Quotes Instagram Astetik Trend 2022

PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU TAIMIYAH DAN FETHULLAH GULEN

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar terencana untuk mengembangkan potensi diri manusia baik dari segi jasmaniah maupun rohaniah untuk mencapai suatu tujuan. Hakikat pendidikan pada umumnya merupakan proses pembinaan akal manusia yang merupakan potensi utama dari manusia sebagai makhluk berpikir.[1] Ahmad D. Marimba mengartikan  pendidikan Islam sebagai usaha untuk membimbing keterampilan jasmaniah dan rohaniah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam menuju kepribadian yang sempurna menurut ukuran-ukuran Islam.[2]
Dalam perjalanan pendidikan Islam tentunya tidak terlepas dari pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh dalam rangka mengembangkan pendidikan Islam. Sehingga pendidikan Islam semakin maju dan memiliki kualitas yang baik untuk melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu penulis akan membahasa beberapa tokoh yang berperan dalam pendidikan Islam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam?
2.      Bagaimana Pemikiran Pendidikan  Menurut Ibnu Taimiyah?
3.      Bagaimana Pemikiran Pendidikan  Menurut Fethullah Gulen?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam?
2.      Mengetahui  Pemikiran Pendidikan  Menurut Ibnu Taimiyah?
3.      Mengetahui  Pemikiran Pendidikan  Menurut Fethullah Gulen?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam
Secara etimologi, pemikiran berasal dari kata "pikir" yang berarti proses, cara, atau perbuatan memikir, yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Adapun pemikiran pendidikan adalah aktivitas yang teratur dengan mempergunakan metode filsafat. Pendekatan tersebut dipergunakan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan dalam sebuah sistem yang integral.
Dengan berpijak pada definisi di atas, yang dimaksud dengan pemikiran pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan hati yang dilakukan secara sungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah paradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan peserta didik secara paripurna.[3]
B.     Pemikiran Pendidikan Ibnu Taimiyah
1.      Biografi Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama’ di zamannya. Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyah. Beliau lahir di kota Harran, wilayah Siria pada tanggal 10 Rabi’ul Awal 661 H. Bertepatan dengan 22 Januari 1263 M.[4]
2.      Pemikiran Ibnu Taimiyah
Secara subtansi, pemikiran pendidikan menurut Ibnu Taimiyah lebih menekankan pada prinsip tauhid dan kemanusiaan. Pada prinsip tauhid, dapat dipahami bahwa seseorang dikatakan ‘alim tidak hanya sebatas menguasai ilmu pengetahuan semata. Akan tetapi harus bersaksi atas ke-Tuhanan Allah dan mengesakannya. Dengan kata lain seseorang dikatakan ‘alim adalah orang yang beriman dan berpegang teguh pada aturan-aturan Allah Swt serta tidak hanya mengandalkan nalar pikirnya semata.[5]
Sedangkan prinsip kemanusiaan berarti bahwa seseorang tidak dapat memperoleh pengetahuan khususnya tentang keyakinan kepada Allah tanpa melalui proses pembelajaran.[6] Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa prinsip pendidikan Islam adalah seseorang tidak hanya  dituntut untuk mendapatkan pengetahuan semata melainkan juga harus melaksanakan kewajibannya sebagai hamba yakni beriman, beribadah, serta berpegang teguh pada hukum-hukum Allah.
Dengan prinsip tersebut Ibnu Taimiyah merumuskan tujuan pendidikan yang diklasifikasikan menjadi 3 komponen yaitu:
a.       Tujuan Individual
Dalam tujuan individual, pendidikan hendaknya mampu mengarahkan dan membentuk pribadi manusia yang mulia. Dimana ketika melakukan aktifitas, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b.      Tujuan Sosial
Pada tujuan sosial, pendidikan harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik serta sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam konteks tujuan tersebut, Ibnu Taimiyah menghendaki setiap manusia harus hidup secara sosial, saling berinteraksi, bekerja sama, saling membantu serta saling menasehati.
c.       Tujuan Dakwah Islam
Tujuan pendidikan dari segi ini adalah mengarahkan umat manusia agar siap dan mampu memikul tugas dakwah Islamiyah keseluruh dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam proses pembelajaran diperlukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi peserta didiknya. Metode pembelajaran menurut Ibnu Taimiyah adalah metode ilmiah dan iradiyah.[7]
Metode ilmiah didasarkan pada benarnya alat untuk memperoleh pengetahuan dan penguasaan secara menyeluruh dalam proses belajar serta mensejajarkan antara ilmu dan perbuatan. Sedangkan metode iradiyah adalah metode yang mengantarkan seseorang pada pengamalan ilmu yang diajarkan.

    Seiring dengan Prinsip dan tujuan pendidikan yang lebih berorientasi pada aspek tauhid sebagaimana diungkapkan diatas. Ibnu Taimiyah juga mengungkapkan tentang etika seorang guru dan peserta didik. Adapun etika seorang guru sebagai berikut:
a.       Seorang pendidik merupakan khulafa’ yakni orang yang menggantikan misi perjuangan Nabi Saw. Dalam bidang pengajaran.
b.      Sorang pendidik hendaknya menjadi panutan bagi peserta didik dalam hal kejujuran, berakhlak mulia, dan menegakkan syariat Islam.
c.       Seorang pendidik hendaknya memahami serta menambah ilmu pengetahuannya yang akan diajarkan kepada peserta didiknya.
Sedangkan etika peserta didik terhadap guru meliputi empat unsur yaitu:
a.       Peserta didik hendaknya memiliki niat yang baik, yakni menuntut ilmu hanya mengharapkan ridho Allah Swt.
b.      Peserta didik hendaknya memuliakan gurunya.
c.       Peserta didik hendaknya menghargai satu sama lain.[8]
Dari beberapa pemikiran diatas, dapat disimpulkan bahwa pandangan Ibnu Taimyah tentang konsep pendidikan bahwa menuntut ilmu merupakan bagian dari kegiatan ibadah. Sedangkan memahami dan mengamalkan ilmu yang didapat merupakan ciri khas dari ketaqwaan. Sehingga falsafah pendidikan yang dibangun berlandaskan tauhid. Sehubungan dengan hal tersebut maka tujuan pendidikan yang harus dicapai mencakup pendidikan tauhid dan hubungan masyarakat. 
C.    Pemikiran Pendidikan Islam Fethullah Gulen
1.      Biografi Fethullah Gulen
Fethullah Gulen adalah seorang pemikir dan penulis yang masyhur. Beliau lahir di Erzumun Turki Timur pada 27 April 1941. Selain menekui kajian ilmu keagamaan dari beberapa guru spiritual, beliau juga menekuni ilmu-ilmu sosial modern dan sains fisika.[9] Fethullah Gulen lahir di keluarga yang sangat agamis dan kental akan semangat ke-Islaman dari pasangan suami istri yang sangat ta’at. Ayahnya bernama Ramiz Gulen, sedangkan ibunya bernama Rafiah Hanim. Dalam keluarga seperti itulah Fetullah Gulen tumbuh dewasa.[10]
Pendidikan yang telah dimulai Gulen dari rumahnya sendiri kemudian berlanjut dalam lembaga pendidikan resmi yang terdapat di kota Erzurum. Sementara pendidikan spiritual yang juga telah dimulai oleh ayah kandungnya, kemudian dilanjutkan oleh Gulen dengan berguru pada M. Lutfi Efendi. Berkat pendidikan yang diterimanya dari gurunya ini, pendidikan spiritual Gulen pun tidak terputus dan terus berlangsung di sepanjang hidupnya secara berdampingan dengan ilmu-ilmu ke-Islaman.[11]
2.      Pemikiran Fethullah Gulen
Pendidikan merupakan bekal untuk di masa yang akan datang. Sehingga dengan pendidikan akan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik sebagai penentu masa depan suatu bangsa/negara. Menurut Gulen, pendidikan berperan sebagai misi perdamaian. Beliau menyadari bahwa masa depan perdamaian terletak dipundak generasi muda. Oleh karena itu mereka yang ingin melihat masa depan yang damai, maka harus mencurahkan setiap tenaga dan pikirannya untuk mendidik generasi mudanya.[12]
Menurut Gulen, pendidikan merupakan bagian dari gerakan pembaharuan yang diusungnya. Saat ini sudah ada 200 lebih institusi pendidikan yang menggunakan model pendidikan fethullah Gulen. Beliau menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga, karena pendidikan dalam keluarga merupakan awal dari pendidikan anak untuk membentuk karakternya. Oleh karena itu pendidikan dalam keluarga merupakan salah satu organ penting yang sangat digalakkan oleh Fethullah Gulen.[13]
Selain pendidikan di dalam keluarga, Gulen juga membentuk lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai sarana pencarian ilmu pengetahuan. pendidikan yang digagas oleh Gulen juga memiliki landasan tasawuf yang kental. Beliau mengenalkan kepada peserta didikanya untuk selalu menanamkan cinta, iman, dan sunnah Nabi Saw. dalam setiap prilaku. Beliau juga mengajarkan kepada peserta didiknya untuk mensucikan diri, menerapkan prinsip hizmet, yaitu melayani masyarakat dan selalu menerapkan konsep dasar dalam tasawuf yaitu, taqwa, taubat, zuhud, ikhlas, tawadhu’, istiqomah, tawakkal, syukur, sabar, dan ma’rifah.[14]
Melalui cinta Ilahi, Gulen lebih berupaya mengharmoniskan para pemeluk agama untuk saling menghargai dan menentang setiap tindakan kekerasan atau bahkan terorisme yang mengatas namakan agama. Dengan demikian, pemikiran pendidikan menurut Fethullah Gulen pada prinsipnya lebih berupaya mengembangkan pendidikan melalui penyeimbangan unsur spiritual dan unsur material.[15] Karena menurutnya harmonisasi antara modernitas dan spiritual maka  alam, manusia, akan damai. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut tentunya harus melalui rekonsiliasi antara unsur spiritual dan material.
Fethullah Gulen menganjurkan agar seorang pendidik bertindak sebagai seorang ayah dari seorang peserta didiknya. Kesucian hati seorang pendidik juga menjadi prioritas utama, karena seorang pendidik bagi peserta didik ibarat bayangan kayu. Bayangan tidak mungkin lurus bila kayunya bengkok. Fethullah Gulen mempunyai metode tersendiri dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didiknya. Perhatian Gulen tentang metode ini lebih ditujukan pada metode khusus bagi pelajaran agama untuk anak-anak.[16]
Adapun metode yang digunakan oleh Fethullah Gulen adalah metode keteladanan bagi mental anak, pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat pada diri mereka. Maksudnya adalah memberikan contoh secara perbuatan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip pendidik yang baik. Untuk melakukan hal tersebut Gulen memberikan asas-asas metode dalam mengajar dan mendidik yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam mengajar, yaitu:
a.     Pendidik sebaiknya menjelaskan sebuah topik pada tingkat pemahaman peserta didik.
b.   Seorang pendidik haruslah berusaha untuk mengajar dengan cinta dan mengajarkan ilmunya dengan metode terbaik yakni yang sesuai dengan materi yang disampaikan.
c.   Tidak melanjutkan pada materi yang lain sebelum benar-benar dimengerti oleh peserta didik.
d. Jika diperlukan, pendidik sebaiknya mendengarkan peserta didik yang sedang menghadapi permasalahan dengan cara memberikan motivasi, semangat dan solusi.[17]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pemikiran pendidikan menurut Ibnu Taimiyah lebih menekankan pada prinsip tauhid dan kemanusiaan. Pada prinsip tauhid, dapat dipahami bahwa seseorang dikatakan ‘alim tidak hanya sebatas menguasai ilmu pengetahuan semata. Akan tetapi harus bersaksi atas ke-Tuhanan Allah dan mengesakannya. Dengan kata lain seseorang dikatakan ‘alim adalah orang yang beriman dan berpegang teguh pada aturan-aturan Allah Swt serta tidak hanya mengandalkan nalar pikirnya semata.
Sedangkan pemikiran pendidikan menurut Fethullah Gulen pada prinsipnya lebih berupaya mengembangkan pendidikan melalui penyeimbangan unsur spiritual dan unsur material. Karena menurutnya harmonisasi antara modernitas dan spiritual maka  alam, manusia, akan damai. Oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut tentunya harus melalui rekonsiliasi antara unsur spiritual dan material.








DAFTAR PUSTAKA
 
Sahin, Ali. Pemikiran M. Fethullah  Gulen dalam Pendidikan  Islam. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2014.
Aziz, Safrudin. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: Kalimedia, 2015
.
Basri,  Hasan.  Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia,  2017.

Mulkhan, Abdul Munir. Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan       Dakwah. Yogyakarta: Sipress, 1993.


[1] Hasan Basri,  Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV Pustaka Setia,  2017),  56.
[2] Ibid., 13.
[3] Abdul Munir Mulkhan,  Paradigma Intelektual Muslim, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah  (Yogyakarta: Sipress, 1993), 184.
[4] Safrudin Aziz, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer  (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 113
[5] Ibid., 115
[6] Ibid.
[7] Ibid., 115-116.
[8] Ibid., 118-119.
[9] Ibid., 173.
[10] Ali Sahin, Pemikiran M. Fethullah  Gulen dalam Pendidikan  Islam (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2014), 9-10.
[11]Ibid., 12.
[12] Aziz, Pemikiran Pendidikan Islam...., 177.
[13] Ibid., 177-178.
[14] Ibid., 179.
[15] Ibid., 180.
[16] Sahin, Pemikiran M. Fethullah  Gulen....., 26.
[17]Ibid., 27-28.

Comments