Quotes Instagram Astetik Trend 2022

PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN IBNU SINA


PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN IBNU SINA 

Oleh: Mutmainnah 

A.    Biogarfi Singkat Ibnu Miskawaih
      Ibnu Miskawaih adalah seorang filsuf muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam.[1] Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali al-Khazin Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ya’kub bin Miskawaih. beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Miskawaih. Ibnu Miskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majuzi (Persi) kemudian masuk Islam.
        Ibnu Miskawaih dilahirkan di Ray (sekarang Teheran). Beliau dilahirkan pada tahun 320 H/932 M dan meninggal dunia di Isfahan tahun 421 H/1030 M. memperhatikan tahun kelahiran hingga wafatnya, tampaknya Ibnu Miskawaih dipastikan hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihi yang parah tokoh-tokohnya bermadzhab Syiah.
       Dalam bidang ilmu pengetahuan, Ibnu Miskawaih tidak diragukan lagi level karangannya. Terbukti beliau telah mampu melahirkan karya yang sangat terkenal diantaranya: kitab Tahzibal- Akhlaq wa Tathir al- A’raq (kitab tentang kesempurnaan etika), kitab tartib al- sa’adat (membahas tentang etika dan politik terutama menganai pemerintahan bani abbas dan bani buwaih), kitab al-saadah, kitab al-fauz al- ashgar fi Ushul al- Diyanat (membahas tentang metafisika, yaitu ketuhanan, jiwa, dan kenabian),dll. Adapun kitab yang membahas tentang pendidikan anak-anak secara khusus dikupas dalam bukunya tahdzib al- akhlaq wa tathir al- a’raq.

B.     Pemikiran Pendidikan Ibnu Miskawaih
Konsep pendidikan Ibnu Miskawaih adalah lebih difokuskan pada pendidikan akhlak. Perihal tersebut tertuang dalam bukunya tandzibul akhlaq wa tathir al- a’raq yang artinya untuk mencapai cita-cita hendaknya berbekal pribadi susila, berwatak yang lahir dari padanya perilaku- perilaku luhur, atau berbudi pekerti mulia. Budi (jiwa atau watak), lahir pekerti (perilaku) yang mulia.
Ibnu miskawaih menyebutkan bahwa akhlaq merupakan kondisi jiwa yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan sebuah perbuatan, [2] baik berupa perbuatan baik ataupun perbuatan yang bernilai tidak baik.
Akhlak pada subtansinya bersifat natural serta pembiasaan. Maka dari itu Ibnu Miskawaih sebenarnya merumuskan bahwa kahlaq tidak hanya bersifat natural (pembawaan sejak lahir) namun juga dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan ataupun pembinaan dan pembiasaan.
Pendidkan akhlaq manurut Ibnu Miskawaih diupayakan untuk mewujudkan batin yang mampu mendorong secara spontan guna melahirkan perbuatan atau perilaku yang baik.[3]Sehingga melalui akhlak yang baik ini manusia mampu mencapai kebahagiaan dalam hidup.
materi pendidikan akhlak, Ibnu Miskawaih membaginya menjadi tiga hal yaitu: pertama, al-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh,  Kedua, hal hal yang wajib bagi jiwa serta ketiga, hal-hal yang wajib bagi hubungan sesama manusia.[4] Ketiga materi tersebut dapat diperoleh melalui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran (al- ‘ulum al- fikriyah) dan ilmu yang berkaitan dengan indera (al-‘ulum al- ahssiyah).[5]
Dalam pernyataan Ibnu Miskawaih tersebut tampaknya ketiga ibadah diatas sangat berhubungan erat dengan pembentukan rohani yang mempengaruhi kepribadian setiap manusia. Sedangkan materi pendidikan yang wajib lainnya antara lain tentang pendidikan akidah yang benar serta motivasi untuk senang terhadap ilmu.
Selain materi wajib, materi pendidikan yang bersifat pendukung bagi keperluan manusia juga menjadi prioritas seprti: hubungan dagang (mu'amalat), kontrak dengan system bagi hasil ( al-muzara’ah) serya materi kewanitaan (menunaikan amanat dan saling menasihati) dan sebagainya. Di samping ilmu nahwu (tata bahasa) sebagai modal agar fasih dalam berbicara ataupun ilmu logika sebagai sarana agar memilki kemampuan yang tepat dalam berpikir. Semua itu diupayakan secara total untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT khusunya melalui upaya pembiasaan dan pendidikan.
Pemikiran Ibnu Miskawaih tidak jauh berbeda dengan pendahulunya yakni al-Qabisi, yang berpendapat bahwa orang tua dalam pandangan Ibnu Miskawaih berposisi sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Sehingga orang tua berperan penting dalam proses pertumbuhan pemikiran dan akhlak putra-putrinya.[6] Hubungan cinta kasih dan komunikasi secara intens antara anak dengan orang tua tentunya sangat diperlukan dalam proses pendiidkan dikeluarga.
            Pendidikan akhlak bagi peserta didik hendaknya dilakukan melalui proses belajar, pendidikan dan kebiasaan, Nasihat Dan petunjuk, serta peringatan dan latihan. Adapun langkah-langkah dalam membentuk akhlak mulia menurut Ibnu Miskawi antara lain: berkemauan dan berlatih secara terus menerus untuk hidup secara sopan, santun dan berakhlak serta menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin hidup darinya.[7]
Pendidikan akhlak yang kini lebih popular dengan pendidikan karakter pada hakikatnya telah memperoleh pembahasan semenjak zaman nabi dan dipopulerkan lagi di abad ke-4 Ibnu Miskawaih. Di area konteporer sekarangpun pendidikan karakter kembali dipopulerkan.
Dengan demikian pendidikan akhlak yang ditawarkan Ibnu Miskawaih memiliki relevansi hingga saat ini meskipun karya ini lahir di abad ke empat yang terbilang menggunakan paradigma berpikir dan pijakan klasik.

C.    Biografi Singkat Ibnu Sina
    Ibnu Sina memilki nama lengkap Abu Ali al-Husain bin Abdullah bi al-Hasan bin Ali bin Sina. Beliau lahir di Asyfana yakni suatu daerah yang terletak dekat Bukhara di kawasan Asia Tengah pada tahun 370 H/980 M.[8] dari seorang ibu bernma Astara dan ayahnya bernama Abdullah dari Balkh.[9] Dalam catatan sejarah, Ibnu Sina melauli pendiidkannya pada usia lima  tahun dikota kelahirannya Bukhara.
Ibnu Sina mengawali pendidikannya di afsyana dengan pengetahuan yang pertama kali dipelajarinya ialah membaca al-Qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama Islam seperti tafsir, fiqih, ushuluddin dan lain-lain. Brkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-Qur’an dan menguasai berbagai cabang ilmu ke-Islaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.
        Kecerdasan dan kepiawaian ibnu sina tidak lain juga berkat pengasuhan sang guru. Ia belajar fiqih secara khusus dari Ismail al-Zahid, belajar logika dan teknik dari Abdullah al-Natili dan belajar secara otodidak tentang ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu ketuhanan dan ilmu kedokteran sehingga pada akhirnya ia berhasil menjadi seorang dokter yang masyhur dizamannya.
Diantara karya-karya beliau yang terkenal adalah al-Syifa, al-Najah (filsafat), al-Qanun (kedokteran), Ahwal al-Nafs dan kitab al-Siyasah. Lahirnya karya-karya tersebut tidak lain atas ketekunan dan kerja keras beliau serta didukung dengan memperoleh kesmpatan menggunakan perpustakan milik Nuh bin Masyhur yang pada saat itu menjadi sultan di Bukhara. 

D.    Pemikiran pendidikan Ibnu Sina
Secara khusus pemikiran Ibnu Sina dalam bidang pendiidkan tertuang dalam kitab al-siyasah fi al-tarbiyah misalnya dalam kitab tersebut dipaparkan salah satu kewajiban orang tua adalah memberi nama yang baik kepada anaknya dan memilih perawat yang baik.[10] Dari perihal tersebut pada awalnya pendidikan dilakukan dalam keluarga serta pembentukan kepribadian anak juga memerlukan kondisi lingkungan keluarga yang harmonis dan sehat.
Melalui upaya tersebut, pendidikan menurut Ibnu Sina tentunya lebih diarahkan kepada pengembangan seluruh potensi anak, baik perkembangan fisik, intelektual dan akhlak.[11] Selain itu orientasi tujuan pendidikan juga diarahkan guna memprsiapkan seseorang agar mampu hidup dimasyarakat secra bersama-sama dan bekerja sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yamg dimilikinya. Sehingga tujuan dalam konteks ini membekali peserta didik menjadi tenaga professional yang mampu mnegrjakan pekerjaan secara professional.
Unutk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan sejarah materi yang harus disampaikan kepada peserta didik malalui metode yang tepat. Adapun materi pembelajaran yang ditawarkan ibnu sina diklasifikasikan sesuai dengan tingkat usia yakni umur 3-5 tahun diberikan matri tentang olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara dana kesenian.[12] Selanjutnya matri pelajaran untuk anak usia 6-14 tahun menurut ibnu sina meliputi: membaca dan mempelajari huruf-huruf hijaiyah, menghafal al-Qur’an, dasar-dasar agama, syair serta bahsa arab.[13] Selain itu, materi pelajaran manulis dan berpidato juga perlu disampaikan kepada peserta didik.Penekanan untukbebas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan bakat dan minat peserta didik dikandung maksud agar peserta didik memilki keterampilan yang special. Sehingga menjadi ahli atau pakar dalam bidang tertentu.
Metode pembelajaran yang ditawarkan Ibnu Sina diantara lain: metode talqin, teladan dan diskusi. Metode talqin cenderung lebih dipergunakan dalam pembelajaran membaca al-Qur’an. Metode ini juga dapat dikembangkan melalui pembelajaran teman sebaya. Metode keteladanan (qudwah) lebih ditakankan untuk menanamkan akhlak yang mulia. Adapun metode diskusi dapat dilakukan dengan cara menyajikan suatu problem untuk dibahas dan dipecahkan secara bersam-sama.
       Efektivitas penyampaian materi melalui metode yag tepat tidak lain bertumpu pada kemampuan pendidikan itu sendiri. Artinya seorang pendidik harus seseorang yang cerdas, beragama, mengetahui cara-cara mendidik akhlak, terampil dan mendidik, terhormat, berkahlak mulia, teliti, sabar dalam membimbing anak, adil, hemat dalam menggunakan waktu, gemar bergaul dengan peserta didik, serta senantiasa berhias diri.



[1]Istighfatur Rahmaniyah, Pendidikan Etika,Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Konstribusinya di bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010),105.
[2]Ibnu miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq wa tathir al-A’raq, diedit oleh HasanTamim (Bairut masyurat Dar Maktabah al-Hayah,t.th.), 62.
[3]Suwito, Konsep Pendidikan Akhlak menurut Ibnu Miskawaih,  Disertai (Jakarta: IAIN Jakarta, 1995/1996),  77-88.
[4]Miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq......., 134
[5]Ibid ,hal. 83
[6]Ibid, hal. 112
[7]Suwito, Konsep Pendidikan........, 190-191.
[8]Majid Fakhry, Sejarah Filsaat Islam, terj: R. Mulyadi Kertanegara( Jakarta Pustaka Jaya, 1980),  191
[9]Sayyed Hosaen, Tiga Madzhab Ulama Filsafat Islam (Yogyakarta: IRCisod, 2006), 27.
[10]Muhammad Nasher, al-Fikr al- Tarbawi al-‘Arabi al- Islami: al- jaz’u al- Tsani min Qira’at fi al- Fikr al- Tarbawi(Kuwait: wukalah al- Mutbha’at, 1977), h. 284.
[11]Ibnu Sina, kitab al-siyasah fi al-tarbiyah (mesir: majalah al- Masyriq, 1906), hal. 1076.
[12]Ibnu Sina, Kitab al- Siyasah fi al- Tarbiyah, hal. 159.
[13]Ibid, hal. 117

Comments