- Get link
- X
- Other Apps
PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN IBNU SINA
Oleh: Mutmainnah
Oleh: Mutmainnah
A.
Biogarfi Singkat Ibnu Miskawaih
Ibnu Miskawaih adalah
seorang filsuf muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika Islam.[1]
Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali al-Khazin Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Ya’kub bin Miskawaih. beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Miskawaih. Ibnu
Miskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang semula
beragama Majuzi (Persi) kemudian masuk Islam.
Ibnu Miskawaih
dilahirkan di Ray (sekarang Teheran). Beliau dilahirkan pada tahun 320 H/932 M
dan meninggal dunia di Isfahan tahun 421 H/1030 M. memperhatikan tahun
kelahiran hingga wafatnya, tampaknya Ibnu Miskawaih dipastikan hidup pada masa
pemerintahan dinasti Buwaihi yang parah tokoh-tokohnya bermadzhab Syiah.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, Ibnu Miskawaih tidak diragukan lagi
level karangannya. Terbukti beliau
telah mampu melahirkan karya yang sangat terkenal diantaranya: kitab Tahzibal- Akhlaq wa Tathir al- A’raq (kitab tentang kesempurnaan etika), kitab tartib al-
sa’adat (membahas tentang etika dan politik terutama menganai pemerintahan bani
abbas dan bani buwaih), kitab al-saadah, kitab al-fauz al- ashgar fi Ushul al-
Diyanat (membahas tentang metafisika, yaitu ketuhanan, jiwa, dan kenabian),dll. Adapun kitab yang membahas
tentang pendidikan anak-anak secara khusus dikupas dalam bukunya tahdzib al-
akhlaq wa tathir al- a’raq.
B.
Pemikiran Pendidikan Ibnu Miskawaih
Konsep
pendidikan Ibnu Miskawaih adalah lebih difokuskan pada pendidikan akhlak.
Perihal tersebut tertuang dalam bukunya tandzibul akhlaq wa tathir al- a’raq
yang artinya untuk mencapai cita-cita hendaknya berbekal pribadi susila,
berwatak yang lahir dari padanya perilaku- perilaku luhur, atau berbudi pekerti
mulia. Budi (jiwa atau watak), lahir pekerti (perilaku) yang mulia.
Ibnu miskawaih menyebutkan bahwa akhlaq merupakan kondisi jiwa yang
mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan sebuah perbuatan, [2]
baik berupa perbuatan baik ataupun perbuatan yang bernilai tidak baik.
Akhlak pada
subtansinya bersifat natural serta pembiasaan. Maka dari itu Ibnu Miskawaih
sebenarnya merumuskan bahwa kahlaq tidak hanya bersifat natural (pembawaan
sejak lahir) namun juga dipengaruhi oleh lingkungan, pendidikan ataupun
pembinaan dan pembiasaan.
Pendidkan akhlaq
manurut Ibnu Miskawaih diupayakan untuk mewujudkan batin yang mampu mendorong
secara spontan guna melahirkan perbuatan atau perilaku yang baik.[3]Sehingga
melalui akhlak yang baik ini manusia mampu mencapai kebahagiaan dalam hidup.
materi pendidikan akhlak, Ibnu Miskawaih membaginya menjadi tiga
hal yaitu: pertama, al-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh, Kedua, hal hal yang wajib bagi jiwa serta
ketiga, hal-hal yang wajib bagi hubungan sesama manusia.[4]
Ketiga materi tersebut dapat diperoleh melalui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
pemikiran (al- ‘ulum al- fikriyah) dan ilmu yang berkaitan dengan indera
(al-‘ulum al- ahssiyah).[5]
Dalam
pernyataan Ibnu Miskawaih tersebut tampaknya ketiga ibadah diatas sangat
berhubungan erat dengan pembentukan rohani yang mempengaruhi kepribadian setiap
manusia. Sedangkan materi pendidikan yang wajib lainnya antara lain tentang
pendidikan akidah yang benar serta motivasi untuk senang terhadap ilmu.
Selain materi
wajib, materi pendidikan yang bersifat pendukung bagi keperluan manusia juga
menjadi prioritas seprti: hubungan dagang (mu'amalat), kontrak dengan system
bagi hasil ( al-muzara’ah) serya materi kewanitaan (menunaikan amanat dan saling menasihati) dan sebagainya. Di samping
ilmu nahwu (tata bahasa) sebagai modal agar fasih dalam berbicara ataupun ilmu
logika sebagai sarana agar memilki kemampuan yang tepat dalam berpikir. Semua
itu diupayakan secara total untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT khusunya
melalui upaya pembiasaan dan pendidikan.
Pemikiran Ibnu Miskawaih tidak jauh berbeda dengan pendahulunya yakni al-Qabisi, yang berpendapat bahwa orang tua dalam pandangan Ibnu Miskawaih berposisi sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Sehingga
orang tua berperan penting dalam proses pertumbuhan pemikiran dan akhlak
putra-putrinya.[6]
Hubungan cinta kasih dan komunikasi secara intens antara anak dengan orang tua
tentunya sangat diperlukan dalam proses pendiidkan dikeluarga.
Pendidikan akhlak bagi peserta didik hendaknya dilakukan melalui
proses belajar, pendidikan dan kebiasaan, Nasihat Dan petunjuk, serta
peringatan dan latihan. Adapun langkah-langkah dalam membentuk akhlak mulia
menurut Ibnu Miskawi antara lain: berkemauan dan berlatih secara terus menerus
untuk hidup secara sopan, santun dan berakhlak serta menjadikan semua
pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin hidup darinya.[7]
Pendidikan
akhlak yang kini lebih popular dengan pendidikan karakter pada hakikatnya telah
memperoleh pembahasan semenjak zaman nabi dan dipopulerkan lagi di abad ke-4
Ibnu Miskawaih. Di area konteporer sekarangpun pendidikan karakter kembali
dipopulerkan.
Dengan demikian
pendidikan akhlak yang ditawarkan Ibnu Miskawaih memiliki relevansi hingga saat
ini meskipun karya ini lahir di abad ke empat yang terbilang menggunakan
paradigma berpikir dan pijakan klasik.
C.
Biografi Singkat Ibnu Sina
Ibnu Sina memilki nama
lengkap Abu Ali al-Husain bin Abdullah bi al-Hasan bin Ali bin Sina. Beliau
lahir di Asyfana yakni suatu daerah yang terletak dekat Bukhara di kawasan Asia Tengah pada tahun 370 H/980 M.[8]
dari seorang ibu bernma Astara dan ayahnya bernama Abdullah dari Balkh.[9]
Dalam catatan sejarah, Ibnu Sina melauli pendiidkannya pada usia lima tahun dikota kelahirannya Bukhara.
Ibnu Sina
mengawali pendidikannya di afsyana dengan pengetahuan yang pertama kali dipelajarinya
ialah membaca al-Qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari
ilmu-ilmu agama Islam seperti tafsir, fiqih, ushuluddin dan lain-lain. Brkat
ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-Qur’an dan menguasai
berbagai cabang ilmu ke-Islaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.
Kecerdasan dan
kepiawaian ibnu sina tidak lain juga berkat pengasuhan sang guru. Ia belajar
fiqih secara khusus dari Ismail al-Zahid, belajar logika dan teknik dari
Abdullah al-Natili dan belajar secara otodidak tentang ilmu-ilmu alam,
ilmu-ilmu ketuhanan dan ilmu kedokteran sehingga pada akhirnya ia berhasil
menjadi seorang dokter yang masyhur dizamannya.
Diantara
karya-karya beliau yang terkenal adalah al-Syifa, al-Najah (filsafat),
al-Qanun (kedokteran), Ahwal al-Nafs dan kitab al-Siyasah. Lahirnya karya-karya
tersebut tidak lain atas ketekunan dan kerja keras beliau serta didukung dengan
memperoleh kesmpatan menggunakan perpustakan milik Nuh bin Masyhur yang pada
saat itu menjadi sultan di Bukhara.
D.
Pemikiran pendidikan Ibnu Sina
Secara khusus
pemikiran Ibnu Sina dalam bidang pendiidkan tertuang dalam kitab al-siyasah fi
al-tarbiyah misalnya dalam kitab tersebut dipaparkan salah satu kewajiban orang
tua adalah memberi nama yang baik kepada anaknya dan memilih perawat yang baik.[10] Dari perihal tersebut pada awalnya pendidikan dilakukan dalam
keluarga serta pembentukan kepribadian anak juga memerlukan kondisi lingkungan
keluarga yang harmonis dan sehat.
Melalui upaya
tersebut, pendidikan menurut Ibnu Sina tentunya lebih diarahkan kepada
pengembangan seluruh potensi anak, baik perkembangan fisik, intelektual dan
akhlak.[11] Selain
itu orientasi tujuan pendidikan juga diarahkan guna memprsiapkan seseorang agar
mampu hidup dimasyarakat secra bersama-sama dan bekerja sesuai dengan bakat,
kesiapan, kecenderungan dan potensi yamg dimilikinya. Sehingga tujuan dalam
konteks ini membekali peserta didik menjadi tenaga professional yang mampu
mnegrjakan pekerjaan secara professional.
Unutk mencapai
tujuan pendidikan tersebut diperlukan sejarah materi yang harus disampaikan
kepada peserta didik malalui metode yang tepat. Adapun materi pembelajaran yang
ditawarkan ibnu sina diklasifikasikan sesuai dengan tingkat usia yakni umur 3-5
tahun diberikan matri tentang olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara
dana kesenian.[12] Selanjutnya matri pelajaran untuk anak usia 6-14 tahun
menurut ibnu sina meliputi: membaca dan mempelajari huruf-huruf hijaiyah,
menghafal al-Qur’an, dasar-dasar agama, syair serta bahsa arab.[13] Selain
itu, materi pelajaran manulis dan berpidato juga perlu disampaikan kepada
peserta didik.Penekanan untukbebas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan
bakat dan minat peserta didik dikandung maksud agar peserta didik memilki
keterampilan yang special. Sehingga menjadi ahli atau pakar dalam bidang
tertentu.
Metode
pembelajaran yang ditawarkan Ibnu Sina diantara lain: metode talqin, teladan
dan diskusi. Metode talqin cenderung lebih dipergunakan dalam pembelajaran
membaca al-Qur’an. Metode ini juga dapat dikembangkan melalui pembelajaran
teman sebaya. Metode keteladanan (qudwah) lebih ditakankan untuk menanamkan
akhlak yang mulia. Adapun metode diskusi dapat dilakukan dengan cara menyajikan
suatu problem untuk dibahas dan dipecahkan secara bersam-sama.
Efektivitas
penyampaian materi melalui metode yag tepat tidak lain bertumpu pada kemampuan
pendidikan itu sendiri. Artinya seorang pendidik harus seseorang yang cerdas,
beragama, mengetahui cara-cara mendidik akhlak, terampil dan mendidik,
terhormat, berkahlak mulia, teliti, sabar dalam membimbing anak, adil, hemat
dalam menggunakan waktu, gemar bergaul dengan peserta didik, serta senantiasa
berhias diri.
[1]Istighfatur
Rahmaniyah, Pendidikan
Etika,Konsep Jiwa dan Etika
Perspektif Ibnu Miskawaih dalam
Konstribusinya di bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010),105.
[2]Ibnu miskawaih, Tahdzib al-Akhlaq wa tathir al-A’raq, diedit oleh
HasanTamim (Bairut masyurat Dar Maktabah al-Hayah,t.th.), 62.
[3]Suwito, Konsep Pendidikan Akhlak menurut Ibnu Miskawaih, Disertai
(Jakarta: IAIN Jakarta, 1995/1996), 77-88.
[5]Ibid
,hal. 83
[6]Ibid,
hal. 112
[8]Majid
Fakhry, Sejarah Filsaat Islam, terj: R. Mulyadi Kertanegara( Jakarta
Pustaka Jaya, 1980), 191
[10]Muhammad
Nasher, al-Fikr al- Tarbawi al-‘Arabi al- Islami: al- jaz’u al- Tsani min
Qira’at fi al- Fikr al- Tarbawi(Kuwait: wukalah al- Mutbha’at, 1977), h. 284.
[11]Ibnu
Sina, kitab al-siyasah fi al-tarbiyah (mesir: majalah al- Masyriq, 1906), hal.
1076.
[12]Ibnu
Sina, Kitab al- Siyasah fi al- Tarbiyah, hal. 159.
[13]Ibid,
hal. 117
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment