Quotes Instagram Astetik Trend 2022

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR FIQIH MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI

 

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR FIQIH PADA MATERI PINJAM-MEMINJAM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI KELAS IX SEMESTER 2 MTS PLUS NURUT TAQWA 


Oleh: Nur Diana Holida

 

Abstrak

            Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah tsanawiyah yang terdiri atas empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri, Mata pelajaran fikih di Madrasah tsanawiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada pinjam-meminjam Pada kehidupan sehari-hari, maka siswa dituntut untuk dapat memahami dan menguasai materi pinjam-meminjam salah satunya fikih, dimana materi fikih merupakan ajaran islam yang wajib bagi seluruh dipeserta didik. Secara bahasa mata pelajaran fikih memiliki manfaat dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dirinya di masa depan Pentingnya pembelajaran fikih khususnya materi minjam-meminjam, dan utang-piutang. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru fikih di Mts Plus Nurut Taqwa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Classroom Action Ressearb (penelitian tindakan kelas) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru dikelas tempat ia mengajar dengan penekanan pada pross dan praksis pembelajaran, tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secra berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksi, mengembangkan keretampilan guru yang relevansi. Penelitian dilaksanakan di Mts Plus Taqwa tahun pembelajaran 2019-2020 dalam jangka waktu 1 bulan yakni di bulan januari 2020, adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX.

 

Kata Kunci: Upaya, meningkatkan prestasi belajar, Demonstrasi.

Pendahuluan


Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah tsanawiyah yang terdiri atas empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri, Mata pelajaran fikih di Madrasah tsanawiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada pembahasan ibadah, hukum dan amaliah sehari-hari salah satunya adalah pinjam-meminjam yang biasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka siswa dituntut untuk dapat memahami dan menguasai materi pinjam-meminjam salah satunya fikih, dimana materi fikih merupakan ajaran islam yang wajib bagi seluruh dipeserta didik. Fikih tentang pinjam-meminjam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan.

Pendidikan segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap selama ada pengaruh lingkungan baik yang khusus diciptakan untuk pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar yaitu pertumbuhan, sama dengan tujuan hidup. Pendidikan berusaha memberikan bantuan supaya anak didik mendapatkan perkembangan yang wajar, mendapatkan ketentraman batin, dapat menyelesaikan problem-problem yang dihadapinya.[1]

Salah satu masalah dalam pembelajaran disekolah adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa adalah hasil yang dapat dicapai atau dilaksanakan atau dikerjakan.[2] Belajar adalah suatu kegiatan seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada dalam dirinya dalam pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Tingkah laku yang dimaksud adalah tingkah laku yang paling baik dalam hubungannya untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.[3]

Proses belajar dapat berlangsung jika terjadinya proses pengelolahan data yang aktif di pihak pembelajaran. Pengelolahan data yang aktif merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dengan kegitan penemuan. Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar tersebut akan memengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan pendidik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran fiqih tentang pinjam-meminjam diarahkan kepada metode demonstrasi.[4]

secara bahasa mata pelajaran fikih memiliki manfaat dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dirinya di masa depan. Pentingnya pembelajaran fikih khususnya materi minjam-meminjam, dan utang-piutang. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru fikih di Mts Plus Nurut Taqwa masih banyak siswa yang bermalas-malasan dalam pembelajaran dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran fikih khususnya. Dari 12 siswa hanya 25% yang antusias mengikuti pembelajaran fikih khususnya pinjam-meminjam, hasil analisis peneliti faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya hasil belajar dan prestasi  belajar siswa dalam pembelajaran fikih di Mts Plus Nurut Taqwa diajarkan, tanpa menggunakan media atau pun metode khusus hanya saja guru menjelaskan tanpa adanya pembiasaan pada suatu kelas.

Solusi pemecahannya adalah penulis menggunakan metode demostrasi dalam pembelajaran fikihkhususnya materi mengenai pinjam-meminjamdanutang-piutang. Dan ketercapaian tujuan pembelajaran tidak lepas dari peran dari seorang guru, aspek sikap, nilai, perasaan, motivasi, kepribadian dan keteladanan tidak dapat dihadirkaan dalam sebuah  pembelajaran kecuali kehadiran seorang guru. Sikap seperti ini menunjukkan penelitian ini sangat penting untuk dilakukan karena guru mampu menerapkan model pembelajaran demostrasi dan dapat meningkatkan prestasi siswa terhadap pembelajaran fikih maka siswa akan bersungguh-sungguh untuk mengikuti pembelajaran tanpa merasa malas dan jenuh.

Penggunaan metode demostrasi adalah suatu cara atau jalan yang teratur dan terencana yang dipergunakan seorang pendidik dalam menyampaikan untuk mentransformasikan materi pelajaran kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran yang ditentukan dapat tercapai dengan disertai perubahan tingkah laku pada pesertadidik. Metode demonstrasi juga memiliki beberapan kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihannya adalah perhatian siswa lebih mudah dipusatkan pada pross belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lainnya. Sedangkan salah satu kekurangnnya adalah metode yang kurang tepat apabila alat demonstrasikan tidak diamati dengan seksama oleh siswa, misalnya alat itu terlalu kecil, atau penjelasan-penjelasan yang kurang dipahami.

Dan metode demonstrasi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk Untuk demonstrasikan penggunaan alat atau kegiatan tertentu seperti kegiatan sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus dimiliki lebih dari guru dan peneliti yang ditunjuk, setelah disemonstrasikan, siswa diberi kesempatan melakukan latihan keterampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru atau pelatih. selanjutnya penelitian ini diberi judul “Upaya meningkatkan prestasi belajar fikih dengan materi pinjam-meminjam menggunakan metode demonstrasi kelas IX Mts plus Nurut Taqwa”

Berdasarkan realitas di atas untuk mengatasi masalah yang peneliti hadapi adalah dengan menerapkan demonstrasi. Untuk selanjutnya penelitian ini diberi judul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Fiqih Pada Materi Pinjam-Meminjam Menggunakan Metode Demonstrasi KelasIX Mts Plus Nurut Taqwa Bawean”

Rumusan Masalah

Rumusan masalah adalah acuan pokok dari suatu kegiatan penelitian, karena rumusan masalah merupakan pernyataan atau pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya dari pengumpulan data. Melihat latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah “apakah model pembelajran  Demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar materi fikih pinjam-meminjam. Di kelas IX MTs Nurut Taqawa ?”

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran demonstrasi apa model pembelajaran demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar fikih materi pinjam-meminjam dikelas IX MTs Nurut Taqwa.

Kajian Pustaka

Belajar merupakan proses orang memperoleh kecakapan, kererampilan , dan sikap. Belajar dimulai dari masa kecil sampai akhir hayat seseorang.[5] Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagai besar informassi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh pendidik.

          Disamping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai pelatihan belaka seperti yang tampak pada pelatihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut. Untuk menghindari ketidak lengkapan persepsi tersebut, maka lebih baik memakai metode pembelajaran.[6]

1.       Pengertian metode demonstrasi

Metode secara etimologi berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini berasal dari dua suku yaitu “metha” yang berarti melalui atau “hodos” yang berarti jalan atau tujuan. Merujuk pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode merupakan suatau cara atau jalan yang teratur dan terencana yang dipergunakan seorang pendidik dalam penyampaikan atau mentransformasikan materi pelajaran kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran yang ditentukan dapat mencapai dengan disertai perubahan tingkah laku pada peserta didik.

Dalam sumber lain disebutkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar diaman seorang guru atau orang lain yang sengajai diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu kaifiah melakukan sesuatu.[7] 

2.      Tujuan metode demontrasi

Tujuan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu[8]. Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga dapat mempelajari melalui proses[9]

Penggunaan metode demonstrasi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemostrasikan penggunaan alat atau melaksanakan  kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus memiliki oleh guru dan pelatihan yang ditunjuk, setelah didemonstrasikan, siswa diberi kesempatan melakukan latihan keretampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru atau pelatihan.[10]

3.    Metode demonstrasi dapat dilaksanakan:

a.  Manakala kegiatan pembelajaran bersifat formal, magang, atau latihan kerja,

b.  Bila materi pelajaran berbentuk keterampilan gerak, petunjuk sederhana untuk melakukan keterampilan dengan menggunakan bahasa asing, dan prosedur melaksanakan suatu kegiatan,

c.  Manakala guru, pelatih, instruktur bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, baik yang menyangkut pelaksanaan suatau prosedur maupun dasar teorinya.

d.  Pengajar bermaksud menunjukkan suatu standar penampilan.

e.  Untuk menumbuh motivasi siswa tentang latihan/praktik yang kita laksanakan.

f.  Untuk dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan kegiatan hanya mendengar seramah atau membaca di dalam buku, karena siswa memperoleh gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya.

g.  Bila beberapa masalah yang minimbulkan pertanyaan pada siswa dapat dijawab lebih teliti waktu proses demonstrasi atau eksperieman

h.  Bila siswa turut aktif bereksperimen, maka ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman praktik untuk mengembangkan kecakapan dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari lingkungan sosial.

4.      Batas-batas metode demonstrasi sebagai berikut:

a. Demonstrasikan akan merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa.

b. Demonstrasikan menjadi kurang efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas dimana para siswa sendiri dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman pribadi.

c.       Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelompok

d.      Kadang-kadang, bila suatu alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, terjadi proses yang berlainan dengan proses dalam situasi nyata.

e.       Manakala setiap orang diminta mendemonstrasikan dapat menyita waktu yang banyak, dan membosankan bagi peserta yang lain.[11]

5.      Model pembelajaran ini khusus materi yang memerlukan peragaan atau percobaan.  Berikut adalah Langkah-langkah demonstration:[12]

a.       Guru menyampaikan TPK. (tujuan pembelajaran khusus)

b.      Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.

c.       Siapkan bahan atau alat yang diperlukan

d.      Menunjukkan salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.

e.       Seluruh siswa memerhatikan demonstrasi dan menganalisis

f.           Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisisnya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan

g.       Guru membuat kesimpulan.

                     Kelebihan metode demonstrasi juga dikemukan yaitu:

kelebihan metode demonstrasi adalah:

a.       Perhatian peserta didik dapat dipusatkan, dan titik berat yang dianggap penting oleh pendidik diamati.

b.      Perhatian peserta didik akan lebih terpusat pada apa yang di demonstrasikan, jadi proses peserta didik akan lebih teratah dan akan mengurangi perhatian peserta didik pada masalah lain.

c.       Dapat merangsang peserta didik untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar.

d.      Dapat menambah pengalaman peserta didik.

e.       Bila membantu peserta didik ingat lebih lama tentang materi yang disampaikan.

f.          Dapat mengurangi kesalah pahaman karena pengajaran lebih jelas dan konkrit.

g.      Dapat menjawab semua masalah yang timbul didalam setiap pikiran.

Metode Penelitian

            Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Classroom Action Ressearb (penelitian tindakan kelas) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru dikelas tempat ia mengajar dengan penekanan pada pross dan praksis pembelajaran, tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secra berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksi, mengembangkan keretampilan guru yang relevansi. Penelitian dilaksanakan di Mts Plus Taqwa tahun pembelajaran 2019-2020 dalam jangka waktu 1 bulan yakni di bulan januari 2020, adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX.

 

Tehnik Pengumpulan dan Analisis Data

Adapun teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Tes dilakukan pasa setiap akhir proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen soal. Soal yang diberikan berbentuk uraian. Observasi dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan instumen untuk melihat kegiatan siswa selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Sedangkan teknik analisis data menggunakan  analisis deskriptif yang meliputi: analisis deskriptif komparatif yakni dengan cara membandingkan hasil belajar siklus I dan siklus II. Analisis kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi siklus I dan siklus II.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang ditandai dengan adanya siklus. Dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Adapaun langkah-langkah dalam Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

1.      Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a.       Membuat rangcangan/perencanaan pembelajaran

b.      Membuat media pembelajaran berupa slide, nomor kepala dan sebagainya

c.       Membuat instrumen penilaian.

2.      Pelaksanaan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan seluruh kegiatan yang telah dirancang/direncanakan sebelumnya.

3.      Pengamatan

Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk melihat aktifitas siswa.

4.      Refleksi

Refleksi dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran untuk melihat/mengetahui hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil dari refleksi siklus I digunakan sebagai acuan untuk melakukan perbaikan tindakan pada siklus II. Selanjutnya pada siklus II melakukan perubahan tindakan pada proses pembelajaran terhadap kekurangan yang terjadi pada siklus I, sehingga hasil dari kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.

Hasil Penelitian

Deskripsi Pra Siklus

Pada pelaksanaan pembelajaran fikih di siklus awal, peserta didik kurang memperhatikan dan kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran dimana peserta didik belum begitu aktif (bertanya, berdendapat, dan menanggapi) sehingga penguasaan kompetensi dasar dan indikator belum tercapai. Hal ini dapat dilihat pada hasil penilaian harian siswa pada tabel.

tabel 1

Tabel Rekap nilai hasil tes pra-siklus

No

Hasi(Angka)

ArtiLambang

JumlahSiswa

Persen

1

90-100

SangatBaik

2

16%

2

75-89

Baik

2

16%

3

65-74

Cukup

3

25%

4

55-64

Kurang

3

25%

5

0-55

Sangat Kurang

2

16%

Jumlah

12

100%

 

Pelaksanaan pembelajaran Dibawah ini terpapar hasil belajar siswa dengan kondisi seperti yang penulis uraikan di atas. Dari hasil tes penilaian sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Dari keseluruhan jumlah siswa hanya sebagian kecil yang telah mencapai ketuntasan belajar, yakni 4 orang siswa (33%) selebihnya 8 (67%) tidak tuntas.

Tabel 2

Rekap hasil ketuntasan tes pra siklus

No

Ketuntasan

JumlahSiswa

Jumlah

Persen

1

Tuntas

4

33%

2

TidakTuntas

8

67%

Jumlah

12

100%

 

Pada proses pemebelajaran berlangsung, sebagian peserta didik ada yang kurang memperhatikan dan peserta didik kurang begitu aktif dan semangat dalam mengkuti pelajaran, hal ini dimungkinkan karena model pembelajaran yang digunakan sebelumnya belum bisa membangkitkan keaktifan dan semangat peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus dengan model pembelajaran yang digunakan berdasarkan hasil tes, sebagian besar peserta didik belum tuntas, dari keseluruhan keseluruhan jumlah 12 siswa hanya sebagian 4 orrang siswa (33%) yang belum mencapai ketuntasan belajar dan selebihnya 8 (67%) orang siswa yang tuntas, tidak hanya itu pendidik kurang puas adanya nilai yang didapat pendidik oleh karna itu perlu adanya sisklus 1 dan siklus II.

Deskripsi Siklus 1

1.        Perencanaan tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut :

Pemilihan materi dan penyusunan RPP. Materi yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas ini adalah hukum pinjam-meminjam kemudian disusun ke dalam RPP dengan alokasi waktu sebanyak 2 x 40 menit. Pada siklus ini terjadi dua kali pertemuan.

2.  Pelaksanaan tindakan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan dalah melaksanakan tindakan yang telah di rumuskan pada RPP yang membahas materi tentang pinjam-meminjam. Model pembelajaran yang ditetapkan adalah Demonstrasi. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a.       Guru menyampaikan TPK. (tujuan pembelajaran khusus)

b.      Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan.

c.       Siapkan bahan atau alat yang diperlukan

d.      Menunjukkan salah seorang siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.

e.       Seluruh siswa memerhatikan demonstrasi dan menganalisis

f.    Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisisnya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan

g.       Guru membuat kesimpulan.

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan sesuai  perencanaan yang telah disiapkan. Pada kegiatan ini sebelum siswa di berikan materi maka terlebih dahulu diberikan upersepsi dan motivasi untuk meningkatkann minat  prestasi belajar dengan menggunakan metode demonstrasi.

Tabel 3

Hasil rekapan nilai siklus I

No

Hasil (Angka)

Arti Lambang

Jumlah Siswa

Persen

1

85-100

Sangat Baik

8

66%

2

75-84

Baik

3

25%

3

65-74

Cukup

-

0%

4

55-64

Kurang

1

8%

5

0-55

Sangat Kurang

-

0%

JUMLAH

12

100%

Menurut tabel diatas dapat disimpulkan hasil nilai rekapan siklus satu siswa yang mendapatkan nilai yang sangat baik berjumlah 8 (66%) sedangkan yang mendapatkan nilai baik berjumalh 3 (25%) dan yang mendapatkan nilai kurang baik berjumlah 1 (8%) dari hasil siklus I ini kurang baik tapi sudah ada piningkatan hasil belajar hanya saja hasil kurang memuaskan sehingga dibutuhkan siklus II.

Tabel 4

Hasil ketuntasan nilai siklus I

No

Ketuntasan

Jumlah Siswa

Jumlah 

Persen

1

Tuntas

11

92%

2

Tidak Tuntas

1

8%

Jumlah

12

100%

 

Pada proses pembelajaran berlangsung, sebagian siswa ada yang kurang memperhatikan dan siswa kurang begitu aktif dan semangat dalam mengikuti pelajaran, hal ini dimungkinkan karena model pembelajran yang digunakan sebelumnyan belum bisa membangkitkan keaktifan dan semangat siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan gambar dan video  berdasarkan hasil tes, sebagian dasar siswa kurang  mencapaiketuntasan belajar dari keseluruhan siswa. Perencanaan pertemuan ini peneliti telah mempersiapkan perangkatan pembelajaran yang terperinci dan waktu pelaksanaannya, media dan strategi, untuk mendadakan pada peseta didik semakin bermotivasi dalam pembelajaran fikih pinjam-meminjam.

Dari hasil diskusi dengan pendidik yang lain perlu perbaikan dalam pengelolahan proses mengajar dengan menggunakan metode untuk bimbingan pada anak yang kurang aktif dan pasif. Hasil nilai ketuntasan di atas jumlah siswa yang tuntas berjumlah 11 (92%) dan jumlah siswa yang tidak tuntas berjumlah 1 (8%).

3. Pengamatan

Menurut pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus I prestasi peserta didik mulai bertambah. Hanya saja hasil yang didapat kurang memuaskan dan membutuhkan siklus II.

4.Refleksi

Denagn metode Demonstrasi pada pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam siswa dapat merespon dan memberi gagasan terhadap proses pembelajaran. Siswa secara mental dapat mendemosnstrasikan materi yang disampaikan oleh pendidik.

Deskripsi Siklus II

1.Perencanaan tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus II dapat diuraikan sebagai berikut :

Pemilihan materi dan penyusunan RPP. Materi yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas ini adalah hukum pinjam-meminjam kemudian disusun ke dalam RPP dengan alokasi waktu sebanyak 2 x 40 menit. Pada siklus ini terjadi dua kali pertemuan.

2.  Pelaksanaan tindakan

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan dalah melaksanakan tindakan yang telah di rumuskan pada RPP yang membahas materi tentang pinjam-meminjam. Model pembelajaran yang ditetapkan adalah Demonstrasi. Adapun langkah-langkahnya sudah tercantum di siklus I.

Tabel 5

Hasil rekapan nilai siklus II

No

Hasil (Angka)

Arti Lambang

Jumlah Siswa

Persen

1

85-100

Sangat Baik

10

84%

2

75-84

Baik

2

16%

3

65-74

Cukup

-

0%

4

55-64

Kurang

-

8%

5

0-55

Sangat Kurang

-

0%

JUMLAH

12

100%

 

Menurut tabel diatas dapat disimpulkan hasil nilai rekapan siklus II peserta didik yang mendapatkan nilai yang sangat baik berjumlah 10 (84%) sedangkan yang mendapatkan nilai baik berjumalah 2 (16%) pada siklus ini nilai sudah memuaskan dan tidak membutuhkan siklus lagi.

 

Tabel 6

Hasil ketuntasan nilai siklus II

 

No

Ketuntasan

Jumlah Siswa

Jumlah 

Persen

1

Tuntas

12

100%

2

Tidak Tuntas

-

0%

Jumlah

12

100%

 

Dari nilai anak didik sudan mencapai 99% hasil ini menunjukkan bahwa prestasi siswa sudah terjadi peningkatan dibandingkan pada siklus I dan peserta didik lebih senang serta lebih mudah mengerjakan tugas yang diberikan pendidik. Berdasatkan yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II maka dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini dapat kita lihat dari hasil belajar siswa, aktivitas siswa pada saat mengikuti pembelajaran berlangsung. Hasil belajar dan prestasi siswa kesemuanya tidak terlepas dari pengunaan metode dan media bervariasai, sebagai upaya yang dilakukan pendidik untuk meningkatkan prestasi belajar.

Berdasarkan hasil di atas model Demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada matapelajaran fikih materi pinjam-meminjam. Dengan catatan setiap pertemuan dalam satu siklus harus memiliki berbagai modifikasi agar siswa memiliki ketertarikan. Modifikasi dapat berupa soal, pembelajaran yang di sampaikan, alat pembelajaran.

Menurut tabel diatas hasil nilai ketuntasan pada siklus II peserta didik  sudah mendapatkan nilai sesuai dengan yang diharapkan. jumlah siswa yang tuntas berjumlah 12 (100%).

3. Pengamatan

Menurut pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus II hasil prestasi peserta didik sudah bertambah dan melihat dari tabel di atas peserta didik tidak lagi pasif.

4. Refleksi

Dengan metode demonstrasi pada pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam siswa dapat merespon dan memberi gagasan terhadap proses pembelajaran. Siswa secara mental dapat mendemonstrasikan materi yang disampaikan oleh pendidik.

Pembahasan

Berdasarkan analisis di atas dapat di simpulkan bahwa penggunaan maetode pengajaran sangatlah berpengaruh pada minat belajar siswa karena dengan adanya metode demonstrasi ini peneliti dapat melihat peningkatan prestasi belajar. dengan demikian perbandingan hasil penilaian antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat di tabel di bawah ini .

Tabel 7

Perbandingan Hasil Tes Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II

 NO

Hasil (Angka)

Arti Lambang

Pra-siklus

Siklus I

Siklus II

1

90-100

Sangat baik

4

8

10

2

75-89

Baik

7

3

2

3

65-74

Cukup

3

-

-

4

55-64

Kurang

3

1

-

5

0-55

Sangat kurang

2

-

-

           

Berdasarkan data yang didapat dari pelaksanaan pra siklus, siklus I dan siklus I menunjukkan adanya peningkatan yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa, dari analisis pra siklus, siklus I dan siklus II membuktikan bahwa kelas IX berjumlah 12 siswa secara keseluruhan atau klasikal telah tuntas belajarnya diatas standar ketuntasan yang ditetapkan. Dan peneliti lebih banyak memberikan arahan-arahan yang jelas pada proses pembelajaran, beberapa menit yang harus diselesaikan untuk mengidentifikasi pernyataan yang diterima.

Tabel 8

Perbandingan Ketuntsan Nilai Rata Rata Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II

No

Tahap

Jumlah siswa

Jumlah sisiwa

Tuntas

Tidak Tuntas

1

Pra-Siklus

4

8

12

2

Siklus I

11

1

12

3

Siklus II

12

-

12

 

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpuklan bahwa proses pembelajaran pada pra siklus menunjukkan siswa masih pasif, siswa masih bekerja individual, tidak tampak keaktivan yang muncul. Siswa terlihat kurang semangat dan tidak memperhatikan secara benar dan tidak ada gairah dalam proses pembelajaran.

Proses pembelajaran pada siklus I ini kurang baik tapi sudah ada piningkatan hasil belajar hanya saja hasil kurang memuaskan, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dari pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus I prestasi peserta didik mulai bertambah hanya saja hasil yang didapat kurang memuaskan, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak lagi pasif.

Proses pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam proses kegiatan pembelajaran. Pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus II hasil prestasi peserta didik sudah bertambah dan melihat dari tabel di atas peserta didik tidak lagi pasif. metode demonstrasi pada pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam sangat berpengaruh sehingga siswa dapat merespon dan memberi gagasan terhadap proses pembelajaran. Siswa secara mental dapat mendemosnstrasikan materi yang disampaikan oleh pendidik.

Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa : Penerapan Metode Demonstrasi dapat meningkatakan hasil dan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Fikih dengan materi pinjam-meminjam kelas IX semester Genap MTs Plus Nurut Taqwa tahun pelajaran 2019-2020.

 Penerapan metode Demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pelajaran Fikih dengan materi hukum pinjam-meminjam kelas IX semester Genap MTs Plus Nurut Taqwa tahun pelajaran 2019-2020. yang dibuktikan dengan hasil prestasi belajar.

Saran

Bagi pendidik, untuk mencapai kualitas proses belajar mengajar dan kualitas prestasi belajar yang baik dalam pembelajaran dengan metode Demonstrasi diperlukan persiapkan perangkat pembelajaran yang cukup memadai.

Daftar Pustaka

Suryabrata, Sumadi. psikologi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.

W.J.S, Poerwadarminto. kamus umum bahasa indonesia.Jakarta: Balai Pustaka,1985.

Majid, Abdul. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014.

Yatim, Riyanto. Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2001.

Syah, Muhibbin. psikologi pendidikan. Bandung:PT Remaja rosdakarya, 2017.

Yamin, Martinis. strategi pembelajaran berbasis kompetensi. Juanda: Ciputa, 2012.

Ghofir Abdul, Zuhairi. metodelogi pembelajaran PAI. UM Press:  Malang, 2004

Syah, Muhibbin. psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosda, 2000.

Anitah, Sri, dkk, Strategi Pembelajaran di SD, Jakarta: Universitas Terbuka, 2012.

Aqib, Zainal. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual Inovatif. Bandung: Yrama Widya, 2017.

Derajat Zakiah.Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. 297.

 

 

 



[1] Sumadi Suryabrata, psikologi pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2014),hlm.9.

[2] Poerwadarminto, W,J,S, kamus umum bahasa indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1985),hlm.768.

[3] Riyanto, Yatim, Metode Penelitian Pendidikan, (surabaya: SIC,2001),hlm.3

[4] Abdul Majid , Pembelajaran Tematik Terpadu, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2014),hlm.7.

[5] Martinis Yamin, strategi pembelajaran berbasis kompetensi (Juanda :Ciputa,2012),hlm.96.

[6] Muhibbin Syah, psikologi pendidikan (Bandung:PT Remaja rosdakarya,2017),hlm.87.

[7] Zuhairi dan Abdul Ghofir, metodelogi pembelajaran PAI, (UM Press, Malang, 2004).hlm.67

[8] Muhibbin syiah, psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, (Remaja Rosda Bandung, 2000),hlm.208

[9] Sri Anitah,dkk, Strategi Pembelajaran di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2012), hlm.25.

[10]  Ibid,hlm.65.

 

[11] Ibid,hlm.66-67.

[12] Zainal Aqib, Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual Inovatif (Bandung: Yrama Widya, 2017), 29.

Comments