Quotes Instagram Astetik Trend 2022

Makalah Ciri dan Perwujudan Perilaku Belajar

CIRI DAN PERWUJUDAN PERILAKU BELAJAR

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sebagian orang memiliki anggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan dan menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang berasumsi demikian, biasanya akan mudah/cepat merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar apa yang didapat dari buku teks atau yang disampaikan gurunya.[1]

Selain itu, ada juga sebagian orang yang memandang bahwa belajar hanya sebatas pelatihan semata sepertia yang tampak pada pelatihan membaca dan menulis. Orang yang beranggapan demikian, biasanya akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun  tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan dari keterampilan tersebut.[2]

Meskipun secara teoritis belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku, namun tidak semua perubahan tingkah laku organisme dapat dianggap sudah belajar. Perubahan yang timbul karena adanya proses belajar, sudah tentu memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas sebagai implementasi dari proses belajar itu sendiri. Oleh karena itu, penyusun akan membahas mengenai ciri-ciri dan perwujudan perilaku belajar.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana definisi belajar?

2.      Hal apa saja yang menjadi ciri khas perilaku belajar?

3.      Bagaimana perwujudan perilaku belajar?


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Belajar

Belajar merupakan sebuah usaha memperoleh pengetahuan.[3] Witherington berpendapat bahwa “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi di dalam diri manusia sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kebiasaan, kecakapan, sikap, dan pengetahuan”.[4] Sementara menurut Galloway “belajar adalah suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan hal lain berdasarkan pengalaman sebelumnya”.[5]

Secara kuantitatif, belajar dapat diartikan sebuah kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi dalam hal ini belajar dipandang dari sudut banyaknya materi yang diperoleh/dikuasai siswa.[6] Sehingga seseorang bisa dikatakan belajar apabila ia mampu menguasai/menyampaikan kembali apa yang telah diperoleh atau dipelajari. Sementara, secara kualitatif belajar merupakan proses memeroleh arti-arti dan pemehaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekitarnya (siswa). Pengertian belajar dalam hal ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah baik yang sedang dialami maupun yang akan dialami.

Sedangkan secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Dalam pengertian ini, siswa dikatakan telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Tolak ukurnya adalah semakin baik mutu guru mengajar, akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.[7]  

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan baik dari segi pemahaman/pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

B.     Ciri Khas Perilaku Belajar

Setiap perilaku belajar mesti selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik yang menunjukkan bahwa seseorang bisa dianggap telah belajar. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar, yakni:

1.      Perubahan Intensional

Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan secara sengaja dan disadari dengan kata lain bukan secara kebetulan. Karakteristik ini mengandung konotasi bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang sedang dialami atau setidaknya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan terhadap sesuatu, keterampilan dan seterusnya. Dalam hal ini, perubahan yang disebabkan mabuk, gila, dan lelah tidak termasuk dalam karakteristik belajar.

2.      Perubahan Positif dan Aktif

Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai harapan dalam artian perubahan tersebut merupakan penambahan atau perolehan sesuatu yang baru yang lebih baik dari pada sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud perubahan aktif adalah tidak terjadi dengan sendirinya seperti proses kematangan, melainkan karena usaha dari individu atau siswa itu sendiri.

3.      Perubahan Efektif dan Fungsional

Perubahan yang timbul karena proses bersifat efektif, yakni yang berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi individu atau siswa. Sedangkan perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas misalnya seorang siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu perubahan efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif lainnya.[8]

C.     Perwujudan Perilaku Belajar

Dalam memahami arti belajar dan esensi perubahan karena belajar, para ahli sependapat bahwa sekurang-kurangnya terdapat titik temu di antara mereka mengenai hal-hal yang prinsipal. Namun, mengenai apa yang dipelajari siswa dan bagaimana perwujudannya, masih menjad teka-teki yang sering menibulkan perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara mereka.


Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar yang lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:

1.      Kebiasaan

Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya akan tampak berubah. Dalam proses belajar, pembiasaan meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlukan.

2.      Keterampilan

Keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi, mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.

3.      Pengamatan

Pengamatan dapat diartikan proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera seperti mata dan telinga. Dengan pengalaman belajar, seorang siswa akan mampu mencapai pengamatan yang benar-benar objektif sebelum mencapai pengertian.

4.      Berpikir asosiatif

Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya yakni pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon. Dalam hal ini yang perlu dicatat bahwa kemampuan siswa untuk melakukan hubunga asosiatif yang benar sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Selain itu daya ingat juga merupakan perwujudan belajar, sebab daya ingat merupakan unsur pokok dalam berpikir asosiatif.

5.      Berpikir rasional dan kritis

Berpikir rasional dan kritis merupakan perwujudan perilaku belajar yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir kritis akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”.

6.      Sikap

Sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang lain atau barang tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah kearah yang lebih maju/baik terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.

7.      Inhibisi

Inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang berlangsung. Yang dimaksud inhibisi dalam belajar adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu dan lebih memilih tindakan yang lebih baik ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

8.      Apresiasi

Secara sederhana, apresiasi dapat diartikan sebagai suatu pertimbangan mengenai arti penting atau nilai sesuatu. Dalam penerapannya, apresiasi sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda baik abstrak maupun konkrit. Dalam hal ini tingkat apresiasi seorang siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya.

9.      Tingkah laku efektif

Tingkah laku efektif adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti; takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang, benci, dan sebagainya. Tingkah laku seperti ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar. Oleh karena itu, tingkah laku efektif dianggap sebagai perwujudan perilaku belajar.[9]


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan sehingga menghasilkan perubahan-perubahan baik dari segi pemahaman/pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Adapun ciri khas perilaku belajar ditandai dengan; 1) perubahan intensional, 2) perubahan positif dan aktif, dan 3) perubahan efektif dan fungsional.

Sedangkan perwujudan perilaku belajar akan tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut; 1) kebiasaan, 2) keterampilan, 3) pengamatan, 4) berpikir asosiatif dan daya ingat, 5) berpikir rasional, 6) sikap, 7) inhibisi, 8) apresiasi, dan 9) tingkah laku efektif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hidayatullah. Media Pembelajaran PAI. Jakarta: Thariqi Press, 2010.

KBBI V.

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017.

Thobroni , Muhammad dan Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran; Pengembangan Wacana dan Praktik dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.

 



[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), 87-88.

[2] Ibid.

[3] KBBI V

[4] Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran; Pengembangan Wacana dan Praktik dalam Pembangunan Nasional (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 19-20.

[5] Hidayatullah, Media Pembelajaran PAI (Jakarta: Thariqi Press, 2010), 2.

[6] Syah, Psikologi Pendidikan., 90.

[7] Ibid.

[8] Ibid., 115-116.

[9] Ibid., 116-119.

Comments