- Get link
- X
- Other Apps
Oleh: Silawati
PEMIKIRAN PENDIDIKAN MENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena dengan Pendidikan manusia bisa mempunyai pengetahuan yang baru tentang sesuatu. Pendidikan juga merupakan hal yang bisa mengubah pandangan seseorang yang lebih baik untuk kedepannya dalam membangun sebuah peradaban yang baru.
Ketika membahas tentang Pendidikan pastinya dibutuhkan sebuah pemikiran yang baru untuk memajukan Pendidikan, mengingat Pendidikan adalah hak bagi semua umat manusia untuk memiliki atau merasakan apa itu Pendidikan. Karena itu, banyak para ahli yang membuat atau memunculkan ide-ide baru mengenai Pendidikan, diharapkan dari pemikiran-pemikiran tersebut bisa membawa perubahan yang lebih baik lagi di dunia Pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam?
2. Bagaimana Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah?
3. Bagaimana Pemikiran Pendidikan Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam
Pemikiran dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Inference, yang berarti mengeluarkan suatu hasil berupa kesimpulan. Ditinjau dari segi terminology pemikiran adalah kegiatan manusia mencermati suatu pengetahuan yang telah ada dengan menggunakan akalnya untuk mendapatkan atau mengeluarkan pengetahuan yang baru atau yang lain. Pemikiran juga dapat diartikan sebagai upaya menelaah secara cermat dan kreatif terhadap sebuah gejala atau fenomena di masyarakat secara luas guna menemukan solusi secara tepat dengan melibatkan peran akal dan kalbu.
Pendidikan adalah usaha yang yang bersifat mendidik, membimbing, membina, mempengaruhi, dan mengarahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal maupun informal.
Pendidikan juga dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Islam dalam arti yang seluas-luasnya sebagai bahan dan materi yang amat luas untuk diajarkan kepada semua manusia, baik secara formal sebagai anak didik maupun pandangan universal bahwa semua manusia adalah murid yang tidak berhenti untuk belajar sepanjang kehidupannya yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Jadi Pemikiran Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan manusia untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
B. Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memiliki nama lengkap Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Haris Az-Zar’i ad-Damasqy. Gelarnya adalah Syamsuddin, sedangkan nama panggilannya adalah Abu Abdillah. Namun lebih populer dengan sebutan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah lahir di Damaskus, Suriah pada tanggal 7 Safar 691 H/4 Februari 1291 M. Nama ayahnya adalah Syaikh Al-Saleh Al-‘Abid An-Nasik Abu Bakar bin Ayyub Az-Zur’i seorang pendiri Madrasah Al-Jauziyyah di Damaskus. Melalui Lembaga itulah beliau dipanggil Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah kalau ulama’ kontemporer menyebut beliau dengan panggilan Ibnu Qayyim.
Semasa hidupnya beliau mengabdikan diri di dunia Pendidikan yang berguru kepada Ali-Al-Syihab Al-Nablisi Al-Qabir. Abi Bakar bin Abd Al-Daim Al-Qadhi Al-Din Salman, Isa Al-Mat’am. Adapun yang berpengaruh terhadap pengembangan pikiran beliau adalah Ibnu Taimiyyah, namun pola pikir Ibnu Qayyim bukan merupakan foto copy dari Ibnu Taimiyyah. Terbukti dengan karya-karya yang diciptakan tidak jarang berbeda dengan gurunya, karena mengarah kepada sesuatu itu benar dan jelas dalilnya. Salah satu karyanya adalah Tuhfadul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ighasatul Lahfan min Mashidis Syaithan. Adapun salah satu murid beliau yang terkenal adalah Ibnu Katsir pengarang kitab Al-Bidayah wa Nihayah.
Ibnu Qayyim wafat di Damaskus pada 13 Rajab tahun 751 H/23 September 1350 M. Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Bab Al-Shaghir dengan diiringi oleh ribuan orang pengantar jenazah.
C. Pemikiran Pendidikan Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Menurut Ibnu Qayyim konsep Pendidikan Islam berasal dari kata tarbiyah yang mana kata tarbiyah merupakan pecahan dari kata Rabba-yarubbu-rabban yang berarti seorang pendidik atau dapat dipahami sebagai orang yang merawat pengetahuan yang dimilikinya agar menjadi sempurna dan bertambah.
Secara etimologi tarbiyah adalah suatu usaha dalam mendidik manusia dengan ilmu yang dilakukan pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian utama taat kepada Allah, berbudi pekerti mulia, berilmu tinggi serta sehat secara jasmani dan rohani.
Jadi tujuan Pendidikan menurut Ibnu Qayyim yakni untuk menjaga (kesucian) fitrah manusia dan melindunginya agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan serta mewujudkan dalam dirinya ubudiyah (penghambaan) kepada Allah SWT.
Tujuan Pendidikan menurut Ibnu Qayyim diklarifikasikan sebagai berikut:
1. Ahdaf Ismiyah (tujuan yang berkaitan dengan badan) sesuai dengan yang disebutkan dalam kitab AL-Fiku Al-Tarbawi sebagai berikut:
“Hendaklah bayi yang baru dilahirkan itu disusukan kepada orang lain, karena susu ibu di hari pertama melahirkan sampai hari ketiga masih bercampur dan kurang bersih serta masih terlalu kasar bagi sang bayi yang hal ini akan membahayakan sang bayi.”
Selain itu, termasuk bagian dari ahdaf jismiyah adalah selalu memperhatikan dan mengawasi anak dalam hal makan dan minumnya.
2. Ahdaf Akhlakiyah (tujuan yang berkaitan dengan pembinaan akhlak)
Tujuan terpenting dari Pendidikan adalah terbentuknya akhlak yang mulia. Sebab kebahagiaan akan bisa diraih dengan terhiasnya diri dengan akhlak mulia dan dijauhkannya dari akhlak buruk. Oleh karena itu beliau mengatakan kepada murabbi (pendidik) agar tidak memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk berkhianat dan berbohong, sebab khianat dan kebohongan akan merusak bangunan kebahagiaan jiwanya.
3. Ahdaf Fikriyah (tujuan yang berkaitan dengan penalaran akal)
Tujuan Pendidikan pada bagian ini disebut pula sebagai Pendidikan intelektual guna membekali pemikiran peserta didiknya secara lurus. Dalam hal tersebut Ibnu Qayyim menyatakan: “Yang perlu diperhatikan oleh para murabbi adalah agar mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk berinteraksi dengan sesuatu yang membahayakan dan merusak akalnya, seperti: minum-minuman yang memabukkan atau narkoba, dan hendaknya anak didik dijauhkan dari pergaulan dengan orang-orang yang dikhawatirkan akan merusak jiwanya, dan dijauhkan dari melakukan pembicaraan dan memegang sesuatu yang akan merusak jiwanya, sebab semua itu akan menjatuhkannya ke lembah kehancuran.”
4. Ahdaf Maslakiyah (tujuan yang terkait dengan skill)
Tujuan ini berupaya mengetahui, membina dan mengembangkan bakat setiap peserta didiknya. Sehingga proses Pendidikan harus memperkenalkan bidang-bidang yang sesuai dengan minat dan bakat guna mewujudkan kemaslahatan diri dan umat manusia keseluruhannya. Pernyataan Ibnu Qayyim terdapat dalam pernyataan berikut: “Di antara hal yang seharusnya diperhatikan adalah potensi dan bakat yang dimiliki oleh masing-masing anak. Sebab ia dilahirkan dengan membawa bakat masing-masing. Asal jangan mengiringi anak kepada sesuatu yang diharamkan syariat. Jika anak dipaksa melakukan atau menekuni sesuatu yang tidak menjadi bakat atau kecenderungannya, maka ia tidak akan berhasil, bahkan bisa kehilangan bakatnya.”
Dalam memperhatikan aspek kesehatan badan, akhlak, intelek dan bakat, maka materi Pendidikan juga perlu disesuaikan dengan tujuan pendidikan tersebut. Seiring dengan pernyataan tersebut, Ibnu Qayyim membagi materi atau sasaran Pendidikan menjadi beberapa bagian yaitu:
a. Pendidkan Iman (Tarbiyah Imaniyah)
b. Pendidikan Moral (Tarbiyah Khuluqiyyah)
c. Pendidikan Fisik (Tarbiyah Badaniyah)
d. Pendidikan Sosial (Tarbiyah Ijtimaiyyah)
e. Pendidikan Intelektual (Tarbiyah Fikriyah)
f. Tarbiyah Ruhiyyah
g. Tarbiyah ‘Athifiyyah
h. Tarbiyah Iradiyyah (Kehendak)
i. Tarbiyah Jinsiyyah
j. Tarbiyah Riyadhiyah (Pendidikan Olahraga)
Pemberian beragam materi di atas tidak dapat tersampaikan secara komprehensif tanpa adanya metode yang tepat. Dari pemaparan meteri di atas maka dapat ditarik gambaran bahwa metode pemebelajaran yang digunakan oleh Ibnu Qayyim diantaranya menggunakan metode pembiasaan dan keteladanan.
Kedua metode tersebut secara khusus diimplementasikan dalam pembelajaran akhlak. Metode pembiasaan ini merupakan salah satu cara yang tepat untuk pembentukan karakter peserta didik. Karena pembelajaran akhlak substansinya tidak sebatas bersifat teoritik tetapi lebih bersifat aplikatif.
Sedangkan metode keteladanan diberikan oleh setiap orang tua kepada putra dan putrinya sera pendidik pada setiap Lembaga Pendidikan. Adapun idealnya metode keteladanan terlebih dahulu diaplikasikan sebelum pendidik dan orang tua mendidik dengan kata-kata.
Selanjutnya, Ibnu Qayyim juga menekankan tentang penggunaan metode pelatihan. Ibnu Qayyim menegaskan bahwa sedari kecil seorang anak hendaknya dilatih dan dibiasakan untuk mengerjakan berbagai hal yang bermanfaat baginya, agar ketika dewasa, apa yang sering dilkukannya menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Disamping itu, Ibnu Qayyim merekomendasikan penggunaan metode Learnimg by doing. Mengaktifkan dan menyertakan anak dalam berbuat baik, seorang anak hendaknya diaktifkan dalam perbuatan-perbuatan baik sehingga akhlak yang utama menjadi sesuatu yang dicintainya. Ibnu Qayyim sepakat untuk tidak merekomendasikan penggunaan metode perdebatan dalam mendidik anak.
Selain itu, metode yang ditawarkan Ibnu Qayyim juga ada yang bersifat hafalan, pemberian contoh/missal hiwar, tanya jawab, hafalan, pemberian missal, cerita/kisah, nasihat, ganjaran dan hukuman dan lain-lain. Selanjutnya penggunaan metode harus diselesaikan dengan tahapan perkembangan, tingkat kecerdasan bakat dan pembawaan anak, serta tujuan Pendidikan dan karakteristik materi.
Bagian penting lainnya atas gagasan Ibnu Qayyim dalam pemikiran Pendidikan diantaranya mengenai konsep seorang pendidik dan peserta didik. Pendidik (murabbi) harus memiliki karakter zuhud, memiliki pemahaman yang mendalam tentang agama, bertekad menyampaikan petunjuk kepada setiap manusia, mampu bersikap sabar, mau menghidupkan hati manusia dengan ilmu dan Al-Qur’an, serta berhati-hati dalam memberi fatwa.
Selanjutnya, seorang murabbi dalam berinteraksi dengan peserta didiknya harus bersikap kasih sayang kepada yang kecil dan selalu menghibur mereka, selalu memperhatikan peserta didiknya, bertanggung jawab untuk mengawasi amaliah anak didiknya dan akhlak mereka di majlis ilmunya, bersikap adil kepada anak didiknya, mengenal karakter dan kecerdasan peserta didiknya, mau menerima pendapat dari muridnya jika itu menambah ilmu si murabbi, memberi hukuman jika diperlukan secara proporsional dan tidak melampaui batas.
Demikian sebagian kecil atas pemikiran Pendidikan islam Ibnu Qayyim yang tampaknya ide-ide beliau dapat dikatakan cukup sistematis representatif. Bahkan memiliki relevansi dan implikasi terhadap Pendidikan islam saat ini
Sementara substansi Pendidikan berupa penanaman akhlak, moral dan karakter cenderung diabaikan. Dengan demikian istilah tarbiyah sebagaimana yang ditawarkan Ibnu Qayyim menjadi sangat relevan untuk saat ini. Sehingga pemikiran Pendidikan Ibnu Qayyim berimplikasi untuk mengembalikan makna dan hakikat Pendidikan tidak sebatas dalam ruang lingkup tarbiyah, ta’lim dan ta’dib.
Sedangkan pendapat Ibnu Qayyim yang kurang relevan dengan era sekarang adalah kaitan dengan air susu ibu yang tidak boleh disusukan kepada anaknya yang baru melahirkan atau selama tiga hari baru diperbolehkan untuk disusukan. Alasan beliau tidak menggunakan argumentasi ilmiah, namun sebatas dikhawatirkan air susu ibu masih terkontaminasi dengan kotoran lain sehingga diperkirakan membahayakan si bayi tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemikiran Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan manusia untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memiliki nama lengkap Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Haris Az-Zar’i ad-Damasqy. Gelarnya adalah Syamsuddin, sedangkan nama panggilannya adalah Abu Abdillah. Namun lebih populer dengan sebutan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Beliau lahir di Damaskus, Suriah pada tanggal 7 Safar 691 H/4 Februari 1291 M. dan wafat di Damaskus pada 13 Rajab tahun 751 H/23 September 1350 M.
Menurut Ibnu Qayyim konsep Pendidikan islam berasal dari kata tarbiyah yang mana kata tarbiyah merupakan pecahan dari kata Rabba-yarubbu-rabban yang berarti seorang pendidik atau dapat dipahami sebagai orang yang merawat pengetahuan yang dimilikinya agar menjadi sempurna dan bertambah. Tujuan Pendidikan menurut Ibnu Qayyim yakni untuk menjaga (kesucian) fitrah manusia dan melindunginya agar tidak jatuh ke dalam penyimpangan serta mewujudkan dalam dirinya ubudiyah (penghambaan) kepada Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
- Aziz, Safrudin. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: KALIMEDIA, 2015
- Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2017.
- Mubarok, Mufti. Sang Inspirasi Potret Perjuangan guru Sejari & Kisah Guru-guru Istimewa. Surabaya: GRAHA MEDIA, 2013
Location:
Jl. Wiyata Mandala No.2, Sawahmulya, Sangkapura, Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61181, Indonesia
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment