- Get link
- X
- Other Apps
CIRI DAN PERWUJUDAN PERILAKU BELAJAR
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagian orang memiliki anggapan bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan dan menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi
atau materi pelajaran. Orang yang berasumsi demikian, biasanya akan mudah/cepat
merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan
(verbal) sebagian besar apa yang didapat dari buku teks atau yang disampaikan
gurunya.[1]
Selain itu, ada juga sebagian orang yang memandang bahwa belajar
hanya sebatas pelatihan semata sepertia yang tampak pada pelatihan membaca dan
menulis. Orang yang beranggapan demikian, biasanya akan merasa cukup puas bila
anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan
tujuan dari keterampilan tersebut.[2]
Meskipun secara teoritis belajar dapat diartikan sebagai perubahan
tingkah laku, namun tidak semua perubahan tingkah laku organisme dapat dianggap
sudah belajar. Perubahan yang timbul karena adanya proses belajar, sudah tentu
memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas sebagai implementasi dari proses
belajar itu sendiri. Oleh karena itu, penyusun akan membahas mengenai ciri-ciri
dan perwujudan perilaku belajar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
definisi belajar?
2.
Hal
apa saja yang menjadi ciri khas perilaku belajar?
3.
Bagaimana
perwujudan perilaku belajar?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Belajar
Belajar merupakan sebuah usaha memperoleh pengetahuan.[3] Witherington
berpendapat bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi di dalam diri
manusia sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kebiasaan,
kecakapan, sikap, dan pengetahuan”.[4] Sementara
menurut Galloway “belajar adalah suatu proses internal yang mencakup ingatan,
retensi, pengolahan informasi, emosi, dan hal lain berdasarkan pengalaman
sebelumnya”.[5]
Secara kuantitatif, belajar dapat diartikan sebuah kegiatan
pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya.
Jadi dalam hal ini belajar dipandang dari sudut banyaknya materi yang
diperoleh/dikuasai siswa.[6] Sehingga
seseorang bisa dikatakan belajar apabila ia mampu menguasai/menyampaikan
kembali apa yang telah diperoleh atau dipelajari. Sementara, secara kualitatif
belajar merupakan proses memeroleh arti-arti dan pemehaman-pemahaman serta
cara-cara menafsirkan dunia di sekitarnya (siswa). Pengertian belajar dalam hal
ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk
memecahkan masalah-masalah baik yang sedang dialami maupun yang akan dialami.
Sedangkan secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar
dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa
atas materi-materi yang telah ia pelajari. Dalam pengertian ini, siswa
dikatakan telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Tolak ukurnya
adalah semakin baik mutu guru mengajar, akan semakin baik pula mutu perolehan
siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.[7]
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan baik dari segi
pemahaman/pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
B.
Ciri
Khas Perilaku Belajar
Setiap perilaku belajar mesti selalu ditandai oleh ciri-ciri
perubahan yang spesifik yang menunjukkan bahwa seseorang bisa dianggap telah
belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku
belajar, yakni:
1.
Perubahan
Intensional
Perubahan
yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang
dilakukan secara sengaja dan disadari dengan kata lain bukan secara kebetulan. Karakteristik
ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang sedang
dialami atau setidaknya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya seperti
penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan terhadap sesuatu,
keterampilan dan seterusnya. Dalam hal ini, perubahan yang disebabkan mabuk,
gila, dan lelah tidak termasuk dalam karakteristik belajar.
2.
Perubahan
Positif dan Aktif
Perubahan
yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya
baik, bermanfaat, serta sesuai harapan dalam artian perubahan tersebut
merupakan penambahan atau perolehan sesuatu yang baru yang lebih baik dari pada
sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud perubahan aktif adalah tidak terjadi dengan
sendirinya seperti proses kematangan, melainkan karena usaha dari individu atau
siswa itu sendiri.
3.
Perubahan
Efektif dan Fungsional
Perubahan
yang timbul karena proses bersifat efektif, yakni yang berhasil guna. Artinya,
perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi individu
atau siswa. Sedangkan perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat
yang luas misalnya seorang siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Oleh karena
itu perubahan efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong
timbulnya perubahan-perubahan positif lainnya.[8]
C.
Perwujudan
Perilaku Belajar
Dalam memahami arti belajar dan esensi perubahan karena belajar,
para ahli sependapat bahwa sekurang-kurangnya terdapat titik temu di antara
mereka mengenai hal-hal yang prinsipal. Namun, mengenai apa yang dipelajari
siswa dan bagaimana perwujudannya, masih menjad teka-teki yang sering
menibulkan perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara mereka.
Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar yang lebih sering
tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:
1.
Kebiasaan
Setiap siswa yang telah mengalami
proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah. Dalam proses
belajar, pembiasaan meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan.
2.
Keterampilan
Keterampilan adalah kemampuan
melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi, mulus dan
sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.
3.
Pengamatan
Pengamatan dapat diartikan proses
menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui
indera-indera seperti mata dan telinga. Dengan pengalaman belajar, seorang
siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar-benar objektif sebelum mencapai
pengertian.
4.
Berpikir
asosiatif
Berpikir asosiatif adalah berpikir
dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya yakni pembentukan hubungan
antara rangsangan dengan respon. Dalam hal ini yang perlu dicatat bahwa
kemampuan siswa untuk melakukan hubunga asosiatif yang benar sangat dipengaruhi
oleh tingkat pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Selain itu daya
ingat juga merupakan perwujudan belajar, sebab daya ingat merupakan unsur pokok
dalam berpikir asosiatif.
5.
Berpikir
rasional dan kritis
Berpikir rasional dan kritis
merupakan perwujudan perilaku belajar yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Pada
umumnya siswa yang berpikir kritis akan menggunakan prinsip-prinsip dan
dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”.
6.
Sikap
Sikap adalah kecenderungan yang
relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang lain
atau barang tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan
ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah
kearah yang lebih maju/baik terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan
sebagainya.
7.
Inhibisi
Inhibisi adalah upaya pengurangan
atau pencegahan timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon
lain yang sedang berlangsung. Yang dimaksud inhibisi dalam belajar adalah
kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu
dan lebih memilih tindakan yang lebih baik ketika berinteraksi dengan
lingkungannya.
8.
Apresiasi
Secara sederhana, apresiasi dapat
diartikan sebagai suatu pertimbangan mengenai arti penting atau nilai sesuatu. Dalam
penerapannya, apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian
terhadap benda-benda baik abstrak maupun konkrit. Dalam hal ini tingkat
apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada
tingkat pengalaman belajarnya.
9.
Tingkah
laku efektif
Tingkah laku efektif adalah tingkah
laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti; takut, marah, sedih,
gembira, kecewa, senang, benci, dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak
terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Oleh karena itu, tingkah laku
efektif dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.[9]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar
merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif
dengan lingkungan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan baik dari segi
pemahaman/pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Adapun ciri khas perilaku belajar ditandai dengan; 1) perubahan
intensional, 2) perubahan positif dan aktif, dan 3) perubahan efektif dan
fungsional.
Sedangkan perwujudan perilaku belajar akan tampak dalam
perubahan-perubahan sebagai berikut; 1) kebiasaan, 2) keterampilan, 3)
pengamatan, 4) berpikir asosiatif dan daya ingat, 5) berpikir rasional, 6) sikap,
7) inhibisi, 8) apresiasi, dan 9) tingkah laku efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayatullah. Media Pembelajaran PAI. Jakarta: Thariqi
Press, 2010.
KBBI V.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017.
Thobroni , Muhammad dan Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran;
Pengembangan Wacana dan Praktik dalam Pembangunan Nasional. Jakarta:
Ar-Ruzz Media, 2013.
[1] Muhibbin Syah,
Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2017), 87-88.
[2] Ibid.
[3] KBBI V
[4] Muhammad Thobroni
dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran; Pengembangan Wacana dan Praktik
dalam Pembangunan Nasional (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 19-20.
[5] Hidayatullah, Media
Pembelajaran PAI (Jakarta: Thariqi Press, 2010), 2.
[6] Syah, Psikologi
Pendidikan., 90.
[7] Ibid.
[8] Ibid.,
115-116.
[9] Ibid., 116-119.
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment