Quotes Instagram Astetik Trend 2022

Agama Sebagai Landasan Dalam Melaksanakan Psikoterapi Dan Bimbingan Konseling

 AGAMA SEBAGAI LANDASAN DALAM MELAKSANAKAN PSIKOTERAPI DAN BIMBINGAN KONSELING


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Secara harfiah, psikoterapi berasal dari kata psyco berarti jiwa, dan therapy berarti penyembuhan. Psikoterapi dengan demikian dapat diartikan sebagai penyembuhan jiwa. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran dan emosinya, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.

Secara umum, psikoterapi berguna untuk membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih cerah, membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan pengobatannya. Dalam hubungan dengan agama (Islam), psikoterapi adalah proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral maupun fisik dengan melalui bimbingan berdasarkan al-Qur’an dan as- Sunnah Nabi Saw.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana definisi psikoterapi?

2.      Apa tujuan dari psikoterapi?

3.      Bagaimana bentuk-bentuk psikoterapi?

4.      Bagaimana peran agama sebagai landasan dalam melaksanakan psikoterapi dan bimbingan konseling?

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Psikoterapi

Psikoterapi adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu “Psyche” yang artinya jiwa, pikiran atau mental  dan “Therapy” yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.[1]

Psikoterapi adalah proses yang digunakan profesional dibidang kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan, dan mengatasi kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan penyesuaian diri mereka.[2] Psikoterapi juga merupakan perawatan dan penyembuhan gangguan jiwa dengan cara psikologis. Istilah tersebut mencakup berbagai teknik yang kesemuanya dimaksudkan membantu individu yang emosinya terganggu untuk mengubah perilaku dan perasaannya, sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang bermanfaat dalam menghadapi orang lain.[3]

Frank mendefinisikan Psikoterapi sebagai interaksi terencana antara seorang yang terlatih dan memiliki kewenangan social untuk melakukan terapi, dengan seorang yang menderita dengan tujuan untuk meringankan penderitaan si penderita melalui komunikasi simbolis kususnya kata kata maupun aktivitas fisik.[4]

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses reedukasi (pendidikan kembali), sehingga individu tersebut mampu  mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.

B.     Tujuan Psikoterapi

Adapun tujuan dari psikoterapi adalah sebagai berikut:

1.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik, membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.

2.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisi, membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

3.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhannya yang unik.

4.      Tujuan psikoterapi pada pendekatan terpusat pada pribadi, untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenai hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.

5.      Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.[5]

 

 

C.    Bentuk-bentuk Psikoterapi dalam Agama (Islam)

Psikoterapi dalam Islam dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Psikoterapi hati itu ada lima macam:

1.      Membaca Al-Quran

Al-Quran dianggap sebagai terapi yang pertama dan utama, sebab didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyaikit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan pasien.[6]

 

 

 


Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS. Al Isra:82).[7]

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ada dua pendapat dalam memahami term syifa  dalam ayat  tersebut.  Pertama,  terapi  bagi  jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, serta dapat menyembuhkan jjwa yang sakit; kedua, terapi yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, baik dalam bentuk azimat maupun tangkal. Sementara  Al-Thabathabai  mengemukakan  bahwa  syifa  dalam  Al-Quran memiliki makna “terapi ruhaniah” yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Al-ThabathabaI    jiga    mengemukakan    bahwa     al-Quran    juga     dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui bacaan atau tulisan.[8]

 

2.      Shalat Tahajjud

Tahajjud berarti meninggalkan tidur, sedangkan yang dimaksud shalat tahajjud adalah shalat yang dikerjakan malam hari, utamanya setelah bangun tidur. Shalat tahajjud memiliki banyak hikmah. Diantaranya adalah:

a.       Setelah melakukan ibadah tambahan (nafilah), baik dengan shalat maupun membaca al-Quran, maka dirinya mendapatkan kedudukan terpuji dihadapan Allah SWT.

b.      Memiliki kepribadian sebagaimana kepribadian orang-orang salih yang selalu dekat (taqqarub) kepada Allah SWT, terhapus dosanya dan terhindar dari perbuatan munkar

c.       Jiwanya selalu hidup sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketenteraman, bahkan Allah SWT menjajikan kenikmatan surga baginya.

d.      Doanya diterima, dosanya mendapatkan ampunan dari Allah SWT, dan diberi rizki yang halal dan lapang tanpa susah payah mencarinya.

e.       Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah SWT sebagai rasa syukur, nabi SAW sendiri selalu melakukan tahajjud walaupun tumit kakinya bengkak.[9]

3.      Melakukan puasa.

Puasa juga mampu menumbuhkan efek emosional yang positif, seperti menyadari akan kemaha kuasaan Allah SWT, menumbuhkan solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain, serta menghidupkan nilai-nilai positif dalam dirinya untuk aktualisasi diri sebaik mungkin.[10]

4.      Zikir

Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan dan kasih saying Allah SWT yang telah diberikan, serta dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Dua makna yang terkandung dalam lafal zikir menurut At-Thabathabai:

a.       Kegiatan psikologis yang memungkinkan seseorang memelihara makna sesuatu yang diyakini berdasarkan pengetahuannya atau ia berusaha hadir padanya (istikdhar).

b.      Hadirnya sesuatu pada hati dan ucapan seseorang.

Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal- hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah SWT semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.[11]

D.    Peran Agama Sebagai Landasan Dalam Melaksanakan Psikoterapi Dan Bimbingan Konseling

1.      Peran Agama dalam melaksanakan Psikoterapi

Agama mempunyai peranan penting dan dominan dalam membentuk jiwa atau mental dan spiritual, karena agama mampu memberikan makna, arti dan tujuan hidup. Tanpa agama kehidupan akan terasa hampa, tidak bermakna dan bersikap mekanis. Agama dan kepercayaan kepada Tuhan adlah kebutuhan pokok manusia yang menolong orang dalam memenuhi kekosongan jiwanya.[12]

Agama sebagai psikoterapi religius mempunyai hubungan yang erat, pendidikan agama mempunyai fungsi untuk mencegah, mengatasi dan membina manusia agar selalu mempunyai jiwa yang kokoh, tabah dan selalu mentrasendentasikan kehidupannya pada Tuhan. Pendidikan agama tidak lain adalah upaya mengefektifkan aplikasi nilai-nilai agama yang dapat menimbulkan transportasi nilai dan pengetahuan secara utuh kepada manusia masyarakat dunia pada umumnya. Dengan demikian maka seluruh aspek kehidupan manusia akan mendapatkan sentuhan nilai-nilai Ilahiyah yang transenden.[13]

2.      Peran Agama dalam melaksanakan Bimbingan dan konseling

Agama merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi keagamaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Dalam proses pelayanan yang diberikan pada setiap individu/siswa, konselor harus memperhatikan dimensi keagamaannya sehingga pemberian solusi akan sesuai dengan apa yang mereka yakini, tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang mereka anut.[14]

Untuk memahami landasan agama secara baik karena konselor tidak hanya sekedar menuangkan pengetahuan ke otak saja atau pengarahan kecakapannya saja tetapi agama penting untuk menumbuhkembangkan moral, tingkah laku, serta sikap siswa yang sesuai dengan ajaran agamanya. Sehingga kepribadian serta sikap jiwanya harus dapat mengendalikan tingkah lakunya dengan cara yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan aganmanya. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu:

a.       Manusia sebagai makhluk Tuhan.

b.      Sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama.

c.       Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah.[15]

Oleh karenaitu, melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat.[16]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.

Adapun tujuan dari psikoterapi sendiri adalah pengobatan secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku seseorang. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalu.

Sedangkan bentuk-bentuk psikoterapi agama (Islam) yakni; membaca al-Qur’an, shalat, puasa dan dzikir. melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi klien/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akhirat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mufidah, Luluk Indarinul. “Pentingnya Psikoterapi Agama Dalam Kehidupan Di Era Modern”. Lentera, (20 september 2015), I :181-196.

 

https://echaelshanadia.wordpress.com/2015/03/20/pengertian-tujuan-dan-unsur-unsur-psikoterapi/ , diakses pada tanggal 25 November 2020.

 

Ratnawiyah, “Agama Sebagai Psikoterapi Religius Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Agama” https://lampung.kemenag.go.id/files/lampung/file/file/ARTIKEL/Agama_sebagai_Psikiater.pdf , diakses pada tanggal 25 November 2020.

 

Debi Vianda, “Peran Agama Dalam Bimbingan dan Konseling”, https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/attaujih/article/download/933/734 , diakses pada tanggal 25 November 2020.


[1] Luluk Indarinul Mufidah, “Pentingnya Psikoterapi Agama Dalam Kehidupan Di Era Modern”, Lentera, vol. 1 no. 2 (20 september 2015), 183.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ibid., 184.

[6] Mufidah, “Pentingnya Psikoterapi Agama”., 187.

[7] QS. al Isra’ : 82.

[8] Mufidah, “Pentingnya Psikoterapi Agama”., 187.

[9] Ibid., 188.

[10] Ibid., 189.

[11] Ibid., 190.

[12] Ratnawiyah, “Agama Sebagai Psikoterapi Religius Dan Implikasinya Bagi Pendidikan Agama” https://lampung.kemenag.go.id/files/lampung/file/file/ARTIKEL/Agama_sebagai_Psikiater.pdf, diakses pada tanggal 25 November 2020.

[13] Ibid.

[14] Debi Vianda, “Peran Agama Dalam Bimbingan dan Konseling”, https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/attaujih/article/download/933/734, diakses pada tanggal 25 November 2020.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

Comments