Quotes Instagram Astetik Trend 2022

PERADABAN ISLAM PERIODE MEKAH DAN PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW




PERADABAN ISLAM PERIODE MEKAH DAN PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW 


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang

       Mekah adalah salah satu tempat mulia menurut Islam, bahkan sebelum datangnya Islam. Ditambah lagi dengan lahirnya orang yang paling mulia. Sebagai seorang muslim hendaknya kita mengetahui sejarah nabi Muhammad SAW baik ketika beliau dalam keadaan berdakwah di Mekah dan diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan nabi untuk selalu kita contoh dalam kehidupan sehari hari.

       Dalam sejarah peradaban Islam, sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dibedakan menjadi dua, yaitu ketika nabi Muhammad di Mekah dan di Madinah. Sejarah  masa hidup Rasulullah ini selain dikaji dalam bidang sejarah, kerap kali juga mendapatkan perhatian di bidang disiplin ilmu lain seperti studi Al-Qur'an. Situasi dan kondisi pada saat itu menjadikan perbedaan tema-tema sentral dalam ajaran Islam melalui wahyu yang diterima Rasulullah SAW.

       Demikian juga terjadi dalam sejarah Islam, karena peradaban dan tantangan yang dihadapi Nabi Muhammad berbeda di dua tempat yaitu di Mekah dan Madinah. Dengan demikian, kita perlu membahas peradaban Islam periode Mekah agar kita mengetahui bagaimana peradaban Islam dan tantangan yang dihadapi Rasulullah ketika berdakwah di Mekah.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Sejarah Peradaban Islam pada Periode Mekah?

2.      Bagaimana Dakwah Nabi Muhammad di Mekah?

3.   Apa Saja Hambatan-hambatan yang dialami Rasulullah SAW ketika Menyampaikan Ajaran Islam di Mekah?

4.      Bagaimana Pembentukan Sistem Sosial di Mekah?

5.      Bagaimana Peradaban Islam pada Masa Rasulullah?



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Sejarah Peradaban Islam Periode Mekah

       Sebelum Islam datang, orang Arab sudah mempercayai akan keesaan Allah sebagai tuhan. Kepercayaan ini diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Agama tersebut dalam Al-Quran disebut agama Hanif. Berkaitan dengan ayat ini Al Quran menyebutkan bahwa masih mempercayai Keesaan Allah SWT. Sebagai pencipta pengatur dan pemelihara alam semesta. Jika ditanyakan kepada bangsa Arab, mengapa mereka menyembah patung dan berhala, mereka menjawab bahwa semua itu dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah.

      Kehidupan Islam pada masa Rasulullah SAW di Mekkah pada saat itu sangat berdeda sekali dengan masa perkembangan Islam saat ini. Pertentangan dari kaum kafir Quraisy yang sangat mendominasi sebagian besar wilayah di jazirah Arab pada saat itu. Kaum kafir Quraisy menganggap bahwa ajaran yang dianut mereka adalah ajaran yang paling benar. Sehingga ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah harus dimusnahkan juga dari jazirah Arab. Mereka menganggap akan merusak budaya masyarakat Arab saat itu, khususnya di Mekkah dan Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam.

B.     Dakwah Nabi Muhammad di Mekkah

    Ketika Nabi Muhammad SAW sedang bertahannus (menyepi) di gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah berhala, maka fase kenabian Beliau dimulai. Di tempat inilah menerima wahyu pertama, yakni surah al-Alaq 1-5 yang artinya: “1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

   Dengan wahyu pertama ini, beliau di angkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu Nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua, yaitu surah al-Mudatsir ayat 1-7 yang artinya: 1.Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan Tuhanmu agungkanlah! 4. dan pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.

        Maka semenjak itulah  Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul beliau berkewajiban untuk menyeru kepada orang-orang yang hidup di sekitarnya. Tugas Nabi Muhammad adalah menyeru kebenaran kepada umat manusia dan menyukseskan risalah yang diberikan kepadanya.   Inti kehidupan Nabi Muhammad SAW, di Makkah adalah melaksanakan tugas-tugas kerasulannya. Untuk itu beliau melakukan dakwah berdasarkan petunjuk-petunjuk wahyu, yang dijalankan dengan sabar dan ikhlas. Strategi dakwah yang dilakukan nabi Muhammad dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

1.      Penyebaran Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi

     Penyebaran Islam secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun pertama. Rasulullah mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bin Tsabit, bekas budak beliau. Dengan perantaraan Abu Bakar, banyak juga yang memeluk ajaran Islam. Beliau dikenal dengan julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam) mereka adalah  Abdurrahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarhah, Arqam bin Abil Arqam. Rumah yang dijadikan tempat untuk berdakwah adalah rumah Arqam bin Abil Arqam.     

2.      Dakwah melalui silaturrahmi kepada keluarga besar bani Hasyim

      Beliau menyebarkan agama Islam dalam ruang lingkup yang lebih luas, termasuk Bani Muthalib dan Bani Hasyim. Kemudian diajaknya orang yang pertama kali masuk Islam dari luar keluarga, ia adalah teman akrab Rasulullah, Abu Bakar ibn Abi Quhafah dari Kabilah Taim yang dikenalnya bersih dan jujur serta dapat dipercaya. Bermula dari Abu Bakar Islam di Syiarkan kepada sahabat-sahabat lainnya yang dapat dipercaya, seperti Ustman bin Affan, Zubair ibn al-Awwam serta Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan masih banyak lagi. Dakwah Islam secara diam-diam dilakukan Rasulullah selama 3 tahun. Setelah tiga tahun berjalan, maka disuruhlah Nabi mengumumkan Islam dengan terang-terangan sebagaimana difirmankan oleh Allah asy Syu’ara : 214, yang artinya: “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. Berdasarkan ayat tersebut Nabi Muhammad  mengajak kaum keluarganya, Bani Hasyim untuk masuk Islam, akan tetapi mereka menghiraukannya, bahkan pamannya, Abu Lahab mencemooh Rasulullah sehingga turunlah surat al-Lahab.

3.      Penyebaran Islam dilakukan secara terang-terangan

a.       Tahapan untuk keluarga

     Penyebaran Islam secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun, sampai turun wahyu berikutnya yang memerintahkan dakwah dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Ketika Rasulullah menerima wahyu, beliau langsung mengundang keluarganya untuk berkumpul di bukit Shafa Beliau menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras di hari kemudian (hari kiamat). Bagi orang yang tidak mengakui Allah sebagai tuhan Yang Maha Esa dan nabi Muhammad adalah utusannya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, “celakalah kamu Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?” saat itu diturunkan wahyu yang menjelaskan perihal Abu Lahab dan istrinya.

     Perintah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk Islam, disamping itu keberadaan rumah Arqam bin Abil Arqam sudah diketahui oleh kaum Kafir Quraisy.

b.      Tahapan untuk umum

    Seruan dakwah secara terang-terangan yang lebih fokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Melihat hal tersebut Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang hanya fokus pada keluarga dekatnya, beralih kepada seruan umum (umat manusia secara keseluruhan).

C.     Hambatan-Hambatan yang dialami Rasulullah SAW Ketika Menyampaikan Ajaran Islam di Mekkah

      Ketika menyebarkan ajaran Islam, Rasulullah SAW tidak luput dari tipu daya dan siksaan. Beliau di intimidasi, di maki, dan di musuhi bahkan ada usaha untuk membunuh beliau, namun Allah menyelamatkannya. Tiada henti beliau berlindung dan berdoa kepada Allah. Kaum kafir Quraisy tak hanya menggunakan beragam intimidasi dan siksaan untuk menekukan Rasulullah dan kaum muslim. Mereka mulai menerapkan perang baru yaitu perang psikologis. Berbagai tipu muslihat dirancang. Rasulullah diminta menunjukkan mukjizat, diolok-olok, misi yang dibawa di ejek dan dicemooh, sedangkan kaum muslim dilecehkan.

      Melihat Islam kian berkembang, kaum kafir Quraisy membuka medan perang baru, yaitu perang informasi. Aksi ini mereka lakukan sepanjang musim haji. Kabilah yang datang dihadang dan dicekoki berbagai informasi miring tentang Rasulullah SAW. Rasulullah dikatakan pembual, tukang ahli sihir, dan ahli syair. Mekkah begitu sempit bagi Rasulullah SAW, tetapi beliau tetap menyampaikan risalah melalui cara yang terbaik dan Rasulullah tetap tabah dan ikhlas.

D.    Pembentukan Sistem Sosial di Mekkah

      Dari sudut pandang sosiologis, menarik untuk mengetahui struktur sosial dalam masyarakat arab. Dalam hal ini, kita juga harus membedakan antara penduduk nomad dan penduduk kota. Bangsa badui tinggal di tenda-tenda dan perkemahan mereka ada di gurun-gurun. Struktur dasar masyarakat badui adalah organisasi suku. Anggota satu keluarga tinggal di satu tenda, kumpulan tenda-tenda (perkemahan) disebut hayy, dan kumpulan hayy membentuk satu suku, yang dalam bahasa dinamakan qawm. Kumpulan suku-suku yang menjadi satu disebut dengan qabilah. Semua anggota suku mengaggap diri mereka menjadi satu anggota keluarga dan memilih pimpinan mereka datang, disebut syaikh. Mereka memakai satu istilah khusus, yang dinamakan Bani sebutan yang dipakai sebagai nama depan mereka. Nama asal beberapa suku ini adalah feminin, dan dari fakta ini beberapa sarjana menyimpulkan bahwa sistem matrilinial masih ada di arab sebelum datangnya islam. Namun pendapat ini kurang tepat. Yang benar adalah nama-nama itu menunjukkan adanya jejak-jejak sistem matrilinial dimasa lampau. Maxim Rodinson tidak sependapat dengan pendapat Montgomery Watt yang mengatakan bahwa adanya nama-nama itu menunjukkan bahwa masyarakat arab, yang dulunya matrilnal, pada masa Nabi berubah menjadi sistem patrilinial sehingga berada dalam tahab transisi yang berhubungan dengan perkembangan umum ke arah individualisme. “yang benar,” kara Rodinson, ”bahwa dalam daerah tertentu seperti madinah, sistem ini ada bersama-sama dengan beberapa kebiasaan poliandri, dan dengan adanya pengakuan akan peran pokok perempuan (beberapa sumber menunjukkan bahwa pada masa lampau terdapat ratu-ratu arab), bahkan dalam beberapa kasus pewarisan harta kekayaan melalui jalur ibu.

      Kaum nomad ini selalu berpindah dan tidak menetap di satu tempat. Mereka berpindah dari tempat satu ketempat lain guna mencari air dan rumput untuk binatang mereka, juga untuk melakukan penyerbuan ke suku lain. Oleh karena itu, mereka tidak mengenal konsep kepemilikn tanah. Bahkan di Madinah pun, yang merupakan oasis subur, pertanian belum pada tingkat yang mengarah pada kepemilikan tanah secara individu. Tanah-tanah yang bisa ditanami dimiliki secara bersama-sama. Begitu juga di Makkah, hampir tidak ada yang dinamakan kepemilikan tanah, meskipun rumah yang dimiliki oleh para keluarga penduduk makkah. Meskipun terdapat beberapa perjanjian antara mereka, namun tidak ada hukum baku tentang kepelikan kekayaan. Beberapa kaum yang terpandang di Makkah memang mempunyai bangunan di sekitar oasis Thaif. Namun bangunan ini lebih berfungsi sebagai tempat singgah dimusim panas karena iklimnya lebih baik. Para pedagang Mekkah membangun vila-vila untuk liburan di musim panas. Bani Thaqif tinggal di  Thaif, dan mereka makan sereal, sementara orang-orang Mekkah lainya memenuhi kebetuhan makan dengan kurma dan susu. Dengan fakta tidak ada pemilikan tanah secara perorangan untuk pertanian, maka melihat islam secara awal dalam setting feodal adalah salah.

     Untuk setruktur keluarga diwilayah urban, terutama suku Mekkah mengalami perpecahan dan proses individualisasi mulai berlangsung. Masyarakat suku mulai memudar suku-suku pecah, atau dalam kelompok keluarga yang lebih kecil, karena berkembangnya hubungan baru yang didasarkan pada harta atau kekayaan, meskipun kesetiaan berdasarkan suku atau kelompok diperlukan untuk menjaga ketertiban dan melaksanakan hukum suku. Dengan demikian, proses antagonistik tidak berlangsung dalam masyarakat, di satu sisi kesetiaan dan kesukuan sangat diperlukan karena tidak ada hukum lain yang mengatur kehidupan, namun di sisi lain terjadi perpecahan setruktur kesukuan. Pembacaan yang cermat terhadap sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Mekkah. Satu ayat dalam Al Qur’an menunjukkan hal tersebut, “Tidak ada larangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan dirumahmu sendiri (sedang mereka makan bersamamu, begitu juga) di rumah bapak-bapakmu, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada larangan bagimu makan bersama-sama atau sendirian...”(QS. 24: 61). Ayat itu menunjukkan bahwa masyarakat Mekkah pada masa Nabi mulai tinggal dalam unit keluarga yang lebih kecil. Dari ayat diatas juga nampak bahwa anak-anak, setelah tumbuh dewasa, hidup terpisah atau membentuk keluarga sendiri, dan anak-anak perempuan tinggal bersama setelah mereka menikah.

E.     Peradaban Islam pada Masa Rasulullah

     Peradaban Islam pada masa Rasulullah SAW, yang paling dahsyat adalah perubahan sosial. Suatu perubahan mendasar dari masa kebobrokan moral menuju moralitas yang beradab. Dalam tulisan Ahmad Al-Husairy, diuraikan bahwa peradaban pada masa Nabi dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh nabi Muhammad dibawah bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut:

1.      Pembangunan Masjid Nabawi

      Dikisahkan bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti disuatu tempat, maka Rasulullah memerintahkan agar ditempat itu di bangun sebuah masjid. Rasulullah ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan batu-batu masjid itu dengan tangannya sendiri.

      Saat itu, kiblat dihadapkan ke Baitul Maqdis. Tiang masjid terbuat dari batang kurma, sedangkan atapnya dibuat dari pelepah daun kurma. Adapun kamar-kamar istri beliau dibuat disamping masjid. Tatkala pembangunan selesai, Rasulullah memasuki pernikahan dengan Aisyah pada bulan syawal. Sejak saat itulah, Yatsrib dikenal dengan Madinatur Rasul atau Madinatul Munawwarah. Kaum muslimin melakukan berbagai ativitasnya didalam masjid ini, baik beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli maupun perayaan-perayaan. Tempat ini yang menjadi faktor yang mempersatukan mereka.

2.      Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar

     Rasulullah mempersaudarakan diantara kaum muslimin. Mereka kemudian membagikan rumah yang mereka miliki. Persaudaraan ini terjadi lebih kuat dari pada hanya persaudaraan berdasarkan keturunan. Dengan persaudaraan ini, Rasulullah telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.



3.      Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslim

      Di madinah, ada beberapa golongan yaitu kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non-muslim, dan orang-orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa’). Rasulullah melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya perdamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu dan toleransi di antara golongan tesebut.

4.      Peletakan Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial

     Islam adalah agama dan sudah sepantasnya jika didalam negara diletakkan dasar-dasar Islam. Maka turunlah ayat-ayat al-Quran pada periode ini untuk membangun legalitas dari sisi tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dengan perkataan dan tindakannya. Hiduplah kota Madinah dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan nilai-nilai utama. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh ada solidaritas yang erat diantara anggota masyarakatnya. Dengan demikian, berarti bahwa inilah masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah dengan asas-asasnya yang abadi.

     Munawir Syadzali menguraikan bahwa dasar-dasar kenegaraan yang terdapat dalam Piagam Madinah adalah: pertama, umat Islam merupakan satu komunitas (umat) meskipun berasal dari suku yang beragam, dan kedua, hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dengan komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip: a) bertetangga yang baik, b) saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, c) membela mereka yang dianiaya, d) saling menasehati, e) menghormati kebebasan beragama.







BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

    Kehidupan Islam pada masa Rasulullah SAW di Mekkah pada saat itu sangat berdeda sekali dengan masa perkembangan Islam saat ini. Adanya pertentangan dari kaum kafir Quraisy yang sangat dominan menguasai sebagian besar wilayah di jazirah Arab saat itu. Kaum kafir Quraisy beranggapan bahwa ajaran mereka adalah ajaran yang paling benar dianut. Sehingga ajaran yang dibawa oleh Rasulullah harus di berantas juga dari jazirah Arab karena dianggap merusak budaya masyarakat Arab saat itu, khususnya di Mekkah dan Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam.

    Strategi dakwah yang dilakukan nabi Muhammad dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

1.      Dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

2.      Dakwah melalui silaturrahmi kepada keluarga besar bani Hasyim.

3.      Penyebaran Islam dilakukan secara terang-terangan.

    Peradaban pada masa Nabi dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh nabi Muhammad dibawah bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut:

1.      Pembangunan Masjid Nabawi.

2.      Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar.

3.      Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslim.

4.      Peletakan Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial.








DAFTAR  PUSTAKA

Fuadhasanspi. “Peradaban Islam Rasulullah Periode Mekkah”. Blogspot. https://www.blogspot.com/2014/06/04.html. diakses tanggal 11 Maret 2020.

Nurulaliyah. “Sejarah Peradaban Islam di Periode Mekkah”. Blogspot. https://blogspot.com/2014/12/02.html. diakses tanggal 11 Maret 2020.

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung. Pustaka Setia. 2008.

Comments