- Get link
- X
- Other Apps
AGAMA SEBAGAI LANDASAN DALAM MELAKSANAKAN PSIKOTERAPI DAN BIMBINGAN KONSELING
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara harfiah, psikoterapi berasal dari kata psyco berarti
jiwa, dan therapy berarti penyembuhan. Psikoterapi dengan demikian dapat
diartikan sebagai penyembuhan jiwa. Psikoterapi (psychotherapy) adalah
pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan
psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang
bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan
cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut
mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.
Secara umum, psikoterapi berguna untuk membantu penderita dalam
memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan
penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih cerah, membantu
penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan membantu penderita menentukan
langkah-langkah praktis dan pelaksanaan pengobatannya. Dalam hubungan dengan
agama (Islam), psikoterapi adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu
penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan
berdasarkan al-Qur’an dan as- Sunnah Nabi Saw.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
definisi psikoterapi?
2.
Apa
tujuan dari psikoterapi?
3.
Bagaimana
bentuk-bentuk psikoterapi?
4.
Bagaimana
peran agama sebagai landasan dalam melaksanakan psikoterapi dan bimbingan
konseling?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Psikoterapi
Psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan
dengan pikiran, perasaan dan perilaku.
Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang
artinya jiwa, pikiran atau
mental dan
“Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh
karena itu, psikoterapi disebut juga
dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.[1]
Psikoterapi adalah proses yang digunakan profesional dibidang
kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan, dan mengatasi
kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan
penyesuaian diri mereka.[2]
Psikoterapi juga merupakan perawatan dan penyembuhan gangguan jiwa dengan cara
psikologis. Istilah tersebut mencakup berbagai teknik yang kesemuanya
dimaksudkan membantu individu yang emosinya terganggu untuk mengubah perilaku
dan perasaannya, sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang bermanfaat dalam
menghadapi orang lain.[3]
Frank mendefinisikan Psikoterapi sebagai interaksi terencana antara
seorang yang terlatih dan memiliki kewenangan social untuk melakukan terapi,
dengan seorang yang menderita dengan tujuan untuk meringankan penderitaan si
penderita melalui komunikasi simbolis kususnya kata kata maupun aktivitas
fisik.[4]
Psikoterapi (psychotherapy)
adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode
psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan
untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses
reedukasi (pendidikan kembali), sehingga individu
tersebut mampu mengembangkan dirinya
dalam mengatasi masalah psikisnya.
B.
Tujuan Psikoterapi
Adapun
tujuan dari psikoterapi adalah sebagai berikut:
1. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik, membuat sesuatu yang tidak sadar
menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap
kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari
konflik-konflik yang lama.
2. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi, membuat sesuatu yang tidak sadar
menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali
pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang
ditekan melalui pemahaman intelektual.
3. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, untuk memberikan
jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara
wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan
mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang
unik.
4. Tujuan
psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi, untuk memberikan suasana
aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa
mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek
pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.
5. Tujuan
psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, untuk menghilangkan kesalahan
dalam belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa
menyesuaikan.[5]
C.
Bentuk-bentuk Psikoterapi dalam Agama (Islam)
Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan
semua aspek psikopatologi, baik yang
bersifat duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi hati itu ada lima macam:
1.
Membaca Al-Qur‟an
Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab didalamnya memuat
resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyaikit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat
tergantung seberapa jauh tingkat
sugesti keimanan pasien.[6]
![]() |
Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan
Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al Isra‟:82).[7]
Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua pendapat
dalam memahami term syifa‟ dalam ayat tersebut. Pertama, terapi
bagi jiwa
yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, serta dapat
menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua, terapi yang dapat menyembuhkan penyakit
fisik, baik dalam bentuk azimat
maupun tangkal. Sementara
Al-Thabathaba‟i mengemukakan bahwa syifa‟ dalam Al-Qur‟an memiliki makna “terapi ruhaniah” yang
dapat menyembuhkan penyakit batin. Al-Thabathaba‟I jiga mengemukakan bahwa al-Quran juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui
bacaan atau tulisan.[8]
2.
Shalat Tahajjud
Tahajjud berarti meninggalkan tidur, sedangkan yang dimaksud shalat
tahajjud adalah shalat yang dikerjakan malam hari, utamanya setelah bangun
tidur. Shalat tahajjud memiliki banyak hikmah. Diantaranya adalah:
a.
Setelah
melakukan ibadah tambahan (nafilah), baik dengan shalat maupun membaca
al-Quran, maka dirinya mendapatkan kedudukan terpuji dihadapan Allah SWT.
b.
Memiliki
kepribadian sebagaimana kepribadian orang-orang salih yang selalu dekat (taqqarub) kepada Allah SWT, terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar
c.
Jiwanya
selalu hidup sehingga mudah
mendapatkan ilmu dan ketenteraman,
bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga
baginya.
d.
Doanya
diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan diberi rizki
yang halal dan lapang tanpa susah
payah mencarinya.
e.
Sebagai
ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan tahajjud
walaupun tumit kakinya bengkak.[9]
3.
Melakukan puasa.
Puasa juga mampu
menumbuhkan efek emosional yang
positif, seperti menyadari akan kemaha kuasaan Allah SWT, menumbuhkan solidaritas dan kepedulian
terhadap orang lain, serta menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya untuk
aktualisasi diri sebaik mungkin.[10]
4.
Zikir
Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah
dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan
dan kasih saying Allah SWT yang telah diberikan, serta dengan menaati
perintahnya dan menjauhi larangannya. Dua makna yang terkandung dalam lafal
zikir menurut At-Thabathabai:
a.
Kegiatan
psikologis yang memungkinkan seseorang memelihara makna sesuatu yang diyakini
berdasarkan pengetahuannya atau ia berusaha hadir padanya (istikdhar).
b.
Hadirnya
sesuatu pada hati dan ucapan
seseorang.
Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab
aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal- hal
yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa
yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT semata, sehingga
zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.[11]
D.
Peran Agama Sebagai Landasan Dalam Melaksanakan Psikoterapi Dan
Bimbingan Konseling
1.
Peran
Agama dalam melaksanakan Psikoterapi
Agama mempunyai
peranan penting dan dominan dalam membentuk jiwa atau mental dan spiritual,
karena agama mampu memberikan makna, arti dan tujuan hidup. Tanpa agama
kehidupan akan terasa hampa, tidak bermakna dan bersikap mekanis. Agama dan
kepercayaan kepada Tuhan adlah kebutuhan pokok manusia yang menolong orang
dalam memenuhi kekosongan jiwanya.[12]
Agama sebagai
psikoterapi religius mempunyai hubungan yang erat, pendidikan agama mempunyai
fungsi untuk mencegah, mengatasi dan membina manusia agar selalu mempunyai jiwa
yang kokoh, tabah dan selalu mentrasendentasikan kehidupannya pada Tuhan.
Pendidikan agama tidak lain adalah upaya mengefektifkan aplikasi nilai-nilai
agama yang dapat menimbulkan transportasi nilai dan pengetahuan secara utuh
kepada manusia masyarakat dunia pada umumnya. Dengan demikian maka seluruh
aspek kehidupan manusia akan mendapatkan sentuhan nilai-nilai Ilahiyah yang transenden.[13]
2.
Peran
Agama dalam melaksanakan Bimbingan dan konseling
Agama
merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang
dimensi keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu.
Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/siswa, konselor
harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai
dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama
yang mereka anut.[14]
Untuk
memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar
menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi
agama penting untuk menumbuhkembangkan moral, tingkah laku, serta sikap siswa
yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya
harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran
dan tuntunan aganmanya. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling
ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu:
a.
Manusia
sebagai makhluk Tuhan.
b.
Sikap
yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan
sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
c.
Upaya
yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan
perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan
yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan
pemecahan masalah.[15]
Oleh karenaitu,
melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan
apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan
manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa
atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat.[16]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan
pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan
psikis melalui metode psikologis.
Adapun tujuan dari psikoterapi sendiri adalah pengobatan secara
psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku
seseorang. Membantu klien dalam menghidupkan
kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui
konflik-konflik yang ditekan melalu.
Sedangkan bentuk-bentuk psikoterapi agama (Islam) yakni; membaca
al-Qur’an, shalat, puasa dan dzikir. melalui pendekatan agama seorang konselor
akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena
agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya
hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan
akhirat.
DAFTAR
PUSTAKA
Mufidah, Luluk Indarinul. “Pentingnya Psikoterapi Agama Dalam
Kehidupan Di Era Modern”. Lentera, (20 september 2015), I :181-196.
https://echaelshanadia.wordpress.com/2015/03/20/pengertian-tujuan-dan-unsur-unsur-psikoterapi/
, diakses pada tanggal 25 November 2020.
Ratnawiyah, “Agama Sebagai Psikoterapi Religius Dan Implikasinya
Bagi Pendidikan Agama” https://lampung.kemenag.go.id/files/lampung/file/file/ARTIKEL/Agama_sebagai_Psikiater.pdf
, diakses pada tanggal 25 November 2020.
[1] Luluk
Indarinul Mufidah, “Pentingnya Psikoterapi Agama Dalam Kehidupan Di Era
Modern”, Lentera, vol. 1 no. 2 (20 september 2015), 183.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid., 184.
[5] https://echaelshanadia.wordpress.com/2015/03/20/pengertian-tujuan-dan-unsur-unsur-psikoterapi/, diakses pada
tanggal 25 November 2020.
[6] Mufidah,
“Pentingnya Psikoterapi Agama”., 187.
[7] QS. al Isra’ :
82.
[8] Mufidah,
“Pentingnya Psikoterapi Agama”., 187.
[9] Ibid., 188.
[10] Ibid., 189.
[11] Ibid., 190.
[12] Ratnawiyah,
“Agama Sebagai Psikoterapi Religius Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Agama”
https://lampung.kemenag.go.id/files/lampung/file/file/ARTIKEL/Agama_sebagai_Psikiater.pdf,
diakses pada tanggal 25 November 2020.
[13] Ibid.
[14] Debi
Vianda, “Peran Agama Dalam Bimbingan dan Konseling”, https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/attaujih/article/download/933/734,
diakses pada tanggal 25 November 2020.
[15] Ibid.
[16] Ibid.

Comments
Post a Comment