- Get link
- X
- Other Apps
PROBLEMATIKA RELELEVANSI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan
seseorang untuk mencapai sebuah tujuan melalui proses pengajaran dan
pembelajaran. Hakikat pendidikan pada umumnya
merupakan proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari
manusia sebagai makhluk berpikir.[1] Oleh sebab itu, sebuah pendidikan berupaya untuk
membentuk pola pikir anak agar mampu menghadapi persoalan hidup sesuai dengan
zamannya. Maka output yang harus dicapai adalah manusia dengan kemandirian yang
meliputi kemampuan memahami diri, mengarahkan diri, dan beradaptasi dengan
lingkungan dimana pun dia berada. Sekolah sebagai lembaga fungsional yang diamanahkan
oleh masyarakat untuk melakukan fungsi pengembangan potensi individu untuk
mencapai cita-cita. Sehingga diharapkan memberikan kotribusi besar bagi
masyarakat.
Pendidikan yang relevan seyogianya mampu melahirkan generasi penerus yang memiliki kompetisi yang sesuai dalam
menjawab tantangan dan kebutuhan di zamannya. Relevansi harus memiliki
pandangan yang jauh kedepan. Misalnya, sekolah mengajarkan bahasa pada setiap
jenjang pendidikan sebab bahasa bersifat universal. Dimanapun kita berada,
media yang digunakan dalam berkomunikasi adalah bahasa. Meskipun mungkin bahasa
yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan tempat dan kebutuhan. Namun hal
tersebut belum terealisasi sepenuhnya. Maka dari itu pada pembahasan selanjutya
akan dibahas mengenai problematika relevansi pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian
Problematika Relevansi Pendidikan?
2.
Bagaimana
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Dasar?
3.
Bagaimana
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Menengah?
4.
Bagaimana
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Perguruan Tinggi?
5.
Apasajakah
Faktor Penyebab terjadinya Problematika Relevansi Pendidikan?
6.
Bagaimana
Solusi untuk Menghadapi Problematika Relevansi Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Problematika Relevansi Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa, Problematika adalah hal yang
belum dapat dipecahkan atau permasalahan.[2]
Problematika dapat diartikan sebuah permasalaha-permasalahan yang membutuhkan
jalan keluar untuk menyelesaikannya. Relevansi pendidikan merupakan kesesuaian
antara output yang dihasilkan oleh satuan pendidikan dengan yang
diharapkan oleh satuan pendidikan/institusi pendidikan diatasnya. Sehingga ada kesinambungan antara proses pelaksanaan
dan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Problematika relevansi pendidikan adalah permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan rasio antara lulusan (output) yang dihasilkan oleh satuan
pendidikan dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau institusi yang membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif maupun secara
kualitatif.
Ketidak relevanan itu bisa dilihat dari lulusan-lulusan (output) dari satuan/lembaga pendidikan
tertentu yang belum siap baik secara
kemampuan kognitif dan teknikal untuk bisa melanjutkan ke satuan pendidikan di
atasnya. Terlepas dari itu juga bisa dilihat dari banyaknya lulusan dari
satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang
belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja (menganggur).
B.
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Dasar
Pemerintah memberikan layanan pendidikan dasar yang bermutu, merata
dan berkeadilan, serta relevan dengan kebutuhan lulusan sebagai warga
masyarakat dan negara. Pendidikan dasar membentuk karakter, literasi dasar, dan
kecakapan dasar bagi semua warga negara melalui pelayanan pendidikan yang
bermutu dan berkeadilan. Pelayanan yang berkeadilan tidak membedakan suku
bangsa, golongan, jenis kelamin, serta latar belakang sosial-ekonomi peserta
didik.[3]
Kriteria keberhasilan relevansi pendidikan dasar bukanlah dalam
ukuran banyaknya gedung sekolah, guru, sarana belajar, dan banyaknya pengetahuan
yang dihafal oleh peserta didik, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan
karakter dan kemampuan dasar untuk belajar untuk melaksanakan hak dan kewajiban
mereka sebagai warga negara yang bertanggungjawab. Namun, kenyataan di lapangan
menunjukan gejala yang memprihatinkan. Satuan pendidikan dasar telah menjadi
mesin pencetak pengetahuan bagi peserta didik.
Pendidikan dasar oleh para penyelenggara lebih difahami sebagai
”kumpulan mata pelajaran” yang diajarkan. Pemahaman ini dalam kenyataannya telah
mereduksi esensi pendidikan dasar yang sejatinya membentuk karakter dan
kemampuan dasar untuk belajar, menjadi suatu sekumpulan proses pengajaran teori
dan hafalan di dalam kelas yang dikukur melalui tes hafalan. Pendidikan dasar
tidak akan pernah relevan dan tidak berfungsi sebagai fondasi yang kokoh baik
membentuk karakter dan peningkatan mutu pendidikan pada jenjang-jenjang
berikutnya jika keadaan ini dibiarkan. Pendidikan dasar merupakan program
pendidikan formal permulaan untuk semua warga negara dengan substansi
pendidikan yang tidak diorganisasikan dalam bentuk kumpulan mata pelajaran,
tetapi perlu dikemas secara integral dalam berbagai program pendidikan berbasis
sekolah (school-base programs), yaitu: (1) pendidikan karakter, (2)
pendidikan kemampuan dasar untuk belajar (basic literacy), (3)
pendidikan pengetahuan dasar, dan (4) pendidikan kecakapan hidup sebagai
pilihan.[4]
C.
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Menengah
Problem yang mendasar dalam pendidikan tingkat menengah sebagai
pendidikan pra-akademik adalah kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah
yang kurang kondisif untuk belajar secara optimal. Relevansi pendidikan tingkat
menengah dapat dianalisis dari sisi fungsinya sebagai satuan pendidikan
pra-akademik untuk menyiapkan peserta didik melanjutkan ke pendidikan tinggi
atau dunia kerja.
Pendidikan pada tingkat menegah membentuk dan mengembangkan seluruh
potensi siswa agar memiliki dasar yang kuat untuk berfikir ilmiah melalui
proses pembelajaran yang intensif dan sistematis. Peserta didik seharusnya tidak hanya
diberikan terlalu banyak teori dan pengetahuan yang dihafal melainkan harus diimbangi dengan soft skill sehingga peserta didik bisa mengembangkan pengetahuan dan bakatnya. Banyaknya teori
yang telah diajarkan oleh guru bukanlah ukuran keberhasilan, tetapi
memiliki kecakapapan dasar untuk mencari dan meneliti sendiri pengetahuan yang
berguna melalui proses belajar inquri dan bersifat mandiri. [5]
Kecakapan dasar harus ditumbuhkan melalui program-program
pendidikan, kurikulum dan pembelajaran, serta pendekatan dan proses pengelolaan
sekolah. Pendidikan di SMA masih menghadapi masalah dalam kaitan dengan
relevansi kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah yang menciptakan
proses belajar siswa yang mutunya rendah (rote learning). Proses
pembelajaran kurang menumbuhkan potensi dan kreativitas siswa, tetapi
menyuguhkan teori dan pengetahuan yang dihafal dengan muatan teoretis yang
padat. Proses pembelajaran seperti ini sudah menjadi “tipikal” budaya belajar
siswa di Indonesia, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Sekolah belum
mampu menciptakan proses pembelajaran yang nyaman, menarik dan menyenangkan
bagi siswa untuk belajar optimal, sehingga prestasi belajar siswa rendah dan
terkesan semakin buruk akhir-akhir ini.
D.
Problematika Relevansi Pendidikan di Tingkat Perguruan Tinggi
Pendidikan tinggi diindikasikan terdapat gejala yang konsisten
bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja, semakin tinggi angka
pengangguran. Kondisi ini konsisten dalam lima tahun terakhir, akibat dari
terjadinya gejala ketimpangan antara struktur persediaan tenaga kerja dengan
struktur lapangan kerja menurut pendidikan. Ketimpangan ini terjadi, karena
pada waktu pendidikan menawarkan pekerja lulusan pendidikan yang lebih tinggi,
lapangan kerja masih bersifat subsistenm karena ternyata lebih
membutuhkan pekerja berpendidikan rendah bahkan tidak berpendidikan sama
sekali.
ISCO (International Classification of Occupation) mengungkapkan, ada gejala yang konsisten terkait pendidikan nasional yang belum menumbuhkan
sebuah kemandirian bagi lulusan pada satuan pendidikan. Kemandirian dalam berusaha justru didominasi oleh seseorang yang berpendidikan rendah, walaupun produktivitasnya rendah.
Gejala menunjukan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin rendah persentase
pekerja yang berusaha secara mandiri. Gejala ini menunjukan bahwa investasi
pendidikan berdampak buruk terhadap menurunnya kemandirian pekerja. Untuk membagun keselarasan dalam dunia pendidikan, maka program pendidikan tinggi harus mampu
menghasilkan lulusan (output) yang mandiri dan profesional. Kenyataan justru sebaliknya,
kemandirian pekerja lulusan pendidikan tinggi belum tumbuh seperti yang
diharapkan.[6]
E.
Faktor Penyebab terjadinya Problematika Relevansi Pendidikan
1. Proses
pembelajaran yang belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas
yakni pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
2.
Sarana
dan prasarana yang belum termanfaatkan dengan baik.
3.
Pendidik
dan tenaga kependidikan
4.
Sistem
pendidikan.
F.
Solusi untuk Menghadapi Problematika Relevansi Pendidikan
1. Meningkatkan kualitas tenaga
pendidik. Karena pendidik yang berkualitas tinggi sangat membantu tercetaknya
peserta didik yang berkualitas pula.
2. Menciptakan proses pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan menerapkan sistem
pembelajaran ini dapat menarik minat pserta didik untuk antusias dalam
mengikuti proses pembelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran tercapai sesuai
dengan yang telah ditetapkan
3.
Sarana dan prasarana pendidikan yang
cukup. Setiap lembaga pendidikan harus meningkatkan sarana dan prasarananya
agar proses pendidikan berjalan sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan.
4.
Sistem pendidikan yang tepat.
Kurikulum 2013 yang sedang berlangsung di beberapa sekolah harus dilanjutkan
dan dikembangkan lagi. Seluruh sekolah di Indonesia seharusnya mengembangkan kurikulum
2013 karena hal
ini akan membantu meningkatkan kualitas peserta didik.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa permasalahan relevansi pendidikan baik yang ada di
tingkat dasar, menengah, maupun tingkat perguruan tinggi adalah mengenai
kesesuaian antara output dari suatu lembaga pendidikan dengan yang diharapkan
pendidikan di atasnya atau instansi kerja yang menbutuhkan tenaga kerja baik
dari segi kualitatif maupun kuantitatif.
Ketidak relevanan itu bisa dilihat dari lulusan-lulusan (output) dari satuan/lembaga pendidikan
tertentu yang belum siap baik secara
kemampuan kognitif dan teknikal untuk bisa melanjutkan ke satuan pendidikan di
atasnya. Terlepas dari itu juga bisa dilihat dari banyaknya lulusan dari
satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang
belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja (menganggur).
Melihat permasalahan tersebut, diperlukan adanya peningkatan dan
pengembangan yang harus dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan mulai dari
sistem pendidikan, sarana dan prasarana, pendidik maupun tenaga
kependidikannya. Sehingga diharapkan dapat
menghasilkan outpu/lulusan yang berkualitas.
Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV
Pustaka Setia, 2017.
http://karyakitadress.blogspot.com/2016/12/makalah-masalah-relevansi-pendidikan-di.html,
diakses tanggal 05 Maret 2020
KBBI
Ofline.
Suryadi, Ace. Permasalahan dan Alternatif Kebijakan Peningkatan
Relevansi Pendidikan. Bandung: UPI, 2010.
[1] Hasan
Basri, Filsafat Pendidikan Islam
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), 56.
[2] KBBI Ofline.
[3] Ace Suryadi, Permasalahan
dan Alternatif Kebijakan Peningkatan Relevansi Pendidikan (Bandung: UPI,
2010), 2.
[4] Ibid., 3.
[5] Ibid., 4-5.
[6] Ibid., 5-6.
[7] http://karyakitadress.blogspot.com/2016/12/makalah-masalah-relevansi-pendidikan-di.html, diakses
tanggal 05 Maret 2020.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment