Quotes Instagram Astetik Trend 2022

PROBLEMATIKA RELEVANSI PENDIDIKAN


PROBLEMATIKA RELELEVANSI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk mencapai sebuah tujuan melalui proses pengajaran dan pembelajaran. Hakikat pendidikan pada umumnya merupakan proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari manusia sebagai makhluk berpikir.[1] Oleh sebab itu, sebuah pendidikan berupaya untuk membentuk pola pikir anak agar mampu menghadapi persoalan hidup sesuai dengan zamannya. Maka output yang harus dicapai adalah manusia dengan kemandirian yang meliputi kemampuan memahami diri, mengarahkan diri, dan beradaptasi dengan lingkungan dimana pun dia berada. Sekolah sebagai lembaga fungsional yang diamanahkan oleh masyarakat untuk melakukan fungsi pengembangan potensi individu untuk mencapai cita-cita. Sehingga diharapkan memberikan kotribusi besar bagi masyarakat.
Pendidikan yang relevan seyogianya mampu melahirkan generasi penerus yang memiliki kompetisi yang sesuai dalam menjawab tantangan dan kebutuhan di zamannya. Relevansi harus memiliki pandangan yang jauh kedepan. Misalnya, sekolah mengajarkan bahasa pada setiap jenjang pendidikan sebab bahasa bersifat universal. Dimanapun kita berada, media yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa. Meskipun mungkin bahasa yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan tempat dan kebutuhan. Namun hal tersebut belum terealisasi sepenuhnya. Maka dari itu pada pembahasan selanjutya akan dibahas mengenai problematika relevansi pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Problematika Relevansi Pendidikan?
2.      Bagaimana Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Dasar?
3.      Bagaimana Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Menengah?
4.      Bagaimana Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Perguruan Tinggi?
5.      Apasajakah Faktor Penyebab terjadinya Problematika Relevansi Pendidikan?
6.      Bagaimana Solusi untuk Menghadapi Problematika Relevansi Pendidikan?

 BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Problematika Relevansi Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa, Problematika adalah hal yang belum dapat dipecahkan atau permasalahan.[2] Problematika dapat diartikan sebuah permasalaha-permasalahan yang membutuhkan jalan keluar untuk menyelesaikannya. Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian antara output yang dihasilkan oleh satuan pendidikan dengan yang diharapkan oleh satuan pendidikan/institusi pendidikan diatasnya. Sehingga  ada kesinambungan antara proses pelaksanaan dan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Problematika relevansi pendidikan adalah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan rasio antara lulusan (output) yang dihasilkan oleh satuan pendidikan dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau institusi yang membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Ketidak relevanan itu bisa dilihat dari lulusan-lulusan (output) dari satuan/lembaga pendidikan tertentu yang belum siap baik secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk bisa melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Terlepas dari itu juga bisa dilihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja (menganggur).
B.     Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Dasar
Pemerintah memberikan layanan pendidikan dasar yang bermutu, merata dan berkeadilan, serta relevan dengan kebutuhan lulusan sebagai warga masyarakat dan negara. Pendidikan dasar membentuk karakter, literasi dasar, dan kecakapan dasar bagi semua warga negara melalui pelayanan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan. Pelayanan yang berkeadilan tidak membedakan suku bangsa, golongan, jenis kelamin, serta latar belakang sosial-ekonomi peserta didik.[3]
Kriteria keberhasilan relevansi pendidikan dasar bukanlah dalam ukuran banyaknya gedung sekolah, guru, sarana belajar, dan banyaknya pengetahuan yang dihafal oleh peserta didik, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter dan kemampuan dasar untuk belajar untuk melaksanakan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang bertanggungjawab. Namun, kenyataan di lapangan menunjukan gejala yang memprihatinkan. Satuan pendidikan dasar telah menjadi mesin pencetak pengetahuan bagi peserta didik.
Pendidikan dasar oleh para penyelenggara lebih difahami sebagai ”kumpulan mata pelajaran” yang diajarkan. Pemahaman ini dalam kenyataannya telah mereduksi esensi pendidikan dasar yang sejatinya membentuk karakter dan kemampuan dasar untuk belajar, menjadi suatu sekumpulan proses pengajaran teori dan hafalan di dalam kelas yang dikukur melalui tes hafalan. Pendidikan dasar tidak akan pernah relevan dan tidak berfungsi sebagai fondasi yang kokoh baik membentuk karakter dan peningkatan mutu pendidikan pada jenjang-jenjang berikutnya jika keadaan ini dibiarkan. Pendidikan dasar merupakan program pendidikan formal permulaan untuk semua warga negara dengan substansi pendidikan yang tidak diorganisasikan dalam bentuk kumpulan mata pelajaran, tetapi perlu dikemas secara integral dalam berbagai program pendidikan berbasis sekolah (school-base programs), yaitu: (1) pendidikan karakter, (2) pendidikan kemampuan dasar untuk belajar (basic literacy), (3) pendidikan pengetahuan dasar, dan (4) pendidikan kecakapan hidup sebagai pilihan.[4]
C.    Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Menengah
Problem yang mendasar dalam pendidikan tingkat menengah sebagai pendidikan pra-akademik adalah kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah yang kurang kondisif untuk belajar secara optimal. Relevansi pendidikan tingkat menengah dapat dianalisis dari sisi fungsinya sebagai satuan pendidikan pra-akademik untuk menyiapkan peserta didik melanjutkan ke pendidikan tinggi atau dunia kerja.
Pendidikan pada tingkat menegah membentuk dan mengembangkan seluruh potensi siswa agar memiliki dasar yang kuat untuk berfikir ilmiah melalui proses pembelajaran yang intensif dan sistematis. Peserta didik seharusnya tidak hanya diberikan terlalu banyak teori dan pengetahuan yang dihafal melainkan harus diimbangi dengan soft skill sehingga peserta didik bisa mengembangkan pengetahuan dan bakatnya. Banyaknya teori yang telah diajarkan oleh guru bukanlah ukuran keberhasilan, tetapi memiliki kecakapapan dasar untuk mencari dan meneliti sendiri pengetahuan yang berguna melalui proses belajar inquri dan bersifat mandiri. [5]
Kecakapan dasar harus ditumbuhkan melalui program-program pendidikan, kurikulum dan pembelajaran, serta pendekatan dan proses pengelolaan sekolah. Pendidikan di SMA masih menghadapi masalah dalam kaitan dengan relevansi kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah yang menciptakan proses belajar siswa yang mutunya rendah (rote learning). Proses pembelajaran kurang menumbuhkan potensi dan kreativitas siswa, tetapi menyuguhkan teori dan pengetahuan yang dihafal dengan muatan teoretis yang padat. Proses pembelajaran seperti ini sudah menjadi “tipikal” budaya belajar siswa di Indonesia, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Sekolah belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang nyaman, menarik dan menyenangkan bagi siswa untuk belajar optimal, sehingga prestasi belajar siswa rendah dan terkesan semakin buruk akhir-akhir ini.
D.    Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Perguruan Tinggi
Pendidikan tinggi diindikasikan terdapat gejala yang konsisten bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja, semakin tinggi angka pengangguran. Kondisi ini konsisten dalam lima tahun terakhir, akibat dari terjadinya gejala ketimpangan antara struktur persediaan tenaga kerja dengan struktur lapangan kerja menurut pendidikan. Ketimpangan ini terjadi, karena pada waktu pendidikan menawarkan pekerja lulusan pendidikan yang lebih tinggi, lapangan kerja masih bersifat subsistenm karena ternyata lebih membutuhkan pekerja berpendidikan rendah bahkan tidak berpendidikan sama sekali.
ISCO (International Classification of Occupation) mengungkapkan, ada gejala yang konsisten terkait pendidikan nasional yang belum menumbuhkan sebuah kemandirian bagi lulusan pada satuan pendidikan. Kemandirian dalam berusaha justru didominasi oleh seseorang yang berpendidikan rendah, walaupun produktivitasnya rendah. Gejala menunjukan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin rendah persentase pekerja yang berusaha secara mandiri. Gejala ini menunjukan bahwa investasi pendidikan berdampak buruk terhadap menurunnya kemandirian pekerja. Untuk membagun keselarasan dalam dunia pendidikan, maka program pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan (output) yang mandiri dan profesional. Kenyataan justru sebaliknya, kemandirian pekerja lulusan pendidikan tinggi belum tumbuh seperti yang diharapkan.[6]
E.     Faktor Penyebab terjadinya Problematika Relevansi Pendidikan
1. Proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas yakni pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
2.      Sarana dan prasarana yang belum termanfaatkan dengan baik.
3.      Pendidik dan tenaga kependidikan
4.      Sistem pendidikan.
F.     Solusi untuk Menghadapi Problematika Relevansi Pendidikan
1.   Meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Karena pendidik yang berkualitas tinggi sangat membantu tercetaknya peserta didik yang berkualitas pula.  
2.  Menciptakan proses pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan menerapkan sistem pembelajaran ini dapat menarik minat pserta didik untuk antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan yang telah ditetapkan
3. Sarana dan prasarana pendidikan yang cukup. Setiap lembaga pendidikan harus meningkatkan sarana dan prasarananya agar proses pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan.  
4.  Sistem pendidikan yang tepat. Kurikulum 2013 yang sedang berlangsung di beberapa sekolah harus dilanjutkan dan dikembangkan lagi. Seluruh sekolah di Indonesia seharusnya mengembangkan kurikulum 2013 karena hal ini akan membantu meningkatkan kualitas peserta didik.[7] 



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa permasalahan relevansi pendidikan baik yang ada di tingkat dasar, menengah, maupun tingkat perguruan tinggi adalah mengenai kesesuaian antara output dari suatu lembaga pendidikan dengan yang diharapkan pendidikan di atasnya atau instansi kerja yang menbutuhkan tenaga kerja baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif.
Ketidak relevanan itu bisa dilihat dari lulusan-lulusan (output) dari satuan/lembaga pendidikan tertentu yang belum siap baik secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk bisa melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Terlepas dari itu juga bisa dilihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja (menganggur).
Melihat permasalahan tersebut, diperlukan adanya peningkatan dan pengembangan yang harus dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan mulai dari sistem pendidikan, sarana dan prasarana, pendidik maupun tenaga kependidikannya. Sehingga diharapkan dapat  menghasilkan outpu/lulusan yang berkualitas.








DAFTAR PUSTAKA
Basri,  Hasan.  Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia,  2017.
KBBI Ofline.
Suryadi, Ace. Permasalahan dan Alternatif Kebijakan Peningkatan Relevansi Pendidikan. Bandung: UPI, 2010.


[1] Hasan Basri,  Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV Pustaka Setia,  2017),  56.
[2] KBBI Ofline.
[3] Ace Suryadi, Permasalahan dan Alternatif Kebijakan Peningkatan Relevansi Pendidikan (Bandung: UPI, 2010), 2.
[4] Ibid., 3.
[5] Ibid., 4-5.
[6] Ibid., 5-6.

Comments