Quotes Instagram Astetik Trend 2022

Pengaruh Filsafat Yunani dalam Pendidikan Islam pada Masa Klasik

   


                                                                           BAB I
                                                                 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
        Penaklukan daerah-daerah dalam pemarintahan Islam, sejak masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab sampai pada masa Daulah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, banyak berpengaruh pada peradaban dan pendidikan Islam. Dan yang paling baerharga dari penaklukan negara-negara tersebut adalah pengetahuan dari filsafat Yunani. Sejak itu dasar-dasar filsafat Yunani ikut memberikan pengaruh pada kemajuan pendidikan Islam.
        Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting bagi bangsa (umat) yang ingin maju. Tanpa pendidikan, umat itu akan tertinggal dari bangsa (umat) yang lain. Tarbiyah al-Islam telah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad Saw. Sampai sekarang. Namun yang yang dibahas pada makalah ini adalah sekitar pendidikan Islam masa klasik.
        Setelah pemerintaha Islam dikuasai oleh Bani Umayyah dan selanjutnya oleh pemerintahan Bani Abbasiyah, perhatian bukan hanya tertuju pada perluasan wilayah Islam, tetapi tertuju pula terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, terutama setelah ada persinggungan kebudayaan dengan peradaban dan filsafat Yunani.
B.    Rumusan Masalah
1.    Bagaimana hubungan ilmuan muslim dengan filsafat Yunani?
2.    Bagaimana Dasar-dasar Pemikiran Filosof Yunani?
3.    Bagaimana Pengaruh Filsafat Yunani dalam Pendidikan Islam pada Masa Klasik?




                                                                        BAB II
                                                                PEMBAHASAN


A.    Hubungan Imuwan Muslim dengan Filsafat Yunani
        Filsafat Yunani ditemukan oleh umat Islam dalam samaran bahasa Syiria yang merupakan campuran antara pikiran Plato dan Aristoteles, sebagaimana yang ditafsirkan dan diolah oleh para filosof selama berabad-berabad sepanjang masa Hellenisme. Jembatan yang menghubungkan antara pengetahuan Hellenisme dengan budaya Islam adalah penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Syiria yang merupakan bahasa intelektual Timur Tengah. Pertemuan pertama budaya Arab dengan Yunani terjadi pada saat penaklukan Damaskus yang dijadikan sebagai ibu kota provinsi Syiria dan selanjutnya menjadi Ibu Kota Daulah Bani Umayyah.
         Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yaitu ketika Khalifah Al-Manshur (754-775 M) dan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) memerintah, penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab telah dimulai dan mencapai puncaknya pada khalifah Al-Ma’mun (813-833) dengan mendirikan pusat penerjemahan dan Bayt al-Hikmah. Pada akhir abad kesembilan, hampir seluruh karya yang diketahui dari museum Hellenistik telah diterjemahkan dan tersedia bagi ilmuwan Muslim.
        Hunayn menerjemahkan hampir semua karya Galen sekitar 20.000 halaman diantara karya  Aristoteles, ia menerjemahkan Categoris, Phsyics, Magna Moralia dan Hermeneutic. Karya-karya Plato, seperti The Republic, Timaeus dan The Laws. Karya Hippokrates, seperti Aphorisme sedangkan karya Dioscorides adalah Materia Medica.
        Demikianlah dengan banyaknya buku-buku filsafat Yunani yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh ilmuwan Muslim, maka filsafat Yunani pun banyak dikaji dan dipelajari, baik melalui lembaga pendidikan yang didirikan atau melalui diskusi para ilmuwan Muslim.
B.    Dasar-dasar Pemikiran Filosof Yunani
             Filosof Yunani yang akan dikemukakan di sini adalah:
1.    Sokrates
 
       Cara berfilsafat Sokrates dikenal dengan istilah dialektika, yaitu cara berfilsafat dengan tanya jawab.  Menurut Sokrates, di dunia ini ada kebenaran yang bersifat objektif, dimana kebenaran itu tidak bergantung pada saya atau kita. Dan untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Sokrates menggunkan metode tertentu. Metode tersebut kita kenal dengan metode dialektika dari kata kerja Yunani yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. Di dalam metode itu terdapat dua penemuan, kedua-duanya menyangkut berkenaan dengan dasar pengetahuan. Yang pertama, ia menemukan induksi dan yang kedua, ia menemukan definisi.
       Metode tanya jawab adalah metode yang banyak digunakan dalam mengajarkan agama Islam. Pada masa Nabi Muhammad Saw., metode ini telah dicontohkan oleh malaikat Jibril sewaktu bertanya kepada nabi untuk mengajar Islam.
2.    Plato 
      Plato memiliki pemikiran yang sangat luar biasa. Yang terkenal dari pemikiran filsafat Plato adalah tentang ide. Melalui ajarannya tentang ide-ide, Plato bukan hanya berhasil menciptakan suatu sistem filsafat yang merangkul berbagai persoalan filosofis sebelumnya seperti persoalan Parmenides dan Herakleitos. Ia juga membangun karangka pemikiran yang memiliki pengaruh luar biasa, bahkan hingga beratus-ratus tahun setelah kematiannya.
3.    Aristoteles
       Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam suatu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya, silogisme terdiri dari tiga premis yaitu premis mayor, premis minor, dan konklusi. Misal:
-    Semua manusia akan mati (premis mayor)
-    Sokrates adalah manusia (premis minor)
-    Sokrates akan mati (konklusi)
Logika Aristoteles ini juga disebut dengan logika deduktif, yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran.
C.    Pengaruh Filsafat Yunani dalam Pendidikan Islam pada Masa Klasik
1.    Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Ilmu-ilmu Agama

         Upaya untuk menggabungkan pemikiran Islam dengan pemikiran Yunani mendominasi kehidupan intelektual sepanjang kekhalifaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Ilmuan yang berhubungan dengan Kristen Nestoris yang berasal dari Hira (sebuah kota kecil antara Basrah, Kufah dan Mesopotamia Selatan). Kontroversi terjadi setelah diperkenalkan karya-karya sains dan filsafat Yunani pada pertengahan abad kedelapan. Sehingga muncullah gerakan-gerakan dan kelompok yang disebut dengan Qadariyah.  Dengan menggunakan metode rasional Yunani, ilmuan Hira berusaha menggabungkan akal dan wahyu. Khalifah Bani Umayyah yang mengikuti aliran ini adalah Muawiyah II (683-684 M) dan Yazid III (744 M).
        Di tempat lain, di seluruh Mesopotamia selatan timbul pula satu aliran pikiran yang dipengaruhi oleh Kristen Nestoris di Basrah dengan menerima kemauan bebas. Mereka meyakini bahwa individu dapat mengendalikan tingkah lakunya. Cara mengetahui tingkah laku yang benar dapat dilakukan dengan pendekatan spekulatif terhadap logika. Kelompok ini dikenal dengan nama Mu’tazilah.  Khalifah Al-Ma’mun  dari Bani Abbasiyah menganut aliran ini.
       Lembaga pendidikan tinggi dengan aneka ragam bentuknya muncul tidak untuk menyediakan kelanjutkan bidang-bidang studi tingkat permulaan, melainkan untuk memenuhi dua kebutuhan penting dalam masyarakat yaitu:
a.    Pertama : menjelaskan pengertian Alquran dan untuk menyesuaikan prinsip-prinsipnya bagi lingkungan yang berubah.
b.    Kedua : untuk memadukan wahyu dengan pengalaman intelektual dan keilmuan.
Untuk memenuhi kebutuhan pertama, lembaga-lembaga pendidikan formal didirikan dengan memusatkan kegiatannya pada studi-studi keagamaan dan penafsiran hukum. Studi-studi keagamaan bertempat dilingkaran-lingkaran masjid, sementara studi hukum bertempat di masjid, akademi dan madrasah.
           Pembaharuan dalam kajian-kajian keagamaan berakhir ketika studi filsafat Yunani terputus dan diganti dengan skolastisisme Islam. Al-Gazali memenangkan penggunaan dialektika dan logika yang terbatas, karena khawatir penggunaannya pada segala bidang pemikiran keilmuan secara sembarangan akan melenyapkan kaimanan.

2.    Pengaruh Filsafat Yunani terhadap Ilmu-ilmu non-Agama

           Ketika kerajaan Sasaniyah ditaklukkan, Islam mengenal ilmu kedokteran Yunani di pusat-pusat pendidikan Nestoris dan Neoplatonisme di Mesopotamia Utara. Kota Jundishapur sangat berperan dalam kajian ilmu kedokteran ini. Sahingga dasar-dasar pengobatan Timur dan Mesir, terutama sihir dan pengobatan rakyat lainnya, berangsur hilang dengan kehadiran keterampilan pengobatan yang dimiliki ilmuan Alexandria, Athena, dan Persia. Kedoteran Yunani sabagai satu sistem teori dan praktik berasal dari Hippocrates (460-337 SM). Kedokteran Yunani ini menggunakan pendekatan rasional terhadap penyambuhan melalui observasi dan pengalaman.
          Ibnu Sina oleh orang barat dikenal dengn sebutan Avicena dan bernama lengkap Abu Hussein bin Abdallah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 370 H/980 M dan meninggal pada tahun 426 H/1036 M. Pemikiran filasfat Ibnu Sina dimulai dari menpelajari filsafat Aristoteles.  Ibnu Sina adalah seorang filosof atau pemikir Islam yang telah hafal Al-Qu’an pada usia 10 tahun. Ia menguasai logika, kemudian ia beralih pada studi fisika, metafisika, dan kedokteran pada usia 18 tahun. Asy-Syifa’ adalah hasil karyanya yang merupakan ensiklopedi terpanjang yang pernah ditulis oleh satu orang yang menggambarkan kamajuan filsafat peripatetik Islam atau buku filsafat yang terpenting dan terbesar dari Ibnu Sina yang berisi fisika, logika dan metematika. Demikian pula al-Qanun Fii al-Tibb sebuah ensiklopedi kedokteran.        
         Setelah Ibnu Sina, Al-Razi adalah orang kedua dalam tulisan dan pengetahuannya dalam masalah medis.  Al-Razi (Rhases, 865-925 M), menulis kurang lebih 200 jilid buku dan yang paling terkenal barjudul Al-Hawi tentang ilmu kedokteran. Raja Charles I memerintahkan untuk menerjemahkan kedalam bahasa Latin pada tahun 1279 M dengan judul Liber continens (buku ysng dapat dipakai untuk seluruh benua). Sampai pada tahun 1542 M, Al-Hawi masih diterjemahkan kedalam bahasa Eropa. 
         
          Matematika memiliki daya tarik tersendiri bagi ilmuan Muslim karena perwakilan simboliknya tentang alam. Pada dasar-dasar teori matematika itu terletak pada konsep kesatuan (alam), yang merupakan tema utama dalam Islam. Ahli matematika Islam menggunakan teori geometri yang diwarisi dari bangsa Yunani dengan membuat pengembangn yang melebihi teori Yunani.      
          Para ilmuan Muslim menyempurnakan aljabar dalam menyelesaikan masalah perdagangan, pmbagian warisan dan sebagainya. Penguasaan ilmuan Muslim terhadap aljabar ini mencapai puncaknya pada abad ke-11 oleh Umar Khayyam (Umar Ibnu Khayyami) hidup 433-517 H/1040-1123 M, yang menyajikanpembahasan lebih maju mengenai subjek itu dibanding dengan pembahasan Al-Khawarazmi. Al-Khawarazmi mengadakan perjalanan ke Timur untuk belajar matematika, dengan perjalanannya kembali ke istana Al-Makmun dia mensintesiskan matematika yang diketahuinya dan menyajikan dalam satu seri berjudul al-jabr wa al-muqabalah disingkat dengan al-jabr.
        Jadi, metode berpikir yang digunakan oleh filosof Yunani memberikan motivasi bagi ilmuwan Muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam, sehingga muncul ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Razi, Umar Khayyam, Ibnu Rusyd, Al-Khawarazmi dan sebagainya.          

                                                                            BAB III
                                                                         PENUTUP


A.    Kesimpulan
        Filsafat Yunani mulai berpengaruh di kalangan ilmuwan Muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan mencapai puncaknya pada masa Bani Abbasiyah ketika karya-karya filosof-filosof Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Syira Hunayn, dan anakya menerjemahkan dari bahasa Syiria ke bahasa Arab.
        Unsur dialektika Sokrates, idealisme Plato dan logika Arstoteles dan sebagainya termasuk berpengaruh terhadap lahirnya beberapa aliran dalam Islam, seperti Qadariyah, Asy’ariyah, dan Mu’tazilah.
        Metode berpikir yang digunakan oleh filosof Yunani memberikan motivasi bagi ilmuwan Muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam sehingga munxul ilmuwan seperti Jabir Ibn Hayyan, Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Razi, Al-Khawarazmi, Ibnu Sina, Umar Khayyam, Ibnu Rusyd dan sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA
  • Basri, Hasan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia. 2017.
  • Mahfud.  Rangkuman Pengantar Filsafat. Bawean: 2017.
  • Nata, Abuddin. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2012.
  • Wiramihardja, Sutarjo A. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama, 2009.

Comments