- Get link
- X
- Other Apps
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR FIQIH PADA MATERI PINJAM-MEMINJAM MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI KELAS IX SEMESTER 2 MTS PLUS NURUT TAQWA
Oleh: Nur Diana Holida
Abstrak
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah tsanawiyah yang terdiri atas
empat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri, Mata pelajaran
fikih di Madrasah tsanawiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang
menekankan pada pinjam-meminjam Pada kehidupan
sehari-hari, maka siswa dituntut untuk dapat memahami dan menguasai materi
pinjam-meminjam salah satunya fikih, dimana materi fikih merupakan ajaran islam
yang wajib bagi seluruh dipeserta didik. Secara bahasa mata pelajaran fikih
memiliki manfaat dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk dirinya
di masa depan Pentingnya pembelajaran fikih khususnya materi minjam-meminjam, dan utang-piutang. Berdasarkan hasil wawancara peneliti
dengan guru fikih di Mts Plus Nurut Taqwa. Metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah Classroom Action Ressearb (penelitian tindakan kelas)
yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru dikelas tempat ia mengajar dengan
penekanan pada pross dan praksis pembelajaran, tujuan PTK adalah untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secra
berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksi, mengembangkan
keretampilan guru yang relevansi. Penelitian dilaksanakan di Mts Plus Taqwa
tahun pembelajaran 2019-2020 dalam jangka waktu 1 bulan yakni di bulan januari
2020, adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX.
Kata
Kunci: Upaya, meningkatkan prestasi belajar, Demonstrasi.
Pendahuluan
Pendidikan
Agama Islam (PAI) di Madrasah tsanawiyah yang terdiri atas empat mata pelajaran
tersebut memiliki karakteristik sendiri, Mata pelajaran fikih di Madrasah
tsanawiyah adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada pembahasan ibadah, hukum dan amaliah sehari-hari salah satunya adalah pinjam-meminjam yang biasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka siswa dituntut untuk dapat memahami
dan menguasai materi pinjam-meminjam salah satunya fikih, dimana materi fikih merupakan
ajaran islam yang wajib bagi seluruh dipeserta didik. Fikih tentang
pinjam-meminjam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan.
Pendidikan
segala situasi yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Pendidikan berlangsung
seumur hidup dalam setiap selama ada pengaruh lingkungan baik yang khusus
diciptakan untuk pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya. Tujuan
pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari
luar yaitu pertumbuhan, sama dengan tujuan hidup. Pendidikan berusaha
memberikan bantuan supaya anak didik mendapatkan perkembangan yang wajar,
mendapatkan ketentraman batin, dapat menyelesaikan problem-problem yang
dihadapinya.[1]
Salah
satu masalah dalam pembelajaran disekolah adalah rendahnya prestasi belajar siswa.
Prestasi belajar siswa adalah hasil yang dapat dicapai atau dilaksanakan atau
dikerjakan.[2]
Belajar adalah suatu kegiatan seseorang membuat atau menghasilkan suatu
perubahan tingkah laku yang ada dalam dirinya dalam pengetahuan, sikap dan
ketrampilan. Tingkah laku yang dimaksud adalah tingkah laku yang paling baik
dalam hubungannya untuk mencapai kesempurnaan hidupnya.[3]
Proses
belajar dapat berlangsung jika terjadinya proses pengelolahan data yang aktif
di pihak pembelajaran. Pengelolahan data yang aktif merupakan aktivitas
lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dengan kegitan
penemuan. Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar tersebut
akan memengaruhi seluruh kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan pendidik.
Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran fiqih tentang pinjam-meminjam diarahkan
kepada metode demonstrasi.[4]
secara
bahasa mata pelajaran fikih memiliki manfaat dalam memberikan motivasi kepada
peserta didik untuk dirinya di masa depan. Pentingnya pembelajaran fikih khususnya materi minjam-meminjam, dan utang-piutang. Berdasarkan hasil wawancara peneliti
dengan guru fikih di Mts Plus Nurut Taqwa masih banyak siswa yang bermalas-malasan
dalam pembelajaran dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran fikih khususnya.
Dari 12 siswa hanya 25% yang antusias mengikuti pembelajaran fikih khususnya pinjam-meminjam,
hasil analisis peneliti faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya hasil
belajar dan prestasi belajar siswa dalam
pembelajaran fikih di Mts Plus Nurut Taqwa diajarkan, tanpa menggunakan media
atau pun metode khusus hanya saja guru menjelaskan tanpa adanya pembiasaan pada
suatu kelas.
Solusi
pemecahannya adalah penulis menggunakan metode demostrasi dalam pembelajaran
fikihkhususnya materi mengenai pinjam-meminjamdanutang-piutang. Dan
ketercapaian tujuan pembelajaran tidak lepas dari peran dari seorang guru,
aspek sikap, nilai, perasaan, motivasi, kepribadian dan keteladanan tidak dapat
dihadirkaan dalam sebuah pembelajaran kecuali
kehadiran seorang guru. Sikap seperti ini menunjukkan penelitian ini sangat penting
untuk dilakukan karena guru mampu menerapkan model pembelajaran demostrasi dan dapat
meningkatkan prestasi siswa terhadap pembelajaran fikih maka siswa akan bersungguh-sungguh
untuk mengikuti pembelajaran tanpa merasa malas dan jenuh.
Penggunaan metode demostrasi adalah suatu
cara atau jalan yang teratur dan terencana yang dipergunakan seorang pendidik dalam
menyampaikan untuk mentransformasikan materi pelajaran kepada peserta didik
agar tujuan pembelajaran yang ditentukan dapat tercapai dengan disertai perubahan
tingkah laku pada pesertadidik. Metode demonstrasi juga memiliki beberapan
kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihannya adalah perhatian siswa lebih
mudah dipusatkan pada pross belajar dan tidak tertuju pada hal-hal lainnya. Sedangkan
salah satu kekurangnnya adalah metode yang kurang tepat apabila alat
demonstrasikan tidak diamati dengan seksama oleh siswa, misalnya alat itu
terlalu kecil, atau penjelasan-penjelasan yang kurang dipahami.
Dan metode demonstrasi dapat diterapkan dengan
syarat memiliki keahlian untuk Untuk demonstrasikan penggunaan alat atau
kegiatan tertentu seperti kegiatan sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan
tersebut harus dimiliki lebih dari guru dan peneliti yang ditunjuk, setelah
disemonstrasikan, siswa diberi kesempatan melakukan latihan keterampilan
seperti yang telah diperagakan oleh guru atau pelatih. selanjutnya penelitian
ini diberi judul “Upaya meningkatkan prestasi belajar fikih dengan materi pinjam-meminjam
menggunakan metode demonstrasi kelas IX Mts plus Nurut Taqwa”
Berdasarkan
realitas di atas untuk mengatasi masalah yang peneliti hadapi adalah dengan
menerapkan demonstrasi. Untuk selanjutnya penelitian ini diberi judul “Upaya
Meningkatkan Prestasi Belajar Fiqih Pada Materi Pinjam-Meminjam Menggunakan
Metode Demonstrasi KelasIX Mts Plus Nurut Taqwa Bawean”
Rumusan Masalah
Rumusan
masalah adalah acuan pokok dari suatu kegiatan penelitian, karena rumusan
masalah merupakan pernyataan atau pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya
dari pengumpulan data. Melihat latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya
adalah “apakah model pembelajran
Demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar materi fikih
pinjam-meminjam. Di kelas IX MTs Nurut Taqawa ?”
Tujuan
Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
model pembelajaran demonstrasi apa model pembelajaran demonstrasi dapat
meningkatkan prestasi belajar fikih materi pinjam-meminjam dikelas IX MTs Nurut
Taqwa.
Kajian
Pustaka
Belajar
merupakan proses orang memperoleh kecakapan, kererampilan , dan sikap. Belajar
dimulai dari masa kecil sampai akhir hayat seseorang.[5] Sebagian
orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau
menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran.
Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika
anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagai besar
informassi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh pendidik.
Disamping itu, ada
pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai pelatihan belaka seperti
yang tampak pada pelatihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam
ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu
memperlihatkan keterampilan jasmaniah tertentu walupun tanpa pengetahuan
mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut. Untuk menghindari
ketidak lengkapan persepsi tersebut, maka lebih baik memakai metode
pembelajaran.[6]
1.
Pengertian metode demonstrasi
Metode secara etimologi berasal dari bahasa
Yunani “metodos”. Kata ini berasal dari dua suku yaitu “metha” yang berarti
melalui atau “hodos” yang berarti jalan atau tujuan. Merujuk pengertian di
atas, dapat disimpulkan bahwa metode merupakan suatau cara atau jalan yang
teratur dan terencana yang dipergunakan seorang pendidik dalam penyampaikan
atau mentransformasikan materi pelajaran kepada peserta didik agar tujuan
pembelajaran yang ditentukan dapat mencapai dengan disertai perubahan tingkah
laku pada peserta didik.
Dalam sumber lain disebutkan bahwa metode
demonstrasi adalah suatu metode mengajar diaman seorang guru atau orang lain
yang sengajai diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas
tentang suatu proses atau suatu kaifiah melakukan sesuatu.[7]
2.
Tujuan metode demontrasi
Tujuan metode demonstrasi dalam proses belajar
mengajar adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara
melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu[8]. Metode
demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan
mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga
dapat mempelajari melalui proses[9]
Penggunaan metode demonstrasi dapat diterapkan
dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemostrasikan penggunaan alat atau
melaksanakan kegiatan tertentu seperti
kegiatan yang sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus memiliki
oleh guru dan pelatihan yang ditunjuk, setelah didemonstrasikan, siswa diberi
kesempatan melakukan latihan keretampilan seperti yang telah diperagakan oleh
guru atau pelatihan.[10]
3.
Metode demonstrasi dapat
dilaksanakan:
a. Manakala kegiatan
pembelajaran bersifat formal, magang, atau latihan kerja,
b. Bila materi pelajaran
berbentuk keterampilan gerak, petunjuk sederhana untuk melakukan keterampilan
dengan menggunakan bahasa asing, dan prosedur melaksanakan suatu kegiatan,
c. Manakala guru, pelatih,
instruktur bermaksud menyederhanakan penyelesaian kegiatan yang panjang, baik
yang menyangkut pelaksanaan suatau prosedur maupun dasar teorinya.
d. Pengajar bermaksud
menunjukkan suatu standar penampilan.
e. Untuk menumbuh motivasi siswa
tentang latihan/praktik yang kita laksanakan.
f. Untuk dapat mengurangi
kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan kegiatan hanya mendengar seramah
atau membaca di dalam buku, karena siswa memperoleh gambaran yang jelas dari
hasil pengamatannya.
g. Bila beberapa masalah yang
minimbulkan pertanyaan pada siswa dapat dijawab lebih teliti waktu proses
demonstrasi atau eksperieman
h. Bila siswa turut aktif
bereksperimen, maka ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman praktik untuk
mengembangkan kecakapan dan memperoleh pengakuan dan penghargaan dari
lingkungan sosial.
4.
Batas-batas metode
demonstrasi sebagai berikut:
a. Demonstrasikan akan merupakan
metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati
dengan seksama oleh siswa.
b. Demonstrasikan menjadi kurang
efektif bila tidak diikuti dengan sebuah aktivitas dimana para siswa sendiri
dapat ikut bereksperimen dan menjadikan aktivitas itu pengalaman pribadi.
c.
Tidak semua hal dapat
didemonstrasikan di dalam kelompok
d.
Kadang-kadang, bila suatu
alat dibawa ke dalam kelas kemudian didemonstrasikan, terjadi proses yang
berlainan dengan proses dalam situasi nyata.
e.
Manakala setiap orang diminta
mendemonstrasikan dapat menyita waktu yang banyak, dan membosankan bagi peserta
yang lain.[11]
5.
Model pembelajaran ini khusus
materi yang memerlukan peragaan atau percobaan. Berikut adalah Langkah-langkah demonstration:[12]
a.
Guru menyampaikan TPK.
(tujuan pembelajaran khusus)
b.
Guru menyajikan gambaran
sekilas materi yang akan disampaikan.
c.
Siapkan bahan atau alat yang
diperlukan
d.
Menunjukkan salah seorang
siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
e.
Seluruh siswa memerhatikan
demonstrasi dan menganalisis
f.
Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil
analisisnya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan
g.
Guru membuat kesimpulan.
Kelebihan
metode demonstrasi juga dikemukan yaitu:
kelebihan metode demonstrasi adalah:
a.
Perhatian peserta didik dapat
dipusatkan, dan titik berat yang dianggap penting oleh pendidik diamati.
b.
Perhatian peserta didik akan
lebih terpusat pada apa yang di demonstrasikan, jadi proses peserta didik akan
lebih teratah dan akan mengurangi perhatian peserta didik pada masalah lain.
c.
Dapat merangsang peserta
didik untuk lebih aktif dalam mengikuti proses belajar.
d.
Dapat menambah pengalaman
peserta didik.
e.
Bila membantu peserta didik
ingat lebih lama tentang materi yang disampaikan.
f.
Dapat mengurangi kesalah pahaman karena
pengajaran lebih jelas dan konkrit.
g.
Dapat menjawab semua masalah
yang timbul didalam setiap pikiran.
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah Classroom Action Ressearb (penelitian
tindakan kelas) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru dikelas tempat ia
mengajar dengan penekanan pada pross dan praksis pembelajaran, tujuan PTK
adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secra
berkesinambungan, sehingga meningkatkan mutu hasil instruksi, mengembangkan
keretampilan guru yang relevansi. Penelitian dilaksanakan di Mts Plus Taqwa
tahun pembelajaran 2019-2020 dalam jangka waktu 1 bulan yakni di bulan januari
2020, adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX.
Tehnik
Pengumpulan dan Analisis Data
Adapun teknik pengumpulan data menggunakan
tes dan observasi. Tes dilakukan pasa setiap akhir proses pembelajaran dengan
menggunakan instrumen soal. Soal yang diberikan berbentuk uraian. Observasi
dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan
instumen untuk melihat kegiatan siswa selama proses kegiatan pembelajaran
berlangsung. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif yang meliputi: analisis
deskriptif komparatif yakni dengan cara membandingkan hasil belajar siklus I
dan siklus II. Analisis kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan
hasil observasi siklus I dan siklus II.
Prosedur
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang
ditandai dengan adanya siklus. Dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus.
Adapaun langkah-langkah dalam Setiap siklus terdiri dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
1.
Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
adalah:
a. Membuat
rangcangan/perencanaan pembelajaran
b. Membuat
media pembelajaran berupa slide, nomor kepala dan sebagainya
c. Membuat
instrumen penilaian.
2.
Pelaksanaan
Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan seluruh kegiatan yang
telah dirancang/direncanakan sebelumnya.
3.
Pengamatan
Pada
tahap ini peneliti melakukan pengamatan terhadap siswa selama kegiatan
pembelajaran berlangsung untuk melihat aktifitas siswa.
4.
Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir kegiatan
pembelajaran untuk melihat/mengetahui hasil dari kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan. Hasil dari refleksi siklus I digunakan sebagai acuan untuk
melakukan perbaikan tindakan pada siklus II. Selanjutnya pada siklus II
melakukan perubahan tindakan pada proses pembelajaran terhadap kekurangan yang
terjadi pada siklus I, sehingga hasil dari kegiatan pembelajaran menjadi lebih
baik sesuai dengan yang diharapkan.
Hasil
Penelitian
Deskripsi
Pra Siklus
Pada
pelaksanaan pembelajaran fikih di siklus awal, peserta didik kurang
memperhatikan dan kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran dimana peserta
didik belum begitu aktif (bertanya, berdendapat, dan menanggapi) sehingga
penguasaan kompetensi dasar dan indikator belum tercapai. Hal ini dapat dilihat
pada hasil penilaian harian siswa pada tabel.
tabel 1
Tabel Rekap nilai hasil tes pra-siklus
|
No |
Hasi(Angka) |
ArtiLambang |
JumlahSiswa |
Persen |
|
1 |
90-100 |
SangatBaik |
2 |
16% |
|
2 |
75-89 |
Baik |
2 |
16% |
|
3 |
65-74 |
Cukup |
3 |
25% |
|
4 |
55-64 |
Kurang |
3 |
25% |
|
5 |
0-55 |
Sangat
Kurang |
2 |
16% |
|
Jumlah |
12 |
100% |
||
Pelaksanaan
pembelajaran Dibawah ini terpapar hasil belajar siswa dengan kondisi seperti
yang penulis uraikan di atas. Dari hasil tes penilaian sebagian besar siswa belum
mencapai ketuntasan belajar. Dari keseluruhan jumlah siswa hanya sebagian kecil
yang telah mencapai ketuntasan belajar, yakni 4 orang siswa (33%) selebihnya 8
(67%) tidak tuntas.
Tabel 2
Rekap hasil ketuntasan tes pra siklus
|
No |
Ketuntasan |
JumlahSiswa |
|
|
Jumlah |
Persen |
||
|
1 |
Tuntas |
4 |
33% |
|
2 |
TidakTuntas |
8 |
67% |
|
Jumlah |
12 |
100% |
|
Pada proses pemebelajaran berlangsung, sebagian
peserta didik ada yang kurang memperhatikan dan peserta didik kurang begitu
aktif dan semangat dalam mengkuti pelajaran, hal ini dimungkinkan karena model
pembelajaran yang digunakan sebelumnya belum bisa membangkitkan keaktifan dan
semangat peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan
pembelajaran pada pra siklus dengan model pembelajaran yang digunakan
berdasarkan hasil tes, sebagian besar peserta didik belum tuntas, dari
keseluruhan keseluruhan jumlah 12 siswa hanya sebagian 4 orrang siswa (33%)
yang belum mencapai ketuntasan belajar dan selebihnya 8 (67%) orang siswa yang
tuntas, tidak hanya itu pendidik kurang puas adanya nilai yang didapat pendidik
oleh karna itu perlu adanya sisklus 1 dan siklus II.
Deskripsi
Siklus 1
1.
Perencanaan tindakan
Perencanaan tindakan dalam
siklus I dapat diuraikan sebagai berikut :
Pemilihan
materi dan penyusunan RPP. Materi yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas
ini adalah hukum pinjam-meminjam kemudian disusun ke dalam RPP dengan alokasi
waktu sebanyak 2 x 40 menit. Pada siklus ini terjadi dua kali pertemuan.
2. Pelaksanaan tindakan
Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan dalah melaksanakan tindakan yang telah di
rumuskan pada RPP yang membahas materi tentang pinjam-meminjam. Model
pembelajaran yang ditetapkan adalah Demonstrasi. Adapun langkah-langkahnya
sebagai berikut:
a.
Guru menyampaikan TPK.
(tujuan pembelajaran khusus)
b.
Guru menyajikan gambaran
sekilas materi yang akan disampaikan.
c.
Siapkan bahan atau alat yang
diperlukan
d.
Menunjukkan salah seorang
siswa untuk mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
e.
Seluruh siswa memerhatikan
demonstrasi dan menganalisis
f. Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil
analisisnya dan juga pengalaman siswa didemonstrasikan
g.
Guru membuat kesimpulan.
Pelaksanaan
pembelajaran pada siklus I dilaksanakan sesuai
perencanaan yang telah disiapkan. Pada kegiatan ini sebelum siswa di
berikan materi maka terlebih dahulu diberikan upersepsi dan motivasi untuk
meningkatkann minat prestasi belajar
dengan menggunakan metode demonstrasi.
Tabel 3
Hasil rekapan nilai siklus I
|
No |
Hasil
(Angka) |
Arti
Lambang |
Jumlah
Siswa |
Persen |
|
1 |
85-100 |
Sangat Baik |
8 |
66% |
|
2 |
75-84 |
Baik |
3 |
25% |
|
3 |
65-74 |
Cukup |
- |
0% |
|
4 |
55-64 |
Kurang |
1 |
8% |
|
5 |
0-55 |
Sangat
Kurang |
- |
0% |
|
JUMLAH |
12 |
100% |
||
Menurut
tabel diatas dapat disimpulkan hasil nilai rekapan siklus satu siswa yang
mendapatkan nilai yang sangat baik berjumlah 8 (66%) sedangkan yang mendapatkan
nilai baik berjumalh 3 (25%) dan yang mendapatkan nilai kurang baik berjumlah 1
(8%) dari hasil siklus I ini kurang baik tapi sudah ada piningkatan hasil
belajar hanya saja hasil kurang memuaskan sehingga dibutuhkan siklus II.
Tabel 4
Hasil ketuntasan nilai siklus I
|
No |
Ketuntasan |
Jumlah
Siswa |
|
|
Jumlah |
Persen |
||
|
1 |
Tuntas |
11 |
92% |
|
2 |
Tidak
Tuntas |
1 |
8% |
|
Jumlah |
12 |
100% |
|
Pada
proses pembelajaran berlangsung, sebagian siswa ada yang kurang memperhatikan
dan siswa kurang begitu aktif dan semangat dalam mengikuti pelajaran, hal ini
dimungkinkan karena model pembelajran yang digunakan sebelumnyan belum bisa
membangkitkan keaktifan dan semangat siswa dalam proses pembelajaran
berlangsung. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan gambar
dan video berdasarkan hasil tes,
sebagian dasar siswa kurang
mencapaiketuntasan belajar dari keseluruhan siswa. Perencanaan pertemuan
ini peneliti telah mempersiapkan perangkatan pembelajaran yang terperinci dan
waktu pelaksanaannya, media dan strategi, untuk mendadakan pada peseta didik
semakin bermotivasi dalam pembelajaran fikih pinjam-meminjam.
Dari
hasil diskusi dengan pendidik yang lain perlu perbaikan dalam pengelolahan
proses mengajar dengan menggunakan metode untuk bimbingan pada anak yang kurang
aktif dan pasif. Hasil nilai ketuntasan di atas jumlah siswa yang tuntas
berjumlah 11 (92%) dan jumlah siswa yang tidak tuntas berjumlah 1 (8%).
3. Pengamatan
Menurut
pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus I prestasi peserta didik mulai
bertambah. Hanya saja hasil yang didapat kurang memuaskan dan membutuhkan
siklus II.
4.Refleksi
Denagn metode Demonstrasi pada
pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam siswa dapat merespon dan
memberi gagasan terhadap proses pembelajaran. Siswa secara mental dapat
mendemosnstrasikan materi yang disampaikan oleh pendidik.
Deskripsi
Siklus II
1.Perencanaan
tindakan
Perencanaan tindakan dalam
siklus II dapat diuraikan sebagai berikut :
Pemilihan
materi dan penyusunan RPP. Materi yang dipilih dalam penelitian tindakan kelas
ini adalah hukum pinjam-meminjam kemudian disusun ke dalam RPP dengan alokasi
waktu sebanyak 2 x 40 menit. Pada siklus ini terjadi dua kali pertemuan.
2. Pelaksanaan tindakan
Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan dalah melaksanakan tindakan yang telah di
rumuskan pada RPP yang membahas materi tentang pinjam-meminjam. Model
pembelajaran yang ditetapkan adalah Demonstrasi. Adapun langkah-langkahnya
sudah tercantum di siklus I.
Tabel 5
Hasil rekapan nilai siklus II
|
No |
Hasil
(Angka) |
Arti
Lambang |
Jumlah
Siswa |
Persen |
|
1 |
85-100 |
Sangat Baik |
10 |
84% |
|
2 |
75-84 |
Baik |
2 |
|
|
3 |
65-74 |
Cukup |
- |
0% |
|
4 |
55-64 |
Kurang |
- |
8% |
|
5 |
0-55 |
Sangat
Kurang |
- |
0% |
|
JUMLAH |
12 |
100% |
||
Menurut
tabel diatas dapat disimpulkan hasil nilai rekapan siklus II peserta didik yang
mendapatkan nilai yang sangat baik berjumlah 10 (84%) sedangkan yang
mendapatkan nilai baik berjumalah 2 (16%) pada siklus ini nilai sudah memuaskan
dan tidak membutuhkan siklus lagi.
Tabel 6
Hasil ketuntasan nilai siklus II
|
No |
Ketuntasan |
Jumlah
Siswa |
|
|
Jumlah |
Persen |
||
|
1 |
Tuntas |
12 |
100% |
|
2 |
Tidak
Tuntas |
- |
0% |
|
Jumlah |
12 |
100% |
|
Dari
nilai anak didik sudan mencapai 99% hasil ini menunjukkan bahwa prestasi siswa
sudah terjadi peningkatan dibandingkan pada siklus I dan peserta didik lebih
senang serta lebih mudah mengerjakan tugas yang diberikan pendidik. Berdasatkan
yang diperoleh dari pelaksanaan siklus I dan siklus II maka dapat dikatakan
bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini dapat kita lihat dari
hasil belajar siswa, aktivitas siswa pada saat mengikuti pembelajaran
berlangsung. Hasil belajar dan prestasi siswa kesemuanya tidak terlepas dari
pengunaan metode dan media bervariasai, sebagai upaya yang dilakukan pendidik
untuk meningkatkan prestasi belajar.
Berdasarkan
hasil di atas model Demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada
matapelajaran fikih materi pinjam-meminjam. Dengan catatan setiap pertemuan
dalam satu siklus harus memiliki berbagai modifikasi agar siswa memiliki
ketertarikan. Modifikasi dapat berupa soal, pembelajaran yang di sampaikan,
alat pembelajaran.
Menurut
tabel diatas hasil nilai ketuntasan pada siklus II peserta didik sudah mendapatkan nilai sesuai dengan yang
diharapkan. jumlah siswa yang tuntas berjumlah 12 (100%).
3. Pengamatan
Menurut
pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus II hasil prestasi peserta didik
sudah bertambah dan melihat dari tabel di atas peserta didik tidak lagi pasif.
4. Refleksi
Dengan
metode demonstrasi pada pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam
siswa dapat merespon dan memberi gagasan terhadap proses pembelajaran. Siswa
secara mental dapat mendemonstrasikan materi yang disampaikan oleh pendidik.
Pembahasan
Berdasarkan
analisis di atas dapat di simpulkan bahwa penggunaan maetode pengajaran
sangatlah berpengaruh pada minat belajar siswa karena dengan adanya metode demonstrasi
ini peneliti dapat melihat peningkatan prestasi belajar. dengan demikian
perbandingan hasil penilaian antara siklus I dengan siklus II dapat dilihat di
tabel di bawah ini .
Tabel 7
Perbandingan Hasil Tes Pra Siklus, Siklus I Dan Siklus II
|
NO |
Hasil
(Angka) |
Arti
Lambang |
Pra-siklus |
Siklus I |
Siklus II |
|
|
1 |
90-100 |
Sangat baik |
4 |
8 |
10 |
|
|
2 |
75-89 |
Baik |
7 |
3 |
2 |
|
|
3 |
65-74 |
Cukup |
3 |
- |
- |
|
|
4 |
55-64 |
Kurang |
3 |
1 |
- |
|
|
5 |
0-55 |
Sangat kurang |
2 |
- |
- |
Berdasarkan
data yang didapat dari pelaksanaan pra siklus, siklus I dan siklus I menunjukkan
adanya peningkatan yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa, dari
analisis pra siklus, siklus I dan siklus II membuktikan bahwa kelas IX
berjumlah 12 siswa secara keseluruhan atau klasikal telah tuntas belajarnya
diatas standar ketuntasan yang ditetapkan. Dan peneliti lebih banyak memberikan
arahan-arahan yang jelas pada proses pembelajaran, beberapa menit yang harus
diselesaikan untuk mengidentifikasi pernyataan yang diterima.
Tabel 8
Perbandingan Ketuntsan Nilai Rata Rata Pra
Siklus, Siklus I Dan Siklus II
|
No |
Tahap |
Jumlah
siswa |
Jumlah
sisiwa |
|
|
Tuntas |
Tidak
Tuntas |
|||
|
1 |
Pra-Siklus |
4 |
8 |
12 |
|
2 |
Siklus I |
11 |
1 |
12 |
|
3 |
Siklus II |
12 |
- |
12 |
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpuklan bahwa proses
pembelajaran pada pra siklus menunjukkan siswa masih pasif, siswa masih bekerja
individual, tidak tampak keaktivan yang muncul. Siswa terlihat kurang semangat
dan tidak memperhatikan secara benar dan tidak ada gairah dalam proses
pembelajaran.
Proses pembelajaran pada siklus I ini kurang baik tapi
sudah ada piningkatan hasil belajar hanya saja hasil kurang memuaskan, meskipun
belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dari pengamatan
peneliti setelah menggunakan silklus I prestasi peserta didik mulai bertambah
hanya saja hasil yang didapat kurang memuaskan, karena kegiatan pembelajaran
yang dilakukan tidak lagi pasif.
Proses pembelajaran pada siklus II sudah
menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam proses kegiatan pembelajaran.
Pengamatan peneliti setelah menggunakan silklus II hasil prestasi peserta didik
sudah bertambah dan melihat dari tabel di atas peserta didik tidak lagi pasif. metode
demonstrasi pada pembelajaran fikih kelas IX Materi pinjam-meminjam sangat
berpengaruh sehingga siswa dapat merespon dan memberi gagasan terhadap proses
pembelajaran. Siswa secara mental dapat mendemosnstrasikan materi yang
disampaikan oleh pendidik.
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah
penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa : Penerapan Metode Demonstrasi dapat
meningkatakan hasil dan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Fikih dengan
materi pinjam-meminjam kelas IX semester Genap MTs Plus Nurut Taqwa tahun
pelajaran 2019-2020.
Penerapan metode
Demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pelajaran Fikih
dengan materi hukum pinjam-meminjam kelas IX semester Genap MTs Plus Nurut
Taqwa tahun pelajaran 2019-2020. yang dibuktikan dengan hasil prestasi belajar.
Saran
Bagi pendidik, untuk mencapai kualitas
proses belajar mengajar dan kualitas prestasi belajar yang baik dalam
pembelajaran dengan metode Demonstrasi diperlukan persiapkan perangkat
pembelajaran yang cukup memadai.
Daftar
Pustaka
Suryabrata,
Sumadi. psikologi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014.
W.J.S,
Poerwadarminto. kamus umum bahasa indonesia.Jakarta: Balai Pustaka,1985.
Majid,
Abdul. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014.
Yatim,
Riyanto. Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya: SIC, 2001.
Syah,
Muhibbin. psikologi pendidikan. Bandung:PT Remaja rosdakarya, 2017.
Yamin,
Martinis. strategi pembelajaran berbasis kompetensi. Juanda: Ciputa, 2012.
Ghofir
Abdul, Zuhairi. metodelogi pembelajaran PAI. UM Press: Malang, 2004
Syah, Muhibbin. psikologi Pendidikan dengan pendekatan
Baru. Bandung: Remaja Rosda, 2000.
Anitah,
Sri, dkk, Strategi Pembelajaran di SD, Jakarta: Universitas Terbuka,
2012.
Aqib, Zainal. Model-model, Media, dan Strategi
Pembelajaran Kontekstual Inovatif. Bandung: Yrama Widya, 2017.
Derajat
Zakiah.Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. 297.
[1] Sumadi Suryabrata, psikologi pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2014),hlm.9.
[2] Poerwadarminto, W,J,S, kamus umum bahasa indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1985),hlm.768.
[3] Riyanto, Yatim, Metode Penelitian Pendidikan, (surabaya: SIC,2001),hlm.3
[4] Abdul Majid , Pembelajaran Tematik Terpadu, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2014),hlm.7.
[5] Martinis Yamin, strategi pembelajaran berbasis kompetensi (Juanda :Ciputa,2012),hlm.96.
[6] Muhibbin Syah, psikologi pendidikan (Bandung:PT Remaja rosdakarya,2017),hlm.87.
[7] Zuhairi dan Abdul Ghofir, metodelogi pembelajaran PAI, (UM Press, Malang, 2004).hlm.67
[8] Muhibbin syiah, psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, (Remaja Rosda Bandung, 2000),hlm.208
[9] Sri Anitah,dkk, Strategi Pembelajaran di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2012), hlm.25.
[10] Ibid,hlm.65.
[11] Ibid,hlm.66-67.
[12] Zainal Aqib, Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual Inovatif (Bandung: Yrama Widya, 2017), 29.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment