Quotes Instagram Astetik Trend 2022

MAKALAH RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU

 RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU

BAB I

PENDAHULUAN

A.A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mendengar istilah ilmu, namun banyak orang yang belum memahami dengan sesungguhnya bagaimana filsafat ilmu tersebut. Dalam makalah ini penyusun berusaha menjelaskan pengertian filsafat ilmu serta ruang lingkup dari filsafat ilmu tersebut. Banyak orang yang beranggapan bahwa berfilsafat adalah merenung, namun jika ditelaah apakah semua orang yang merenung berarti berfilsafat. Padahal berfilsafat merupakan kegiatan berfikir secara lebih luas mendalam dan objektif sehingga permasalahan yang ada dapat dipecahkan secara cepat dan tepat.

Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan deduktif dan induktif. Filsafat sebagai proses berpikir yabg sistematis dan radikal juga memiliki objek matreial dan objek formal.

B.B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana ilmu sebagai objek kajian filsafat?

2.      Bagaimana pengertian filsafat ilmu?

3.      Bagaimana tujuan filsafat ilmu?

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.A.     Ilmu sebagai Objek Kajian Filsafat

Pada dasarnya setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif. Filsafat sebagai berfikir yang sistimatis dan radikal juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada.

Segala yang ada mencakup ada yang tampak ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun, objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.[1]

Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang non empiris. Objek ilmu terkait dengan filsafat ada objek empiris. disamping itu, secara historis ilmu berasal dari kajian filsafat kaeran awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional, dan logis termasuk yang empiris. Setelah berjalan beberapa lama kajian terkait dengan hal yang empiris semankin bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah terbentuknya ilmu secara berkesinambungan.

Karena itu filsafat oleh para filosof disebut sebagai induk ilmu. Sebab, dari filsafatlah, ilmu-ilmu modern dan kontemporer bekembang. Sehingga manusia dapat menikmati ilmu sekaligus buahnya, yaitu teknologi. Awalnya, filsafat terbagi pada teoritis dan praktis. Filsafat teoritis mencakup metafisika, fisika, matematika, dan logika, sedangkan filsafat praktis adalah ekonomi, politik, hokum, dan etika. Setiap bidang ilmu ini kemudian berkembang dan menspesialisasi, seperti fisika berkembang menjadi biologi, biologi berkembang menjadi anatomi, kedokteran, dan kedokteranpun terspesialisasi menjadi beberapa bagian. Perkembangan ini dapat diibaratkan sebuah pohon dengan cabang dan ranting yang semakin lama semakin rindang.

Bahkan dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendir, yang juga mengalami spesialisasi. Dalam taraf penilaian ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah menjadi sektoral. Cotohnya, filsafat ilmu, filsafat hukum, dan ilum adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkontak dalam satu bidang tertentu. Filsafat ilmu yang sedang dibahas ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari tuntutan tersebut karena filsafat tidak dapat hanya berada pada laut lepas, tetapi diharuskan juga dapat membimbing ilmu. Disisi lain, perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja membuat ilmu semakin jauh dari induknya, tetapi juga mendorong munculnya arogansi dan bahkan kompartementalisasi yang tidak sehat antara satu bidang ilmu dengan yang lain. Tugas filsafat diantaraya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangan relevan untuk dikaji dan didalami.

Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati melalui pendekatan radikal, menyeleruh, dan rasional. Begitu juga dengan pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu dilihat dari posisi yang tidak mutlak, sehingga masih ada ruang untuk berspekulasi demi pengembangan ilmu itu sendiri.[2]

B.B.      Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu terdiri dari dua kata yakni “Filsafat” dan “Ilmu”. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yaitu alima yang berarti pengetahuan. Pemakaian kata ilmu dalam bahasa Indonesia merujuk pada kata science dalam bahasa inggris. Science sendiri berasal dari bahasa Latin: Scio, Scire yang artinya juga pengetahuan.

Ilmu adalah pengetahuan, namun ada berbagai macam pengetahuan, seperti: pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmu. Pengetahuan biasa adalah pengetahuan keseharian yang kita dapatkan dari berbagai sumber bebas dan belum tentu benar atau berdasarkan kenyataan. Sementara pengetahuan ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir disusun secara sistematis dan berdasarkan metodologi untuk berusaha mencapai suatu kesimpulan atau generalisasi.[3]

Secara etimologi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philos dan sophia yang berarti “cinta” dan “kebijaksanaan”. Sedangkan secara terminologi filsafat adalah merupakan ilmu yang berusaha mengungkap segala sesuatu dengan sedalam-dalamnya hingga mencapai kebenaran mutlak. Sebagaimana Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang hakiki.[4]

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mempertanyakan secara sistematis mengenai hakikat pengetahuan ilmu yang berhubungan dalam masalah-masalah filosofis dan fundamental yang terdapat pada ilmu untuk mencapai pengetahuan yang ilmiah.

Adapun pengertian filsafat ilmu menurut para ahli:

1.      Robert Ackerman

Filsafat ilmu dalam satu sisi adalah suatu tinjauan kritis mengenai pendapat-pendapat ilmiah, dewasa ini, melalui perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat tertentu, tetapi filsafat ilmu juga jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

2.      Lewis White Beck

Beck berpendapat bahwa filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran  ilmiah serta upaya untuk mencoba menemukan ilmu dan pentingnya upaya ilmiah ilmu secara keseluruhan.

3.      Cornelius Benjamin

Flsafat ilmu adalah cabang pengetahuan  filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu,   khususnya: metode, konsep dan praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.

4.      Michael V. Berry

Michael V. Berry berpendapat bahwa filsafat ilmu merupakan penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yaitu: metode ilmiah.

5.      Peter Caws

Caws mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah salah satu bagian filsafat yang mencoba berupaya dan melakukan pencarian terhadap ilmu.[5]

Dari beberapa definisi diatas dapat disederhanakan bahwa filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia.

 

C.C.     Tujuan Filsafat Ilmu

Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu maka filsafat ilmu sangat diperlukan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari keterbatasan diri dan tidak terperangkap ke dalam sikap oragansi intelektual. Hal yang lebih diperlukan adalah sikap keterbukaan kita,sehingga mereka dapat saling menyapa dan mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan bersama.[6] Adapun tujuan filsafat ilmu adalah:

1.      Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.

2.      Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehigga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.

3.      Menjadi pedoaman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.

4.      Mendorong para calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.

5.      Mempertegas dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.[7]

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.A.    Kesimpulan

Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati melalui pendekatan radikal, menyeleruh, dan rasional. Begitu juga dengan pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu dilihat dari posisi yang tidak mutlak, sehingga masih ada ruang untuk berspekulasi demi pengembangan ilmu itu sendiri.

Flsafat ilmu adalah cabang pengetahuan  filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu,   khususnya: metode, konsep dan praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.

Adapun tujuan filsafat ilmu adalah:

1.      Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.

2.      Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehigga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.

3.      Menjadi pedoaman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.

4.      Mendorong para calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.

5.      Mempertegas dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

https://biyot.wordpress.com/2014/04/23/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020.

https://balqisartikel.blogspot.com/2015/11/makalah-ruang-lingkup-filsafat-ilmu.html, diakses tanggal 29-09-2020.

https://serupa.id/filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020.



[3] https://serupa.id/filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020

[4] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 37.

[5] https://serupa.id/filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020.

Comments