- Get link
- X
- Other Apps
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250). Dalam sejarah, puncak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. Pada masa ini telah hidup ulama besar, yang tidak sedikit jumlahnya, baik dibidang tafsir, Hadits, fiqih, ilmu kalam, tasawuf, sejarah maupun bidang pengetahuan lainnya. Berdasarkan bukti historis ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan pengetahuan Hadits berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan lainnya.
Para Ulama berpendapat bahwa Ulumul Hadits adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi SAW., atau ilmu yang membahas tentang perihal Hadits baik dari segi periwayatannya atau dari segi materi/matan riwayat Hadits adalah suatu ilmu yang sangat penting. Oleh karena itu mendalami ilmu hadis adalah suatu keharusan bagi para pemangku Hadîts.
Ulumul Hadits terdiri atas dua kata, yaitu Ulumul dan al-Hadits. Kata Ulumul dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berati “ilmu-ilmu”; sedangkan al-Hadits di kalangan Ulama Hadits berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. dari perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat. Dengan demikian Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas Hadits. Dengan demikian, Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW.
Para Ulama berpendapat bahwa Ulumul Hadits adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi SAW., atau ilmu yang membahas tentang perihal Hadits baik dari segi periwayatannya atau dari segi materi/matan riwayat Hadits adalah suatu ilmu yang sangat penting. Oleh karena itu mendalami ilmu hadis adalah suatu keharusan bagi para pemangku Hadîts.
Ulumul Hadits terdiri atas dua kata, yaitu Ulumul dan al-Hadits. Kata Ulumul dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berati “ilmu-ilmu”; sedangkan al-Hadits di kalangan Ulama Hadits berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. dari perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat. Dengan demikian Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas Hadits. Dengan demikian, Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi ilmu Hadits?
2. Apa saja cabang-cabang ilmu Hadits?
2. Apa saja cabang-cabang ilmu Hadits?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi ilmu Hadits.
2. Untuk mengetahui cabang-cabang ilmu Hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Ilmu Hadits
2. Untuk mengetahui cabang-cabang ilmu Hadits.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Ilmu Hadits
Ilmu Hadits terdiri dari dua kata yaitu “ilmu” dan “Hadits”. Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dibidang pengetahuan itu. Sedangkan Hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan, sifat atau sirah beliau. Jadi, dapat dijelaskan bahwa ilmu Hadits adalah ilmu yang membicarakan tentang keadaan atau sifat para perawi dan yang diriwayatkan.
Jadi dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu Hadits adalah ilmu yang berpautan atau ilmu yang berkaitan dengan Hadits. Apabila dilihat dari garis besarnya ilmu hadits terbagi menjadi dua, yaitu ilmu Hadits Riwayat (Riwayah) dan ilmu Hadits Dirayat (Dirayah).
1. Ilmu Hadits Riwayat (Riwayah)
Ilmu Hadits Riwayat adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang dibenarkan beliau, atau sifat-sifat beliau sendiri secara detail dan dapat dipertanggung jawabkan.
Objek pembahasannya yakni sabda Rasulullah, perbuatan beliau, ketetapan beliau, dan sifat-sifat beliau dari segi periwayatannya secara detail dan mendalam. Manfaat ilmu ini ialah menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan-kesalahan dalam periwayatannya.
2. Ilmu Hadits Dirayat (Dirayah)
Ilmu Hadits Dirayat adalah suatu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah (patokan), yang dengan kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi dan yang diriwayatkan dari segi diterima atau ditolaknya. Keadaan perawi dari segi diterima dan ditolaknya hadits maksudnya, mengetahui keadaan secara jarh dan ta’dil, bagaimana cara penukilan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penukilan hadits. Sedangkan maksud dari kondisi yang diriwayatkan adalah semua yang berhubungan dengan bersambung dan putusnya sanad, mengetahui cacatnya hadits, dan hal-hal yang berkaitan dengan Shahih dan tidaknya hadits.
Objek pembahasan ilmu Hadits Dirayat adalah sanad dan matan dari segi kondisi masing-masing. Manfaat ilmu Hadits Dirayat ialah untuk mengetahui hadits yang diterima dan hadits yang ditolak. Para ulama hadits menamakan ilmu hadits dirayah ini dengan sebutan Ulumul Hadits, Musthalah Hadits dan Ushulul Hadits. Itu karena dengan memperhatikan ilmu hadits dirayah ini dapat membuahkan beberapa ilmu. Para ulama mengkaji ilmu ini dari salah satu segi, lalu memisahannya dalam satu karya sehingga menjadi ilmu baru, maka tumbuhlah beberapa ilmu yang menjadi cabang dari Ulumul Hadits.
B. Cabang-cabang Ilmu Hadits
Ilmu hadits memiliki banyak cabang. Adapun cabang-cabang ilmu hadits sebagai berikut:
Ilmu hadits memiliki banyak cabang. Adapun cabang-cabang ilmu hadits sebagai berikut:
1. Ilmu Rijalul Hadits
Ilmu Rijalul Hadits adalah ilmu yang membahas para perawi Hadits, baik dari sahabat, dari Tabi’in, maupun dari angkatan-angkatan sesudahnya. Ilmu Rijalul Hadits dinamakan juga dengan ilmu Tarikh ar-Ruwwat (ilmu sejarah perawi) yaitu ilmu yang mengetahui tentang keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negri dan tanah air mereka dan selain itu juga membahas tentang apa yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka.
Berikut beberapa kitab yang terkenal mengenai sahabat:
a. Kitab Ma’rifat Man Nazala min Ash-Shahabah Sa’irah Al-Buldan karya Imam Ali bin Abdillah Al-Madini (wafat tahun 234 H).b. Kitab Tarikh Ash-Shahabah karya Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat tahun 256 H).
c. Kitab Al-Isti’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab karya Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah yang masyhur dengan Ibnu Abdil Al-Qurthubi (wafat tahun 463 H).
d. Kitab Usudul Ghabah fi Ma’rifat Ash-Shahabah karya ‘izzuddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Atsir Al-Jazari (wafat 630 H).
2. Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
Al-Jarh Secara bahasa berarti luka yang mengalirkan darah. Sedangkan menurut istilah al-Jarh adalah terlihatnya sifat pada seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke’adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur periwayatannya, atau melemahkannya sehingga kemudian ditolak.
Al-‘Adlu secara bahasa berarti apa yang lurus dalam jiwa, dan seorang yang ‘adil artinya kesaksiannya diterima, dan at-ta’dil artinya mensucikan dan membersihkannya. Jadi, at-Ta’dil adalah pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, sehingga nampak ke’adalahannya dan diterima keadilannya.
Dari penjelasan di atas, maka ilmu Al-Jarh wa at-Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta’dilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.
Berikut beberapa kitab tentang Al-Jarh wa at-Ta’dil:
a. Kitab Ma’rifat Ar-Rijal karya Yahya bin Ma’in (wafat pada tahun 233 H).
b. Kitab Adh-Dhu’afa’ Al-Kabir dan Adh-Dhu’afa’Ash-Shaghir karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (wafat pada tahun 256 H).
c. Kitab Ats-Tsiqat karya Abu Al-Hasan Ahmad bin Abdillah bin Shalih Al-‘Ijly (wafat tahun 261 H).
d. Kitab Adh-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad bin Ali An-Nasa’i (wafat tahun 303 H).
3. Ilmu Gharib Al-Hadits
Ilmu Rijalul Hadits adalah ilmu yang membahas para perawi Hadits, baik dari sahabat, dari Tabi’in, maupun dari angkatan-angkatan sesudahnya. Ilmu Rijalul Hadits dinamakan juga dengan ilmu Tarikh ar-Ruwwat (ilmu sejarah perawi) yaitu ilmu yang mengetahui tentang keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negri dan tanah air mereka dan selain itu juga membahas tentang apa yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka.
Berikut beberapa kitab yang terkenal mengenai sahabat:
a. Kitab Ma’rifat Man Nazala min Ash-Shahabah Sa’irah Al-Buldan karya Imam Ali bin Abdillah Al-Madini (wafat tahun 234 H).b. Kitab Tarikh Ash-Shahabah karya Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat tahun 256 H).
c. Kitab Al-Isti’ab Fi Ma’rifati Al-Ashhab karya Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah yang masyhur dengan Ibnu Abdil Al-Qurthubi (wafat tahun 463 H).
d. Kitab Usudul Ghabah fi Ma’rifat Ash-Shahabah karya ‘izzuddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Atsir Al-Jazari (wafat 630 H).
2. Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
Al-Jarh Secara bahasa berarti luka yang mengalirkan darah. Sedangkan menurut istilah al-Jarh adalah terlihatnya sifat pada seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke’adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur periwayatannya, atau melemahkannya sehingga kemudian ditolak.
Al-‘Adlu secara bahasa berarti apa yang lurus dalam jiwa, dan seorang yang ‘adil artinya kesaksiannya diterima, dan at-ta’dil artinya mensucikan dan membersihkannya. Jadi, at-Ta’dil adalah pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, sehingga nampak ke’adalahannya dan diterima keadilannya.
Dari penjelasan di atas, maka ilmu Al-Jarh wa at-Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta’dilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.
Berikut beberapa kitab tentang Al-Jarh wa at-Ta’dil:
a. Kitab Ma’rifat Ar-Rijal karya Yahya bin Ma’in (wafat pada tahun 233 H).
b. Kitab Adh-Dhu’afa’ Al-Kabir dan Adh-Dhu’afa’Ash-Shaghir karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (wafat pada tahun 256 H).
c. Kitab Ats-Tsiqat karya Abu Al-Hasan Ahmad bin Abdillah bin Shalih Al-‘Ijly (wafat tahun 261 H).
d. Kitab Adh-Dhu’afa’ wa Al-Matrukin karya Imam Ahmad bin Ali An-Nasa’i (wafat tahun 303 H).
3. Ilmu Gharib Al-Hadits
Ilmu Gharib Al-Hadits adalah Ilmu yang menerangkan makna kalimat-kalimat yang terdapat dalam matan Hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. Gharib Al-Hadits yang dimaksudkan dalam ilmu Hadits ini ialah bertujuan menjelaskan satu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik dan yang susah dipahami, karena jarang dipakai sehingga ilmu ini dapat membantu dalam memahami Hadits tersebut.
Sejak dimulainya pembukuan Hadits pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga hijriyah, para ulama sudah menyusun buku-buku tentang gharib al-hadits. Orang yang pertama menyusun dalam gharib al-hadits adalah Abu Ubaidah Mu’ammar bin Al-Mutsanna At-Taimi (wafat tahun 210 H).
Berikut buku-buku terkenal dalam bidang ini:
a. Kitab Gharib al-Hadits karya Abul Hasan An-Nadhr bin Syumail Al-Mazini (wafat tahun 203 H).
b. Kitab Gharib al-Atsar karya Muhammad bin Al-Mustanir (wafat tahun 206 H).
c. Kitab Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam (wafat 224 H).
d. Kitab Al-Musytabah min al-Hadits wa al-Qur’an karya Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dainuri (wafat tahun 276 H).
e. Kitab Gharib al-Hadits karya Qasim bin Tsabit bin Hazm Sirqisthi (wafat 302 H).
4. Ilmu ‘Ilal Hadits
Ilmu ‘ilal Hadits adalah Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat merusak Hadits. Seperti menyambung yang munqathi’, memarfu’kan yang mauquf, memasukkan suatu Hadits kehadits yang lain, menempatkan sanad pada matan yang bukan semestinya, dan yang serupa itu. Semuanya ini, bila diketahui dapat merusak keshahihan Hadits.
Ilmu ini adalah ilmu yang tersamar bagi para ahli Hadits, ilmu ini juga dapat dikatakan jenis ilmu Hadits yang paling dalam dan rumit. Tidak dapat diketahui penyakit-penyakit Hadits, melainkan ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai kemampuan yang kuat terhadap sanad dan matan-matan Hadits.
Di antara riwayat Hadits, ada yang asli, ada yang mengalami perubahan pada lafadz atau penambahan, pemalsuan dan sebagainya. Semua ini hanya dapat diketahui oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang ilmu ini.
Berikut buku yang terkenal dalam bidang ini:
a. Kitab At-Tarikh wa Al-Ilal karya Al-Hafizh Yahya bin Ma’in (wafat tahun 233 H).
b. Kitab Ilal Al-Hadits karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H).
c. Kitab Al-Musnad Al-Mu’allal karya Al-Hafizh Ya’qub bin Syaibah As-sadusi Al-basri (wafat 262 H).
d. Kitab Al-Ilal karya Imam Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (wafat tahun 279 H).
e. Kitab Ilal Al-Hadits karya Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi (wafat 327 H).
5. Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits adalah ilmu yang menggabungkan dan memadukan antara hadits-hadits yang zhahirnya bertentangan. Atau ilmu yang menerangkan ta’wil hadits yang musykil meskipun tidak bertentangan dengan hadits lain.
Oleh sebagian ulama dinamakan dengan “Mukhtalaf al-hadits” atau “Musykil Hadits”, atau semisal itu karena ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menguasai hadits dan fiqih.
Berikut buku-buku yang terkenal dalam ilmu mukhtalaf dan musykil Hadits:
a. Kitab Ikhtilaf Al-Hadits, karya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (wafat 204 H).
b. Kitab Ta’wil Mukhtalaf Hadits, karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H).
c. Kitab Musykil Al-Atsar, karya Imam Al-Muhaddits Al-Faqih Abun Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi (wafat 321 H).
d. Kitab Musykil Al-Hadits wa Bayanuhu, karya Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan bin Faurak Al-Ansahari Al-Ashbahani (wafat 406 H).
6. Ilmu Musthalah Hadits
Ilmu Musthalah Hadits ialah ilmu tentang dasar dan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya. Objeknya ilalah sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya. Buah dari ilmu ini ialah membedakan hadits shahih dan yang tidak shahih.
Berikut beberapa kitab yang masyhur dalam ilmu musthalah hadits:
a. Al-Muhadditsu al-Fashilu Baina ar-Rawi wal Waa’i, karya Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Khallad ar-Ramahurmuzy (wafat 360 H).
b. Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits, karya Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah al-Hakim an-Naisaburi (wafat tahun 405 H).
c. Al-Mustakhraj ‘Ala Ma’rifati ‘Ulumil Hadits, karya Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (wafat tahun 430 H).
d. Al-Kifaayah fii ‘Ilmi ar-Riwaayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan al-Khatib al-Bagdadi (wafat tahun 463 H).
e. Nukhbatul Fikar fii Muathalah Ahli Atsar, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (wafat tahun 852 H).
7. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits
Ilmu Nasikh dan Mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadits dihukumi sebagai Nasikh dan yang lain sebagai Mansukh. Ilmu Nasikh dan Mansukh adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah di mansukhkan dan yang menasikhkannya. Hadits yang lebih dahulu disebut Mansukh, dan hadits yang datang kemudian menjadi Nasikh.
Mengetahui Nasikh dan Mansukh merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syari’ah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil Nasikh dan Mansukh. Oleh sebab itu para ulama sangat memperhatikan ilmu tersebut dan menganggapnya sebagai satu ilmu yang sangat penting dalam bidang ilmu hadits.
Berikut karya-karya yang disusun tentang Nasikh dan Mansukh hadits:
a. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Qatadah bin Di’amah As-Sadusi (wafat 118 H), namun tidak sampai ketangan kita.
b. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (wafat 261 H).
c. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya ahli hadits Irak, Abu Hafsh Umar Ahmad Al-Bagdadi, dikenal dengan Ibnu Syahin (wafat 385 H).
d. Al-I’tibar fi An-Nasikh wa Al-Mansukh min Al-Atsar, karya Imam Al-Hafizh An-Nassabah Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Hamdani (wafat 584 H).
e. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Abu Faraj Abdurrahman bin Ali, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Al-Jauzi.
8. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits
Ilmu asbab wurud al-hadits adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. Berikut beberapa kitab terkenal tentang ilmu asbab wurud al-hadits:
a. Al-Luma’ fi Asbab Wurud al-Hadits, karya As-Suyuthi.
b. Al-Bayan wa at-Ta’rifi Asbab Wurud al-Hadits Asy-Syarif, karya Abu Hamzah ad-Dimisyqi.
Sejak dimulainya pembukuan Hadits pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga hijriyah, para ulama sudah menyusun buku-buku tentang gharib al-hadits. Orang yang pertama menyusun dalam gharib al-hadits adalah Abu Ubaidah Mu’ammar bin Al-Mutsanna At-Taimi (wafat tahun 210 H).
Berikut buku-buku terkenal dalam bidang ini:
a. Kitab Gharib al-Hadits karya Abul Hasan An-Nadhr bin Syumail Al-Mazini (wafat tahun 203 H).
b. Kitab Gharib al-Atsar karya Muhammad bin Al-Mustanir (wafat tahun 206 H).
c. Kitab Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam (wafat 224 H).
d. Kitab Al-Musytabah min al-Hadits wa al-Qur’an karya Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dainuri (wafat tahun 276 H).
e. Kitab Gharib al-Hadits karya Qasim bin Tsabit bin Hazm Sirqisthi (wafat 302 H).
4. Ilmu ‘Ilal Hadits
Ilmu ‘ilal Hadits adalah Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat merusak Hadits. Seperti menyambung yang munqathi’, memarfu’kan yang mauquf, memasukkan suatu Hadits kehadits yang lain, menempatkan sanad pada matan yang bukan semestinya, dan yang serupa itu. Semuanya ini, bila diketahui dapat merusak keshahihan Hadits.
Ilmu ini adalah ilmu yang tersamar bagi para ahli Hadits, ilmu ini juga dapat dikatakan jenis ilmu Hadits yang paling dalam dan rumit. Tidak dapat diketahui penyakit-penyakit Hadits, melainkan ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai kemampuan yang kuat terhadap sanad dan matan-matan Hadits.
Di antara riwayat Hadits, ada yang asli, ada yang mengalami perubahan pada lafadz atau penambahan, pemalsuan dan sebagainya. Semua ini hanya dapat diketahui oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang ilmu ini.
Berikut buku yang terkenal dalam bidang ini:
a. Kitab At-Tarikh wa Al-Ilal karya Al-Hafizh Yahya bin Ma’in (wafat tahun 233 H).
b. Kitab Ilal Al-Hadits karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H).
c. Kitab Al-Musnad Al-Mu’allal karya Al-Hafizh Ya’qub bin Syaibah As-sadusi Al-basri (wafat 262 H).
d. Kitab Al-Ilal karya Imam Muhammad bin Isa At-Tirmidzi (wafat tahun 279 H).
e. Kitab Ilal Al-Hadits karya Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi (wafat 327 H).
5. Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits adalah ilmu yang menggabungkan dan memadukan antara hadits-hadits yang zhahirnya bertentangan. Atau ilmu yang menerangkan ta’wil hadits yang musykil meskipun tidak bertentangan dengan hadits lain.
Oleh sebagian ulama dinamakan dengan “Mukhtalaf al-hadits” atau “Musykil Hadits”, atau semisal itu karena ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menguasai hadits dan fiqih.
Berikut buku-buku yang terkenal dalam ilmu mukhtalaf dan musykil Hadits:
a. Kitab Ikhtilaf Al-Hadits, karya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (wafat 204 H).
b. Kitab Ta’wil Mukhtalaf Hadits, karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H).
c. Kitab Musykil Al-Atsar, karya Imam Al-Muhaddits Al-Faqih Abun Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi (wafat 321 H).
d. Kitab Musykil Al-Hadits wa Bayanuhu, karya Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan bin Faurak Al-Ansahari Al-Ashbahani (wafat 406 H).
6. Ilmu Musthalah Hadits
Ilmu Musthalah Hadits ialah ilmu tentang dasar dan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya. Objeknya ilalah sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya. Buah dari ilmu ini ialah membedakan hadits shahih dan yang tidak shahih.
Berikut beberapa kitab yang masyhur dalam ilmu musthalah hadits:
a. Al-Muhadditsu al-Fashilu Baina ar-Rawi wal Waa’i, karya Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Khallad ar-Ramahurmuzy (wafat 360 H).
b. Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits, karya Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah al-Hakim an-Naisaburi (wafat tahun 405 H).
c. Al-Mustakhraj ‘Ala Ma’rifati ‘Ulumil Hadits, karya Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (wafat tahun 430 H).
d. Al-Kifaayah fii ‘Ilmi ar-Riwaayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan al-Khatib al-Bagdadi (wafat tahun 463 H).
e. Nukhbatul Fikar fii Muathalah Ahli Atsar, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (wafat tahun 852 H).
7. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits
Ilmu Nasikh dan Mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadits dihukumi sebagai Nasikh dan yang lain sebagai Mansukh. Ilmu Nasikh dan Mansukh adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah di mansukhkan dan yang menasikhkannya. Hadits yang lebih dahulu disebut Mansukh, dan hadits yang datang kemudian menjadi Nasikh.
Mengetahui Nasikh dan Mansukh merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syari’ah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil Nasikh dan Mansukh. Oleh sebab itu para ulama sangat memperhatikan ilmu tersebut dan menganggapnya sebagai satu ilmu yang sangat penting dalam bidang ilmu hadits.
Berikut karya-karya yang disusun tentang Nasikh dan Mansukh hadits:
a. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Qatadah bin Di’amah As-Sadusi (wafat 118 H), namun tidak sampai ketangan kita.
b. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (wafat 261 H).
c. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya ahli hadits Irak, Abu Hafsh Umar Ahmad Al-Bagdadi, dikenal dengan Ibnu Syahin (wafat 385 H).
d. Al-I’tibar fi An-Nasikh wa Al-Mansukh min Al-Atsar, karya Imam Al-Hafizh An-Nassabah Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Hamdani (wafat 584 H).
e. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Abu Faraj Abdurrahman bin Ali, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Al-Jauzi.
8. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits
Ilmu asbab wurud al-hadits adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. Berikut beberapa kitab terkenal tentang ilmu asbab wurud al-hadits:
a. Al-Luma’ fi Asbab Wurud al-Hadits, karya As-Suyuthi.
b. Al-Bayan wa at-Ta’rifi Asbab Wurud al-Hadits Asy-Syarif, karya Abu Hamzah ad-Dimisyqi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu Hadits adalah ilmu yang berpautan atau ilmu yang berkaitan dengan Hadits. Apabila dilihat dari garis besarnya ilmu hadits terbagi menjadi dua, yaitu ilmu Hadits Riwayat (Riwayah) dan ilmu Hadits Dirayat (Dirayah).
Dengan memperhatikan ilmu hadits dirayah ini dapat membuahkan beberapa ilmu seperti:
1. Ilmu Rijalul Hadits
2. Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil
3. Ilmu Gharib Al-Hadits
4. Ilmu ‘Ilal Hadits
5. Ilmu mukhtalaf dan Musykil Hadits
6. Ilmu Musthalah Hadits
7. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits
8. Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qaththan, Syaikh Manna’. Pengantar Studi Ilmu Hadits. Terj. Mifdhol Abdurrahman. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2010.
- KBBI.
- Yusri, Dairina. “Cabang Cabang Ilmu Hadits”. Jurnal Hikmah, (Januari-Juni, 2017), Vol. 14, hlm. 43-48.
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment