Quotes Instagram Astetik Trend 2022

HUBUNGAN ILMU KALAM, FILSAFAT, DAN TASAWUF_ILMU KALAM

 

HUBUNGAN ILMU KALAM, FILSAFAT, DAN TASAWUF

A.                        AHakikat Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

1.      Hakikat Ilmu Kalam

Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu ke-Islaman yang banyak mengedepankan perbincangan tentang persoalan persoalan kalam Tuhan. Persoalan persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksud adalah landasan pemahaman yang cendrung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendesi pada argumentasi berupa dalil dalil Al Qur’an dan Hadis. Ilmu kalam biasa di sebut dengan beberapa nama, Antara lain: Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tauhid, dan Teologi Islam.[1]

2.      Hakikat Filsafat

Filsafat merupakan ilmu yang berusaha mengungkap segala sesuatu dengan sedalam-dalamnya hingga mencapai kebenaran mutlak. Sebagaimana Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang hakiki.[2] Selanjutnya Aristoleles mengatakan bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.[3]

3.      Hakikat Tasawuf

Tasawuf merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara membersihkan diri (hati/jiwa), berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan makrifat menuju keabadian, mendekatkan diri dan mencapai keridhaan Allah Swt.[4]

B.     BHubungan Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf  berfungsi sebagai pemberi wawasan spritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam melalui hati (dzauq dan widan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid. Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam.

Ketiganya berusaha menemukan apa yang disebut kebenaran (al-haq). Kebenaran dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati. Kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur’an & Hadis). Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud). Maka ketiganya mendalami pencarian segala yang bersifat rahasia (gaib) yang dianggap sebagai ‘kebenaran terjauh’ dimana tidak semua orang dapat melakukannya.

C.    Titik Persamaan dan Perbedaan Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf

1.      Titik Persamaan

Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan  dan  segala sesuatu yang berkaitan dengannya,  objek kajian  filsafat  adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Sementara itu objek kajian tasawuf adalah tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya. Jadi, dilihat dari aspek objeknya ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.

2.      Titik Perbedaan

Perbedaan  diantara  ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan  logika, disamping argumentasi-argumentasi naqliyah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tanpak apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika  (jadaliyah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argemen rasional.

Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memproleh kebenaran rasional. Metode yang digunakanpun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan  (mengembarakan atau mengelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali ikatan tangannnya sendiri yang bernama logika.

Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf  bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseoarang.[5]

Comments