- Other Apps
Kedudukan Alam Semesta Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam
Allah SWT sebagai pencipta (Khaliq) adalah pemilik kasih dan sayang untuk seluruh makhluk-Nya. Oleh sebab itu, alam semesta ini tercipta sebagai bukti dari kasih sayang Allah SWT untuk manusia. Apabila kita merenungi ayat yang berbunyi "Maaliki yaumiddiin", maka kita akan tersadarkan sepenuhnya bahwa semua yang ada alam semesta ini adalah hamba Allah yang secara mutlak harus tunduk pada hukum-hukum-Nya. Semua alam yang berjalan sesuai dengan hukum-Nya menjadi subjek sekaligus objek pendidikan dan pembelajaran. Bagaimana matahari konsisten untuk terbit dan terbenam sesuai dengan hukumnya, bagaimana api, air, angin, lautan, daratan, gunung-gunung, dan seterusnya, yang semuanya itu bergerak berjalan sesuai sunnatullah.
Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, alam semesta adalah guru bagi manusia. Kita semua wajib belajar dari sikap alam semesta yang tunduk pada hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah SWT. Tidak terbayangkan oleh kita semua apabila alam semesta berperilaku diluar hukum-hukum Allah. Matahari terbit dan turun ke bumi, bintang-bintang berjatuhan, lautan meluap, ombak menghantam dan bumi berhenti berputar. Dari fenomena tersebut pelajaran apa yang bisa kita diambil?
Alam semesta ini dapat dijadikan guru yang bijaksana, ombak di lautan yang dapat menjadi energi bagi peselancar, angin dimanfaatkan untuk terjun payung, air yang deras dapat dijadikan sebagai energi pembangkit listrik, begitu pula seterusnya yang dapat kita ambil sebagai bahan pelajaran bagi kehidupan manusia. Belajar dari alam semesta adalah tujuan hidup manusia dan secara filosofis, kedudukan alam semesta bagaikan guru dengan muridnya, bahkan alam semesta bagaikan literatur yang sangat luas dan kaya akan informasi yang aktual. Alam semesta memperlihatkan kepada Manusia yang berkeinginan untuk belajar sepanjang hidupnya.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Mulk ayat 3:
Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?"
Ayat diatas menegaskan bahwa ciptaan Allah yang sangat indah dan sempurna. Alam semesta ini dengan tujuh lapis langit dan planet-planet yang diciptakan dengan hukum yang pasti. Teori equilibrium atau keseimbangan telah berlaku pada semua alam ini.
Selanjutnya dipertegas lagi dalam surat Nuh ayat 15:
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?"
Adakah dari kita semua telah belajar tentang tujuh langit yang bertingkat-tingkat? sepantasnya kita sebagai muslim merasa malu, karena setiap hari membaca al-Qur'an, bisa jadi ayat tersebut sering kita baca, tetapi mengapa kita tidak pernah mengetahui rumus tentang keajegan planet, tentang langit yang berlapis-lapis, sebagaimana yang sering kita ucapakan bahwa "di atas langit masih ada langit". Betapa al-Qur'an menjadi sumber penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan alam yang secara filosofis, ayat-ayat tentang penciptaan langit merupakan hakikat dari pendidikan Islam tentang benda-benda angkasa raya.
Kedudukan alam semesta dalam perspektif pendidikan Islam adalah sebagai guru yang mengajar kepada manusia untuk bertindak sesuai dengan hukum-hukum yang telah digariskan Tuhan. Kemudian fungsi konkrit alam semesta adalah fungsi rubbubiyah yang dicitrakan Allah SWT kepada manusia sehingga alam ini akan marah apabila manusia bertindak serakah dan tidak bertanggungjawab bahkan merusaknya.
Manusia dapat mengambil pelajaran dari alam semesta ini. Manusia harus memanfaatkan akalnya untuk berpikir tentang pemberdayaan alam bagi manusia. Akal yang dimiliki manusia merupakan kecakapan untuk menciptakan alat-alat kerja bagi dirinya dan secara bebas mengubah-ubah pembuatan alat kerja tersebut. Akal timbul karena penyesuaian manusia. Dengan akalnya, manusia dapat menyesuaikan diri dengan dunia sekitarnya. Oleh karena itu, akal memiliki fungsi praktis. Itulah sebabnya akal tidak dapat menyelami hakikat yang sebenarnya dari segala kenyataan. Akal hanya sangat berguna bagi pemikiran ilmu fisika dan mekanika, akan tetapi akal tidak bisa berguna bagi penyelaman kedalam hakikat segala sesuatu.
Baca Juga:
Makalah Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Makalah Landasan Filosofis Pendidikan
Referensi:
Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 2017.
- Get link
- X
- Other Apps



Comments
Post a Comment