Quotes Instagram Astetik Trend 2022

PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM

                                                                   
PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM





                                                                  KATA PENGANTAR

        Puji syukur  kepada Allah Yang  Maha  Esa. Yang telah memberi taufiq dan hidayah kepada hambanya sehingga penyusunan Makalah yang berjudul “PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM” ini dapat terselesaikan. Shalawat dan salam tetap kami panjatkan kepada revolusi akbar  yakni Nabi Muhammad SAW. Yang mana berkat jasa dan perjuangannya seluruh umat manusia dapat menikmati terangnya dunia ini yakni dengan addinul islam (agama Islam).
       Kami sangat menyadari, bahwa dalam Makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik serta sarannya dari semua pihak, menuju perbaikan dan penyempurnaan Makalah ini kami harapkan. Dengan terselesaikannya Makalah ini, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak-pihak yang membantu terselesaikannya Makalah ini, mudah-mudahan jasa-jasa mereka di beri penghormatan oleh Allah SWT. Amin.



                                                                              BAB I
                                                                    PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia menyikapi hidup secara lebih bermakna. Seiring perubahannya waktu dan perkembangan zaman, agama agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif didalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia.
         Dirasah Islamiyah atau studi keislaman (Islamic Studies), menjadi sangat penting da menjadi perhatian yang luas. Dirasah Islamiyah atau studi keislaman (Islamic Studies) secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain “usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya, maupun praktek-praktek pelaksanaannya dalam kehidupan sehari hari”.
        Untuk itu diperlukan kajian pendekatan yang dapat digunakan dalam studi keislaman, sehingga kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan dalam memahami ajaran agama, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami masysrakat, tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan pada agama lain, dan hal ini tidak boleh terjadi.

B.    Rumusan Masalah

1.    Bagaimana Pengertian Metode, Metodelogi, Paradigma dan Pendekatan?
2.    Bagaimana Arti dan Ruang Lingkup Studi Islam?
3.    Bagaimana Urgensi Mempelajari Metodelogi Studi Islam?
4.    Bagaimana Pertumbuhan Studi Islam Dulu dan Sekarang?
                                                                              BAB II
                                                                      PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode, Metodologi, Paradigma, dan  Pendekatan Studi Islam

1.    Pengertian Metode dan Metodologi Studi Islam
      Secara bahasa metode berasal dari dua kata, yaitu: Meta yang berarti  “melalui” dan  Hodos berarti “jalan” atau “cara”. Dalam bahasa Arab metode dikenal dengan istilah Thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.
      Secara istilah Peter. R Senn mengemukakan  “ metode  merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Dalam dunia keilmuan  metode dapat diartikan cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji.
      Ketika     kata metode digabungkan dengan kata logos maknanya berubah. Logos berarti “studi tentang” atau “teori tentang”. Oleh karena itu, metodelogi tidak lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima (well received) tetapi berupa kajian tentang metode.  Dalam bahasa Inggris disebut sebagai  Methodology, yang diartikan dengan: “Set of methods and the principle used to performa a particular aktivity”. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengenai sesuatu.
      Dalam metodologi dibicarakan kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Bila dalam metode tidak ada perbedaan, refleksi dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahun, sebaliknya dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat, dan merefleksi cara kerja suatu ilmu.
      Lebih lanjut, studi Islam merupakan gabungan dua kata untuk mencapai pengertian yang sebenarnya kedua kata ini tidak bisa dipisah, maka studi Islam dapat diartikan sebagai pengkajian tentang ilmu-ilmu keislaman. Adapun yang dimaksud ilmu-ilmu keislaman adalah pengkajian tidak hanya kepada aspek-aspeknya yang normatif dan dogmatif, tetapi juga pengkajian yang menyangkut aspek sosiologis.
      Maka, metodologi studi Islam adalah  ilmu tentang cara-cara untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman secara menyeluruh.
2.    Paradigma Studi Islam
      Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir sesorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang (mengenai realita) dan akhirnya akan menentukan seseorang menanggapi realita itu. Lebih lanjut, Robert Friedrichs (1970) mempertegas definisi tersebut sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.
      Pendidikan tidak diarahkan untuk pendidikan itu sendiri, melainkan diarahkan untuk pencapian maksud, arah, dan tujuan dimasa yang akan datang. Dengan demikian, dimensi waktu dalam  pendidikan tidak hanya terbatas pada waktu sekarang, yaitu saat berlangsungnya pendidikan tersebut. Tetapi pendidikan diarahkan pada sikap, prilaku, dan kemampuan serta pengetahuan yang diharapkan akan menjadi pegangan bagi anak didik dalam melaksanakan tugas hidupnya secara betanggung jawab dan dapat menjadi maanusia yang seutuhnya, sebagai mana yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.

3.    Pendekatan Studi Islam
       Diketahui bahwa Islam sebagai agamayang memiliki banyak dimensi, yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal pikiran, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, perdamaian, sampai pada kehidupan rumah tangga, dan masih banyak lagi. 
      Untuk memahami berbagai dimensi ajaran Islam tersebut jelas memerlukan berbagai pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Dalam studi Islam, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, diantaranya:
a.    Pendekatan Sosiologis
        Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara yang terbentuk dan tumbuh serta berubahnya tiap persekutuan manusia.
        Harus ditegaskan disini bahwa orang yang pertama kali menggagas sekaligus memperaktekkan sosiologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru yang mandiri adalah Ibn Khaldun. Namun, sebagian besar sosiolog memandang konstribusi Ibn Khaldun begitu kecil dalam sosiologi. Mereka lebih mengakui Krl Max dan Auguste Comte sebagai seorang yang paling berjasa bagi disiplin ilmu sosiologi. 
       Pendekatan sosiologis dibedakan dari pendekatan  studi agama lainnya karena fokus perhatiannya pada interaksi antara agama dan masyarakat. Teori sosiologis tentang watak agama serta kedudukan dan signifikansinya dalam dunia sosial, mendorong ditetapkannya serangkaian kategori-kategori sosiologis, meliputi:
1.    Stratifikasi sosial, seperti kelas sosial.
2.    Kategori biososial, seperti gender, perkawinan, dan usia.
3.    Pola organisasi sosial, meliputi politik, produksi ekonomis, sistem-sistem pertukaran dan birokrasi.
b.    Pendekatan Historis
       Sejarah atau historis adalah ilmu yang membahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam  memehami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
      Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat emperisme dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keelarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada dalam emperis dan historis.
c.    Pendekatan Antropologis
      Pendekatan ini dapat diartikan  sebagai  salah  satu upaya dalam memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. 
      Melalui pendekatan ini agama tampak lebih akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
d.    Pendekatan Psikologis
      Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat  keagamaan yang dihayati, dipahami, dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya. 
B.    Arti dan Ruang Lingkup Studi Islam
            Agama sebagai objek studi minimal dapat dilihat dari segi sisi:
1.    Sebagai doktrin dari Tuhan yang sebenarnya bagi para pemeluknya sudah final dalam arti absolute, dan diterima apa adanya.
2.    Sebagai gejala budaya, yang berarti seluruh yang menjadi kreasi manusia dalam kaitannya dengan agama, termasuk  pemahaman orang terhadap doktrin agamanya.
3.    Sebagai interaksi sosial, yaitu realitas umat Islam.
       Bila Islam dilihat dari tiga sisi, maka ruang lingkup studi Islam dapat dibatasi pada tiga sisi tersebut. Oleh karna sisi doktrin merupakan suatu keyakinan atas kebenaran teks wahyu, maka hal ini tidak memerlukan penelitian didalamnya.

C.    Urgensi Mempelajari Metodologi Studi Islam
      Kenyataan  sejarah menunjukkan (terutama setelah masa keemasan umat Islam dan umat Islam sudah masuk masa kemunduran) bahwa pendekatan studi keislaman yang berdominasi kalangan ulama Islam lebih cenderung bersifat subjektif, apologis, dan doktiner, serta menutup diri terhadap pendekatan yang dilakukan oleh kalangan luar Islam yang bersifat objektif dan rasional.
      Seiring berkembangnya zaman, mempelajari metodologi studi Islam diharapkan dapat mengarahkan kita untuk mengadakan usaha-usaha pembaharuan dalam pemikiran ajaran-ajaran islam.
      Disamping itu, metodologi studi Islam merupakan solusi agar islam tidak mudah disalah pahami oleh outsider (non muslim).  Pada masa sekarang ini, umat Islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, maka studi Islam menjadi sangat urgen.
      Urgensi studi Islam yang demikian dapat dipahami dari dua hal, yaitu:
1.    Umat Islam saat ini pada kondisi problematis.
2.    Umat Islam dan peradabannya berada dalam suasana problematis.
  Disinilah urgensi studi Islam, untuk menggali kembali ajaran-ajaran islam yang asli dan murni serta bersifat manusiawi yang kemudian didikkan dan ditransformasikan kepada generasi penerusnya dan dihadapkan dengan budaya dan peradaban modern, agar mampu berhadapan dan beradaptasi dengannya. 

D.    Perkembangan Studi Islam Dulu dan Sekarang
       Masa kejayaan  pendidikan Islam merupakan suatu periode dimana pendidikan Islam berkembang pesat yang ditandai dengan  berkembangnya lembaga pendidikan Islam dan madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam pusat kebudayaan Islam.
       Pada masa kejayaan ini, pendidikan Islam merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan Islam. Kebudayaan Islam telah berkembang dengan cepat sehingga mengungguli bahkan menjadi puncak budaya budaya umat manusia pada saat itu. Dalam perkembangan kebudayaan Islam, ada dua faktor yang mempengaruhi yaitu faktor intern atau pembawaan dari ajaran  Islam itu sendiri, dan faktor ekstern yaitu berupa tantangan dan rangsangan dari luar.
      Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa pemerintahan  Harun Al-Rasyid  (170-193 H). Karena beliau adalah ahli ilmu pengetahuan dan mempunyai kecerdasan serta didukung negara dalam kondisi aman, tenang dan dalam masa pembangunan sehingga dunia Islam pada saat itu diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
      Pada masa kejayaan Islam, mata pelajaran bagi kurikulum sekolah tingkat rendah adalah Al-Quran, agama, membaca, menulis, dan syair. Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran khittabah, ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, ilmu-ilmu pokok seperti Al-Quran, syair dan fiqih. Di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti masjid, kurikulumnya adalah ilmu agama dengan Al-Quran sebagai intinya. Selain itu hadits dan tafsir.
      Studi Islam sekarang ini berkembang hampir diseluruh negara di dunia, baik negara Islam maupun bukan negara Islam. Di negara Islam terdapat pusat-pusat studi Islam, seperti universitas al-Azhar di Mesir dan universitas Ummul Qura di Arab Saudi.
      Di Indonesia, studi Islam (pendidikan Islam tinggi) dilaksanakan di 14 Institut Agama Islam Negri (sekarang UIN) dan 39 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI). Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan islam tinggi sebagai salah satu bagian studinya, seperti fakultas agama di Universitas Muhammadiyah jakarta, Universitas Islam Bandung (UNISBA), dan Universitas Islam Nusantara (UNINUS) di Bandung.


                                                                           BAB III
                                                                         PENUTUP

A.    Kesimpulan 

       Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut dengan  metode, yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji. Kemudian metodologi merupakan ilmu yang berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran, baik dalam aspek persial atau total.
      Diketahui bahwa Islam sebagai agamayang memiliki banyak dimensi, yaitu mulai dari dimensi keimanan, akal pikiran, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sejarah, perdamaian, sampai pada kehidupan rumah tangga, dan masih banyak lagi. Untuk memahami berbagai dimensi ajaran Islam tersebut jelas memerlukan berbagai pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. 
       Disamping itu, metodologi studi Islam merupakan solusi agar islam tidak mudah disalah pahami oleh outsider (non muslim). Pada masa sekarang ini, umat Islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, maka studi Islam menjadi sangat urgen.
      Urgensi studi Islam yang demikian dapat dipahami dari dua hal, yaitu:
1.    Umat Islam saat ini pada kondisi problematis.
2.    Umat Islam dan peradabannya berada dalam suasana problematis.
  Disinilah urgensi studi Islam, untuk menggali kembali ajaran-ajaran islam yang asli dan murni serta bersifat manusiawi yang kemudian didikkan dan ditransformasikan kepada generasi penerusnya dan dihadapkan dengan budaya dan peradaban modern, agar mampu berhadapan dan beradaptasi dengannya.



DAFTAR PUSTAKA


Dianawati, Novies. “Urgensi Mempelajari Metodologi Studi Islam”. Blogspot.        https://www.blogspot.com/2015/03/28.html. diakses tanggal 10 Februari 2018.

Gozali, Ahmad. “Pengantar Metodologi Studi Islam”. Blogspot.  https://www.blogspot.com /2015/05/23.html.  diakses tanggal 10 Februari 2018.

Nurfaizin, M.,dkk. “Metodologi Studi Islam:  Ruang Lingkup dan Aneka Pendekatannya”. Blogspot.   https://www.blogspot.com/2012/04/28.html. diakses tanggal 10 Februari 2018.

Rahman, Jazuli. “Pertumbuhan dan Perkembangan Studi Islam di Negara Muslim”. Blogspot. https://www.blogspot.com/2015/05.html. diakses tanggal 10 Februari 2018.

Comments