- Get link
- X
- Other Apps
PERADABAN ISLAM PERIODE MEKAH DAN PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mekah adalah salah
satu tempat mulia menurut Islam, bahkan sebelum datangnya Islam. Ditambah lagi
dengan lahirnya orang yang paling mulia. Sebagai seorang muslim hendaknya kita
mengetahui sejarah nabi Muhammad SAW baik ketika beliau dalam keadaan berdakwah
di Mekah dan diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu kami mencoba untuk
mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan nabi untuk selalu kita contoh
dalam kehidupan sehari hari.
Dalam sejarah
peradaban Islam, sejarah hidup Nabi Muhammad SAW dibedakan menjadi dua, yaitu
ketika nabi Muhammad di Mekah dan di Madinah. Sejarah masa hidup Rasulullah ini selain dikaji dalam
bidang sejarah, kerap kali juga mendapatkan perhatian di bidang disiplin ilmu lain
seperti studi Al-Qur'an. Situasi dan kondisi pada saat itu menjadikan perbedaan tema-tema sentral dalam
ajaran Islam melalui wahyu yang diterima Rasulullah SAW.
Demikian juga terjadi
dalam sejarah Islam, karena peradaban dan tantangan yang dihadapi Nabi Muhammad
berbeda di dua tempat yaitu di Mekah dan Madinah. Dengan demikian, kita perlu
membahas peradaban Islam periode Mekah agar kita mengetahui bagaimana
peradaban Islam dan tantangan yang dihadapi Rasulullah ketika berdakwah di
Mekah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Sejarah Peradaban Islam pada Periode Mekah?
2.
Bagaimana
Dakwah Nabi Muhammad di Mekah?
3. Apa
Saja Hambatan-hambatan yang dialami Rasulullah SAW ketika Menyampaikan Ajaran Islam di
Mekah?
4.
Bagaimana
Pembentukan Sistem Sosial di Mekah?
5.
Bagaimana
Peradaban Islam pada Masa Rasulullah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Peradaban Islam Periode Mekah
Sebelum Islam datang, orang Arab sudah mempercayai akan
keesaan Allah sebagai tuhan. Kepercayaan ini diwariskan
oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Agama tersebut dalam Al-Quran disebut agama
Hanif. Berkaitan dengan ayat ini Al Quran menyebutkan bahwa masih mempercayai
Keesaan Allah SWT. Sebagai pencipta pengatur dan pemelihara alam semesta. Jika
ditanyakan kepada bangsa Arab, mengapa mereka menyembah patung dan berhala,
mereka menjawab bahwa semua itu dilakukan demi mendekatkan diri kepada Allah.
Kehidupan Islam pada masa Rasulullah SAW di
Mekkah pada saat itu sangat berdeda sekali dengan masa perkembangan Islam saat
ini. Pertentangan dari kaum kafir Quraisy yang sangat mendominasi
sebagian besar wilayah di jazirah Arab pada saat itu. Kaum kafir Quraisy menganggap
bahwa ajaran yang dianut mereka adalah ajaran yang paling benar. Sehingga ajaran
Islam yang dibawa oleh Rasulullah harus dimusnahkan juga dari jazirah Arab. Mereka menganggap akan merusak budaya masyarakat Arab saat itu, khususnya di Mekkah dan
Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam.
B.
Dakwah Nabi Muhammad di Mekkah
Ketika Nabi Muhammad SAW sedang bertahannus (menyepi) di gua Hira,
sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa Arab yang menyembah
berhala, maka fase kenabian Beliau dimulai. Di tempat inilah menerima wahyu pertama, yakni surah al-Alaq 1-5 yang
artinya: “1. bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya”.
Dengan wahyu pertama ini,
beliau di angkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu Nabi Muhammad belum
diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua,
yaitu surah al-Mudatsir ayat 1-7 yang artinya: “1.Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. dan Tuhanmu agungkanlah! 4. dan
pakaianmu bersihkanlah, 5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. dan janganlah
kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. dan
untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah”.
Maka
semenjak itulah Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul beliau
berkewajiban untuk menyeru kepada orang-orang yang hidup di sekitarnya. Tugas Nabi Muhammad adalah menyeru kebenaran kepada
umat manusia dan menyukseskan risalah yang diberikan kepadanya. Inti kehidupan Nabi Muhammad SAW,
di Makkah adalah melaksanakan tugas-tugas kerasulannya. Untuk itu beliau
melakukan dakwah berdasarkan petunjuk-petunjuk wahyu, yang dijalankan dengan
sabar dan ikhlas. Strategi dakwah yang dilakukan nabi Muhammad dibagi menjadi
beberapa tahapan, yaitu:
1.
Penyebaran Islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi
Penyebaran
Islam secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun pertama.
Rasulullah mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula
istri beliau sendiri yaitu Khadijah yang menerima dakwah beliau, kemudian Ali
bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bin Tsabit, bekas budak
beliau. Dengan perantaraan
Abu Bakar, banyak juga yang memeluk ajaran Islam. Beliau dikenal dengan julukan “Assabiqunal Awwalun” (orang-orang yang
lebih dahulu masuk Islam) mereka adalah Abdurrahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwan,
Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Utsman bin Affan, Abu
Ubaidah bin Jarhah, Arqam bin Abil Arqam. Rumah yang dijadikan tempat untuk
berdakwah adalah rumah Arqam bin Abil Arqam.
2.
Dakwah melalui silaturrahmi kepada keluarga besar bani Hasyim
Beliau menyebarkan agama Islam dalam
ruang lingkup yang lebih luas, termasuk Bani Muthalib dan Bani Hasyim. Kemudian
diajaknya orang yang pertama kali masuk Islam dari luar keluarga, ia adalah
teman akrab Rasulullah, Abu Bakar ibn Abi Quhafah dari Kabilah Taim yang
dikenalnya bersih dan jujur serta dapat dipercaya. Bermula dari Abu Bakar Islam di
Syiarkan kepada sahabat-sahabat lainnya yang dapat dipercaya, seperti Ustman bin
Affan, Zubair ibn al-Awwam serta Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan masih banyak
lagi. Dakwah Islam secara diam-diam dilakukan Rasulullah selama 3 tahun. Setelah tiga tahun berjalan, maka
disuruhlah Nabi mengumumkan Islam dengan terang-terangan sebagaimana
difirmankan oleh Allah asy Syu’ara : 214, yang artinya: “Berilah peringatan
kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. Berdasarkan ayat tersebut Nabi
Muhammad mengajak kaum keluarganya, Bani Hasyim untuk masuk Islam,
akan tetapi mereka menghiraukannya, bahkan pamannya, Abu Lahab mencemooh
Rasulullah sehingga turunlah surat al-Lahab.
3. Penyebaran Islam dilakukan secara terang-terangan
a. Tahapan
untuk keluarga
Penyebaran Islam secara sembunyi-sembunyi
berlangsung selama tiga tahun, sampai turun wahyu berikutnya yang memerintahkan
dakwah dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Ketika Rasulullah menerima wahyu,
beliau langsung mengundang keluarganya untuk berkumpul di bukit Shafa Beliau menyerukan
agar berhati-hati terhadap azab yang keras di hari kemudian (hari kiamat). Bagi
orang yang tidak mengakui Allah sebagai tuhan Yang Maha Esa dan nabi Muhammad
adalah utusannya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, “celakalah kamu Muhammad!
Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?” saat itu diturunkan wahyu yang
menjelaskan perihal Abu Lahab dan istrinya.
Perintah secara terang-terangan dilakukan
oleh Rasulullah, seiring jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk
meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut
banyak kaum Quraisy yang akan masuk Islam, disamping itu keberadaan rumah Arqam
bin Abil Arqam sudah diketahui oleh kaum Kafir Quraisy.
b. Tahapan
untuk umum
Seruan dakwah secara terang-terangan
yang lebih fokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal sesuai dengan
apa yang diharapkan. Melihat hal tersebut Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan
yang hanya fokus pada keluarga dekatnya, beralih kepada seruan umum (umat manusia
secara keseluruhan).
C. Hambatan-Hambatan
yang dialami Rasulullah SAW Ketika Menyampaikan Ajaran Islam di Mekkah
Ketika menyebarkan
ajaran Islam, Rasulullah SAW tidak luput dari tipu daya dan siksaan. Beliau di
intimidasi, di maki, dan di musuhi bahkan ada usaha untuk membunuh beliau,
namun Allah menyelamatkannya. Tiada henti beliau berlindung dan berdoa kepada
Allah. Kaum kafir Quraisy tak hanya menggunakan beragam intimidasi dan siksaan
untuk menekukan Rasulullah dan kaum muslim. Mereka mulai menerapkan perang baru
yaitu perang psikologis. Berbagai tipu muslihat dirancang. Rasulullah diminta
menunjukkan mukjizat, diolok-olok, misi yang dibawa di ejek dan dicemooh,
sedangkan kaum muslim dilecehkan.
Melihat Islam kian
berkembang, kaum kafir Quraisy membuka medan perang baru, yaitu perang
informasi. Aksi ini mereka lakukan sepanjang musim haji. Kabilah yang datang
dihadang dan dicekoki berbagai informasi miring tentang Rasulullah SAW.
Rasulullah dikatakan pembual, tukang ahli sihir, dan ahli syair. Mekkah begitu
sempit bagi Rasulullah SAW, tetapi beliau tetap menyampaikan risalah melalui
cara yang terbaik dan Rasulullah tetap tabah dan ikhlas.
D.
Pembentukan Sistem Sosial di Mekkah
Dari sudut pandang sosiologis, menarik untuk mengetahui
struktur sosial dalam masyarakat arab. Dalam hal ini, kita juga harus
membedakan antara penduduk nomad dan penduduk kota. Bangsa badui tinggal di
tenda-tenda dan perkemahan mereka ada di gurun-gurun. Struktur dasar masyarakat
badui adalah organisasi suku. Anggota satu keluarga tinggal di satu tenda,
kumpulan tenda-tenda (perkemahan) disebut hayy, dan kumpulan
hayy membentuk satu suku, yang dalam bahasa dinamakan qawm.
Kumpulan suku-suku yang menjadi satu disebut dengan qabilah. Semua
anggota suku mengaggap diri mereka menjadi satu anggota keluarga dan memilih
pimpinan mereka datang, disebut syaikh. Mereka
memakai satu istilah khusus, yang dinamakan Bani sebutan yang dipakai sebagai nama depan mereka. Nama
asal beberapa suku ini adalah feminin, dan dari fakta ini beberapa sarjana
menyimpulkan bahwa sistem matrilinial masih ada di arab sebelum datangnya
islam. Namun pendapat ini kurang tepat. Yang benar adalah nama-nama itu
menunjukkan adanya jejak-jejak sistem matrilinial dimasa lampau. Maxim Rodinson
tidak sependapat dengan pendapat Montgomery Watt yang mengatakan bahwa adanya
nama-nama itu menunjukkan bahwa masyarakat arab, yang dulunya matrilnal, pada
masa Nabi berubah menjadi sistem patrilinial sehingga berada dalam tahab
transisi yang berhubungan dengan perkembangan umum ke arah individualisme.
“yang benar,” kara Rodinson, ”bahwa dalam daerah tertentu seperti madinah,
sistem ini ada bersama-sama dengan beberapa kebiasaan poliandri, dan dengan
adanya pengakuan akan peran pokok perempuan (beberapa sumber menunjukkan bahwa
pada masa lampau terdapat ratu-ratu arab), bahkan dalam beberapa kasus
pewarisan harta kekayaan melalui jalur ibu.
Kaum
nomad ini selalu berpindah dan tidak menetap di satu tempat. Mereka berpindah
dari tempat satu ketempat lain guna mencari air dan rumput untuk binatang
mereka, juga untuk melakukan penyerbuan ke suku lain. Oleh karena itu, mereka
tidak mengenal konsep kepemilikn tanah. Bahkan di Madinah pun, yang merupakan
oasis subur, pertanian belum pada tingkat yang mengarah pada kepemilikan tanah
secara individu. Tanah-tanah yang bisa ditanami dimiliki secara bersama-sama.
Begitu juga di Makkah, hampir tidak ada yang dinamakan kepemilikan tanah,
meskipun rumah yang dimiliki oleh para keluarga penduduk makkah. Meskipun terdapat
beberapa perjanjian antara mereka, namun tidak ada hukum baku tentang kepelikan
kekayaan. Beberapa kaum yang terpandang di Makkah memang mempunyai bangunan di sekitar oasis Thaif.
Namun bangunan ini lebih berfungsi sebagai tempat singgah dimusim panas karena
iklimnya lebih baik. Para pedagang Mekkah membangun vila-vila untuk liburan di
musim panas. Bani Thaqif tinggal di Thaif, dan mereka makan sereal,
sementara orang-orang Mekkah lainya memenuhi kebetuhan makan dengan kurma dan
susu. Dengan fakta tidak ada pemilikan tanah secara perorangan untuk pertanian,
maka melihat islam secara awal dalam setting feodal adalah salah.
Untuk
setruktur keluarga diwilayah urban, terutama suku Mekkah mengalami perpecahan
dan proses individualisasi mulai berlangsung. Masyarakat suku mulai memudar
suku-suku pecah, atau dalam kelompok keluarga yang lebih kecil, karena
berkembangnya hubungan baru yang didasarkan pada harta atau kekayaan, meskipun
kesetiaan berdasarkan suku atau kelompok diperlukan untuk menjaga ketertiban
dan melaksanakan hukum suku. Dengan demikian, proses antagonistik tidak
berlangsung dalam masyarakat, di satu sisi kesetiaan dan kesukuan sangat
diperlukan karena tidak ada hukum lain yang mengatur kehidupan, namun di sisi
lain terjadi perpecahan setruktur kesukuan. Pembacaan yang cermat terhadap
sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Mekkah. Satu ayat dalam Al
Qur’an menunjukkan hal tersebut, “Tidak ada larangan bagi orang buta, tidak
(pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi
dirimu sendiri, makan dirumahmu sendiri (sedang mereka makan bersamamu, begitu
juga) di rumah bapak-bapakmu, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah
saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah
saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah
yang kamu miliki kuncinya atau dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah
kawan-kawanmu. Tidak ada larangan bagimu makan bersama-sama atau sendirian...”(QS.
24: 61). Ayat itu menunjukkan bahwa masyarakat Mekkah pada masa Nabi mulai
tinggal dalam unit keluarga yang lebih kecil. Dari ayat diatas juga nampak
bahwa anak-anak, setelah tumbuh dewasa, hidup terpisah atau membentuk keluarga
sendiri, dan anak-anak perempuan tinggal bersama setelah mereka menikah.
E.
Peradaban Islam pada Masa Rasulullah
Peradaban Islam pada
masa Rasulullah SAW, yang paling dahsyat adalah perubahan sosial. Suatu
perubahan mendasar dari masa kebobrokan moral menuju moralitas yang beradab.
Dalam tulisan Ahmad Al-Husairy, diuraikan bahwa peradaban pada masa Nabi
dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh nabi Muhammad dibawah
bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut:
1.
Pembangunan Masjid Nabawi
Dikisahkan
bahwa unta tunggangan Rasulullah berhenti disuatu tempat, maka Rasulullah
memerintahkan agar ditempat itu di bangun sebuah masjid. Rasulullah ikut serta
dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau mengangkat dan memindahkan batu-batu
masjid itu dengan tangannya sendiri.
Saat itu, kiblat dihadapkan ke Baitul
Maqdis. Tiang masjid terbuat dari batang kurma, sedangkan atapnya dibuat dari
pelepah daun kurma. Adapun kamar-kamar istri beliau dibuat disamping masjid.
Tatkala pembangunan selesai, Rasulullah memasuki pernikahan dengan Aisyah pada
bulan syawal. Sejak saat itulah, Yatsrib dikenal dengan Madinatur Rasul atau
Madinatul Munawwarah. Kaum muslimin melakukan berbagai ativitasnya didalam
masjid ini, baik beribadah, belajar, memutuskan perkara mereka, berjual beli
maupun perayaan-perayaan. Tempat ini yang menjadi faktor yang mempersatukan
mereka.
2.
Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar
Rasulullah mempersaudarakan diantara kaum
muslimin. Mereka kemudian membagikan rumah yang mereka miliki. Persaudaraan ini
terjadi lebih kuat dari pada hanya persaudaraan berdasarkan keturunan. Dengan
persaudaraan ini, Rasulullah telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan
agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.
3.
Kesepakatan untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan
Non-Muslim
Di madinah, ada beberapa golongan yaitu
kaum muslimin, orang-orang Arab, serta kaum non-muslim, dan orang-orang Yahudi
(Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa’). Rasulullah melakukan satu
kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya perdamaian. Juga untuk melahirkan
sebuah suasana saling membantu dan toleransi di antara golongan tesebut.
4.
Peletakan Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial
Islam adalah agama dan sudah sepantasnya
jika didalam negara diletakkan dasar-dasar Islam. Maka turunlah ayat-ayat
al-Quran pada periode ini untuk membangun legalitas dari sisi tersebut
sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah dengan perkataan dan tindakannya.
Hiduplah kota Madinah dalam sebuah kehidupan yang mulia dan penuh dengan
nilai-nilai utama. Terjadi sebuah persaudaraan yang jujur dan kokoh ada solidaritas
yang erat diantara anggota masyarakatnya. Dengan demikian, berarti bahwa inilah
masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah dengan asas-asasnya yang
abadi.
Munawir Syadzali menguraikan bahwa
dasar-dasar kenegaraan yang terdapat dalam Piagam Madinah adalah: pertama, umat
Islam merupakan satu komunitas (umat) meskipun berasal dari suku yang beragam,
dan kedua, hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dengan
komunitas-komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip: a) bertetangga yang
baik, b) saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, c) membela mereka yang
dianiaya, d) saling menasehati, e) menghormati kebebasan beragama.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kehidupan
Islam pada masa Rasulullah SAW di Mekkah pada saat itu sangat berdeda sekali
dengan masa perkembangan Islam saat ini. Adanya pertentangan dari kaum kafir
Quraisy yang sangat dominan menguasai sebagian besar wilayah di jazirah Arab saat
itu. Kaum kafir Quraisy beranggapan bahwa ajaran mereka adalah ajaran yang
paling benar dianut. Sehingga ajaran yang dibawa oleh Rasulullah harus di
berantas juga dari jazirah Arab karena dianggap merusak budaya masyarakat Arab
saat itu, khususnya di Mekkah dan Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam.
Strategi
dakwah yang dilakukan nabi Muhammad dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:
1. Dakwah
dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
2.
Dakwah
melalui silaturrahmi kepada keluarga besar bani Hasyim.
3. Penyebaran
Islam dilakukan secara terang-terangan.
Peradaban pada masa Nabi
dilandasi dengan asas-asas yang diciptakan sendiri oleh nabi Muhammad dibawah
bimbingan wahyu. Diantaranya sebagai berikut:
1.
Pembangunan
Masjid Nabawi.
2.
Persaudaraan
antara Kaum Muhajirin dan Anshar.
3.
Kesepakatan
untuk Saling Membantu antara Kaum Muslimin dan Non-Muslim.
4.
Peletakan
Asas-asas Politik, Ekonomi, dan Sosial.
Fuadhasanspi. “Peradaban Islam
Rasulullah Periode Mekkah”. Blogspot. https://www.blogspot.com/2014/06/04.html.
diakses tanggal 11 Maret 2020.
Nurulaliyah. “Sejarah Peradaban
Islam di Periode Mekkah”. Blogspot. https://blogspot.com/2014/12/02.html.
diakses tanggal 11 Maret 2020.
Supriyadi,
Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung. Pustaka Setia. 2008.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment