- Get link
- X
- Other Apps
RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
BAB
I
PENDAHULUAN
A.A.
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita
selalu mendengar istilah ilmu, namun banyak orang yang belum memahami dengan
sesungguhnya bagaimana filsafat ilmu tersebut. Dalam makalah ini penyusun
berusaha menjelaskan pengertian filsafat ilmu serta ruang lingkup dari filsafat
ilmu tersebut. Banyak orang yang beranggapan bahwa berfilsafat adalah merenung,
namun jika ditelaah apakah semua orang yang merenung berarti berfilsafat.
Padahal berfilsafat merupakan kegiatan berfikir secara lebih luas mendalam dan
objektif sehingga permasalahan yang ada dapat dipecahkan secara cepat dan
tepat.
Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki
dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah
sesuatu yang dijadikan sasran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek
material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode untuk memahami
objek material tersebut, seperti pendekatan deduktif dan induktif. Filsafat
sebagai proses berpikir yabg sistematis dan radikal juga memiliki objek
matreial dan objek formal.
B.B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
ilmu sebagai objek kajian filsafat?
2.
Bagaimana
pengertian filsafat ilmu?
3.
Bagaimana
tujuan filsafat ilmu?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.A.
Ilmu
sebagai Objek Kajian Filsafat
Pada dasarnya setiap
ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek
material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh
manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode
untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan
deduktif. Filsafat sebagai berfikir yang sistimatis dan radikal juga memiliki
objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang
ada.
Segala yang ada mencakup
ada yang tampak ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris,
sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof
membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam
empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun, objek
formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional
tentang segala yang ada.[1]
Cakupan objek filsafat
lebih luas dibandingkan dengan ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris
saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang non empiris. Objek ilmu
terkait dengan filsafat ada objek empiris. disamping itu, secara historis ilmu
berasal dari kajian filsafat kaeran awalnya filsafatlah yang melakukan
pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional, dan logis
termasuk yang empiris. Setelah berjalan beberapa lama kajian terkait dengan hal
yang empiris semankin bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan
spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah terbentuknya ilmu
secara berkesinambungan.
Karena itu filsafat
oleh para filosof disebut sebagai induk ilmu. Sebab, dari filsafatlah,
ilmu-ilmu modern dan kontemporer bekembang. Sehingga manusia dapat menikmati
ilmu sekaligus buahnya, yaitu teknologi. Awalnya, filsafat terbagi pada
teoritis dan praktis. Filsafat teoritis mencakup metafisika, fisika,
matematika, dan logika, sedangkan filsafat praktis adalah ekonomi, politik,
hokum, dan etika. Setiap bidang ilmu ini kemudian berkembang dan menspesialisasi,
seperti fisika berkembang menjadi biologi, biologi berkembang menjadi anatomi,
kedokteran, dan kedokteranpun terspesialisasi menjadi beberapa bagian.
Perkembangan ini dapat diibaratkan sebuah pohon dengan cabang dan ranting yang
semakin lama semakin rindang.
Bahkan dalam
perkembangan berikutnya, filsafat tidak dipandang sebagai induk dan sumber
ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendir, yang juga mengalami
spesialisasi. Dalam taraf penilaian ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,
tetapi sudah menjadi sektoral. Cotohnya, filsafat ilmu, filsafat hukum, dan
ilum adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan
terkontak dalam satu bidang tertentu. Filsafat ilmu yang sedang dibahas ini
adalah bagian yang tak terpisahkan dari tuntutan tersebut karena filsafat tidak
dapat hanya berada pada laut lepas, tetapi diharuskan juga dapat membimbing
ilmu. Disisi lain, perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja membuat ilmu
semakin jauh dari induknya, tetapi juga mendorong munculnya arogansi dan bahkan
kompartementalisasi yang tidak sehat antara satu bidang ilmu dengan yang lain.
Tugas filsafat diantaraya adalah menyatukan visi keilmuan itu sendiri agar
tidak terjadi bentrokan antara berbagai kepentingan. Dalam konteks inilah
kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangan relevan untuk dikaji dan didalami.
Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat,
yaitu objek material yang didekati melalui pendekatan radikal, menyeleruh, dan
rasional. Begitu juga dengan pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutnya
merupakan bagian dari ilmu dilihat dari posisi yang tidak mutlak, sehingga
masih ada ruang untuk berspekulasi demi pengembangan ilmu itu sendiri.[2]
B.B.
Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu terdiri dari dua kata
yakni “Filsafat” dan “Ilmu”. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yaitu alima yang
berarti pengetahuan. Pemakaian kata ilmu dalam bahasa Indonesia merujuk pada
kata science dalam
bahasa inggris. Science sendiri berasal dari
bahasa Latin: Scio, Scire yang artinya juga pengetahuan.
Ilmu adalah pengetahuan, namun ada
berbagai macam pengetahuan, seperti: pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmu.
Pengetahuan biasa adalah pengetahuan keseharian yang kita dapatkan dari
berbagai sumber bebas dan belum tentu benar atau berdasarkan kenyataan.
Sementara pengetahuan ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir disusun secara sistematis dan berdasarkan
metodologi untuk berusaha mencapai suatu kesimpulan atau generalisasi.[3]
Secara
etimologi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philos dan sophia
yang berarti “cinta” dan “kebijaksanaan”. Sedangkan secara terminologi filsafat
adalah merupakan ilmu yang berusaha mengungkap segala sesuatu dengan
sedalam-dalamnya hingga mencapai kebenaran mutlak. Sebagaimana Plato berpendapat
bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan
tentang kebenaran yang hakiki.[4]
Filsafat
ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mempertanyakan secara
sistematis mengenai hakikat pengetahuan ilmu yang berhubungan dalam
masalah-masalah filosofis dan fundamental yang terdapat pada ilmu untuk
mencapai pengetahuan yang ilmiah.
Adapun
pengertian filsafat ilmu menurut para ahli:
1. Robert Ackerman
Filsafat ilmu dalam
satu sisi adalah suatu tinjauan kritis mengenai pendapat-pendapat ilmiah,
dewasa ini, melalui perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan
dari pendapat-pendapat tertentu, tetapi filsafat ilmu juga jelas bukan suatu
kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
2. Lewis White Beck
Beck berpendapat bahwa
filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah
serta upaya untuk mencoba menemukan ilmu dan pentingnya upaya ilmiah ilmu
secara keseluruhan.
3. Cornelius Benjamin
Flsafat ilmu adalah
cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai
ilmu, khususnya: metode, konsep dan praanggapannya, serta letaknya
dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
4. Michael V. Berry
Michael V. Berry
berpendapat bahwa filsafat ilmu merupakan penelaahan tentang logika interen
dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori,
yaitu: metode ilmiah.
5. Peter Caws
Caws mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah salah satu bagian filsafat
yang mencoba berupaya dan melakukan pencarian terhadap ilmu.[5]
Dari beberapa
definisi diatas dapat disederhanakan bahwa filsafat ilmu merupakan pemikiran
reflektif terhadap persoalan mengenai hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia.
C.C.
Tujuan Filsafat Ilmu
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai semakin
menajamnya spesialisasi ilmu maka filsafat ilmu sangat diperlukan. Sebab dengan
mempelajari filsafat ilmu, kita akan menyadari keterbatasan diri dan tidak
terperangkap ke dalam sikap oragansi intelektual. Hal yang lebih diperlukan
adalah sikap keterbukaan kita,sehingga mereka dapat saling menyapa dan
mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan
bersama.[6] Adapun tujuan
filsafat ilmu adalah:
1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat
memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai
bidang, sehigga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3. Menjadi pedoaman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di
perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non
ilmiah.
4. Mendorong para calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami
ilmu dan mengembangkannya.
5. Mempertegas dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak
ada pertentangan.[7]
BAB
III
PENUTUP
A.A.
Kesimpulan
Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya
mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati melalui pendekatan
radikal, menyeleruh, dan rasional. Begitu juga dengan pendekatan spekulatif
dalam filsafat sepatutnya merupakan bagian dari ilmu dilihat dari posisi yang
tidak mutlak, sehingga masih ada ruang untuk berspekulasi demi pengembangan
ilmu itu sendiri.
Flsafat ilmu adalah cabang pengetahuan filsafat
yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya: metode,
konsep dan praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang
pengetahuan intelektual.
Adapun tujuan filsafat ilmu adalah:
1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat
memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai
bidang, sehigga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara
historis.
3. Menjadi pedoaman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di
perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non
ilmiah.
4. Mendorong para calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami
ilmu dan mengembangkannya.
5. Mempertegas dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak
ada pertentangan.
DAFTAR PUSTAKA
Adib,
Mohammad. Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
https://biyot.wordpress.com/2014/04/23/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/, diakses tanggal
29-09-2020.
https://balqisartikel.blogspot.com/2015/11/makalah-ruang-lingkup-filsafat-ilmu.html, diakses tanggal
29-09-2020.
https://serupa.id/filsafat-ilmu/,
diakses tanggal 29-09-2020.
[1] https://biyot.wordpress.com/2014/04/23/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/, diakses tanggal
29-09-2020.
[2] https://biyot.wordpress.com/2014/04/23/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/, diakses tanggal
29-09-2020.
[3] https://serupa.id/filsafat-ilmu/, diakses
tanggal 29-09-2020
[4] Mohammad Adib,
Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu
Pengetahuan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 37.
[5] https://serupa.id/filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020.
[6]
https://balqisartikel.blogspot.com/2015/11/makalah-ruang-lingkup-filsafat-ilmu.html, diakses tanggal
29-09-2020.
[7] https://biyot.wordpress.com/2014/04/23/ruang-lingkup-filsafat-ilmu/, diakses tanggal 29-09-2020.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment